Ke Rumah Makan (Going to a Restaurant)

A: Permisi. Apakah ada rumah makan yang enak di sini?

A: Excuse me. Are there any good restaurants in here?

B: Ya, tergantung. Masakan apa yang Anda sukai?

B: Yes, it depends. What sort of food do you like?

A: Oh, saya lebih suka masakan asia.

A: Well, I prefer Asian food.

A: Apakah ada rumah makan cina yang enak di sini?

A: Is there a good Chinese restaurant in here?

B: Ya, ada satu di Blackburn Road. Namanya Palm Restaurant.

B: Yes, there is one in Blackburn Road. It’s called the Palm Restaurant.

B: Rumah makan itu masih baru tetapi sudah sangat terkenal karena mereka menyajikan masakan malaysia, masakan cina dan masakan india.

B: It’s a new restaurant but it’s already very popular because they serve Malaysian food, Chinese food and Indian food.

A: Bagaimana tentang harga-harganya?

A: What are the prices like there?

B: Saya kira tidak terlalu mahal.

B: I think they are not too expensive.

B: Apakah Anda suka makanan cina?

B: Do you like Chinese food?

A: Ya, saya suka makan mi bakso.

A: Yes, I like noodle soup.

B: Sebaiknya Anda coba dulu Grand Tofu. Mi baksonya enak sekali dan pilihannya banyak.

B: You should try the Grand Tofu. Their noodle soups are very nice and there are plenty of choices.

B: Letaknya dekat dari sini. Di samping perpustakaan. Anda tahu di mana itu?

B: It’s close from here. It’s beside the library. Do you know where that is?

A. Sayang sekali, tidak. Di mana ya?

A. Unfortunately, no. Where is it?

B: Jalanlah terus lalu belok ke kanan. Nama jalan itu Kingsway. Banyak toko sepanjang jalan itu. Jalanlah terus ke arah perpustakaan. Grand Tofu sebelum perpustakaan.

B: Go straight and then turn right. The name of that street is Kingsway. Many shops along the street. Walk straight towards the library. Grand Tofu just before the library.

B: Selamat makan mi bakso!

B: Enjoy your noodle soup!

A: Terima kasih banyak.

A: Thanks a lot.

Boleh dikatakan bahwa saya sudah cukup tua ketika memulai berkebun di halaman rumah sendiri. Pertama-tama, perhatian saya adalah membenahi tanaman-tanaman yang sudah ada baik di halaman depan rumah maupun di halaman belakang. Kemudian saya rajin sekali membeli tanaman tambahan. Saya tidak sangka bahwa tanah di halaman saya tidak subur. Banyak sekali tambahan tanah dan kompos dibeli untuk menyuburkan tanah. Tapi apa daya, tanaman yang baru dibeli dan ditanam di halaman depan rumah bermatian. Baru kemudian saya tahu bahwa pohon besar yang tumbuh di jalur hijau pinggir jalan di depan rumah saya meminum banyak sekali air sehingga walaupun tanaman yang baru ditanam sering disiram tetap saja kekeringan. Akhirnya tanaman dibongkar lagi dan ditanam di pot-pot.

Ketika saya membenahi halaman belakang rumah, saya masih terfokuskan pada menanam lebih banyak tanaman bunga. Hingga pada suatu hari, anak saya yang tertua berkata: “Mommy, please plant something that can bear fruit.” Ketika saya tanya, dia menginginkan saya untuk menanam pohon jeruk mandarin. Saya juga membeli pohon plum. Sedangkan pohon apricot sudah ada di halaman belakang yang ditanam ketika kami pindah ke rumah kami sebagai hadiah dari teman baik bersama pohon cherry guava. Memanglah, setelah pohon-pohon berbuah ada kesukaannya tersendiri.

