Iklim & Musim (Climate & Seasons)

A: Apakah kamu sudah dengar prakiraan cuaca?

A: Have you heard the weather forecast?

B: Ya, saya sudah. Hari ini baik dingin maupun mendung. Akan turun hujan.

B: Yes, I have. Today is both cold and overcast. It’s going to rain.

A: Saya pikir begitu juga. Lihatlah awan itu. Mungkin akan ada angin kencang.

A: I thought so. Look at those clouds. Perhaps there will be a storm.

A: Apakah sering hujan di sini?

A: Does it rain often here?

B: Ya, pada musim dingin ada banyak hujan.

B: Yes, it rains a lot in winter.

B: Tetapi tidak ada salju.

B: But there is no snow.

B: Hanya tahun yang lalu ada salju di Mt Dandenong.

B: Only last year it snowed in Mt Dandenong.

A: Apakah musim panas menyenangkan di sini?

A: Is the summer nice here?

B: Ya, begitulah. Udaranya panas tetapi tidak lembab.

B: Yes, it is. It’s hot but not humid.

B: Terkadang ada angin sejuk berhembus dan hampir tidak pernah hujan di musim panas.

B: Sometimes there is a pleasant breeze and it hardly ever rains in summer.

A. Berapa lamanya musim panas?

A. How long does the summer last?

B: Lamanya tiga bulan.

B: It lasts for three months.

B: Musim di Australia kebalikan dari musim di belahan utara.

B: Australia’s seasons are at opposite times to those in the northern hemisphere.

B: Musim semi mulai pada bulan September. Musim semi membawa bunga yang berwarna-warni di sini.

B: The spring starts in September. Spring brings a lots of colourful flowers in here.

A: Kapan musim dingin mulai?

A: When does the winter start?

B: Musim dingin biasanya mulai pada bulan Juni.

B: It’s usually starts in June.

A: Kemana orang pergi untuk bermain ski pada musim dingin?

A: Where do people go to play a sky in winter?

B: Mereka harus pergi ke gunung-gunung. Yang terdekat adalah Lake Mountain tetapi yang terkenal adalah Mt Buller yang jauhnya kira-kira empat jam naik mobil dari kota.

B: They have to go to the mountains. The closest one is Lake Mountain but the popular one is Mt Buller which is about four hour drive from the city.

Ke Rumah Makan (Going to a Restaurant)

A: Permisi. Apakah ada rumah makan yang enak di sini?

A: Excuse me. Are there any good restaurants in here?

B: Ya, tergantung. Masakan apa yang Anda sukai?

B: Yes, it depends. What sort of food do you like?

A: Oh, saya lebih suka masakan asia.

A: Well, I prefer Asian food.

A: Apakah ada rumah makan cina yang enak di sini?

A: Is there a good Chinese restaurant in here?

B: Ya, ada satu di Blackburn Road. Namanya Palm Restaurant.

B: Yes, there is one in Blackburn Road. It’s called the Palm Restaurant.

B: Rumah makan