Dilain pihak, suami suka bereksperimen dengan tanaman. Pernah dia menanam berbagai jenis stroberi, berbagai jenis cabai, berbagai jenis tomat kecil tetapi yang langgeng adalah tanaman sayuran. Untunglah, karena kami mempunyai tangki air hujan sehingga membantu sekali untuk menyiram sayur-sayuran yang ditanam.

Ternyata, mempunyai kebun sayuran walaupun kecil-kecilan sangatlah menyenangkan. Bayangkan, sayuran segar yang dibeli dari pasar tidak akan tahan lama disimpan di kulkas. Tidak mungkin bagi saya untuk pergi ke pasar atau pasar swalayan setiap dua hari sekali. Pada waktu kehabisan sayur untuk dimasak, memetik sayuran di halaman belakang untuk hari itu akan menolong sekali.

Oleh karena itu, tanaman yang bisa dimakan untuk ditanam akan lebih baik kalau dari jenis daun-daun untuk membuat salad atau sayuran asia seperti bok coy, silver beet dan kawan-kawannya. Juga kebun dapur seperti menanam tanaman bumbu seperti daun bawang, daun seledri dan kawan-kawannya. Kalau ada kelebihan hasil panen, kita bisa membagikannya dengan teman-teman. Atau, kalau ada undangan makan dari teman, kita bisa memasak sayurnya dan membawanya sebagai makanan bawaan kita.

Di Trem (On a Tram)

A: Permisi. Bolehkah saya duduk di sini?

A: Excuse me. Can I sit here?

B: Ya, tentu saja. Tempat duduk ini kosong.

B: Yes, of course. This seat is free.

B: Anda mau ke mana?

B: Where are you going?

A: Saya mau ke kebun binatang di Flemington.

A: I am going to the zoo in Flemington.

B: Oh. Saya juga mau ke sana.

B: Oh. I am going there too.

A: Kamu tinggal di sana?

A: Do you live there?

B: Tidak. Saya bekerja di Royal Children’s Hospital.

B: No. I work at the Royal Children’s Hospital.

B: Saya seorang perawat.

B: I am a nurse.

A: Pada jam berapa kerjanya?

A: What time is your work?

B: Saya mulai kerja dari jam empat sore.

B: I start work from four o’clock.

A: Kamu mau cokelat?

A: Would you like a chocolate?

B: Tidak, terima kasih. Saya kurang suka cokelat.

B: No, thanks. I don’t like chocolate.

B. Apakah kamu dari luar negeri?

B. Are you from overseas?

A: Ya, saya dari Jakarta. Saya sedang berlibur di sini.

A: Yes, I am from Jakarta. I am holidaying in here.

B: Kebun binatangnya ada di pemberhentian berikut. Maaf, saya harus turun di sini. Selamat bersenang-senang!

B: The zoo is at the next stop. Sorry, I must get off in here. Have fun!

A: Terima kasih. Semoga hari yang baik juga di tempat kerja!

A: Thank you. Have a good day at work too!

Bercakap-cakap tentang pergi ke kebun binatang (Talking about going to the zoo)

A: Apakah ada kebun binatang di kota ini?

A: Is there any zoo in this city?

B: Ya, tentu saja. Tidak jauh. Anda bisa pergi ke sana naik trem.

B: Yes, of course. It’s not far. You can go there by tram.

B: Letaknya di ujung kota sebelah sana. Kira-kira sepuluh kilometer dari sini.

B: It’s on the other side of town. It’s only about ten kilometres from here.

A: Dari mana berangkatnya tremnya?

A: Where does the tram leave from?

B: Tremnya berangkat dari Flinders Street.

B: The tram leaves from Flinders Street.

A: Berapa harga karcisnya?

A: How much does the fare cost?

B: Harganya dua dolar empat puluh sen.

B: The fare costs two dollars and forty cents.

B: Kalau mau, Anda bisa naik taksi, tetapi ongkosnya akan mahal sekali.

B: You can take a taxi if you like, but the cost will be very expensive.

A: Dan kapan sebaiknya pergi? Apakah tempat itu selalu ramai?

A: And what’s the best to go? Is It always crowded?

B. Pada tiap akhir minggu ramai sekali karena banyak keluarga muda dengan anak-anak yang pergi ke sana.

B. It’s very crowded during weekends because lots of young family with children go there.

B: Sebaiknya, Anda pergi pada hari-hari biasa. Pada sore hari enak dan tenang.

B: You should go during weekdays. It’s nice and quiet in the afternoons.

B: Kebun binatangnya bagus sekali. Kecil, tetapi banyak yang dapat dilihat.

B: It’s a very nice zoo. It’s small, but there’s lots to see.

B: Saya sering ke sana bersama teman-teman. Kami senang melihat kupu-kupu dan burung-burung.

B: I often go there with my friends. We like to watch the butterflies and birds.

Dibesarkan sebagai seorang anak kota dari sebuah keluarga pedagang, hidup tidaklah terlalu susah. Sesibuk-sibuknya ibu yang mempunyai sebuah toko kain di pusat pasar, beliau masih sempat berbelanja untuk keperluan dapur walaupun tidak setiap hari. Beliau mempunyai beberapa pembantu rumah tangga yang bertugas memasak, mengerjakan tugas-tugas rumah dan mengurus kami, delapan orang anak. Kalau ibu tidak sempat, ibu memberikan perintah tentang menu yang harus dimasak oleh pembantu pada hari itu dan memerintahkan bahan-bahan utama apa yang harus dibeli dari pasar.

Pada akhir pekan, biasanya ibu mengajak saya, putri tertuanya, untuk menemaninya berbelanja ke pasar. Terkadang saya merasa malas untuk pergi bersama ibu. Kami tidak hanya berbelanja keperluan dapur tetapi juga berbelanja macam-macam keperluan dari sepatu, keperluan sekolah hingga pakaian bak layaknya orang yang berbelanja di pusat perbelanjaan saat ini. Sebagai upah saya menemani ibu, kami pasti singgah di tempat penjualan makanan seperti ‘food court’-nya dan makan di sana. Yang paling sering adalah makan ‘mi pangsit’ (noodle soup with wonton). Ini juga yang membuat hubungan saya dengan ibu dekat.

Satu hal yang menarik adalah menjelang hari-hari penting umat Kristen seperti Hari Paskah, Hari Natal dan Tahun Baru, ibu pasti membeli bunga segar di pasar. Tapi beliau tidak pernah merangkai bunga-bunga yang dibeli itu. Jikalau tidak saya maka pembantu yang menaruhnya di vas bunga.

Biasanya, saya senang sekali melihat bunga di vas yang diletakkan di atas meja tamu di ruang duduk. Apalagi kalau bunga-bunga tersebut harum baunya. Kalau sudah layu, maka bunga-bunga yang menghiasi rumah adalah bunga artifisial yang sering disebut dengan ‘bunga plastik’.

Sesungguhnya saya tidak pernah berpikir untuk membenci bunga plastik, hingga pada suatu hari saya menonton acara televisi Oprah Winfrey di mana dia mengatakan bahwa dia benci rangkaian bunga artifisial. Katanya, kalau tidak ada bunga segar, lebih baik menghias meja, pada khususnya meja makan atau meja dapur, dengan jeruk lemon.

Wah! Sejak saat itu, saya pun ikut-ikutan tidak menyukai rangkaian bunga artifisial walaupun zaman sekarang bunga-bunga artifisial banyak yang cantik sekali dan tidak terbuat dari plastik lagi tetapi kain sutra.

Untunglah saya sekarang tinggal di Melbourne. Walaupun memerlukan banyak tenaga dan biaya, berkebun bunga di Melbourne sangat memuaskan karena tanaman yang ditanam jarang mati dan berbunga. Saya senang merangkai bunga sederhana di vas untuk meja makan di rumah. Tidak harus membeli bunga segar dari toko ataupun pasar. Cukup menggunakan bunga yang ada di halaman rumah.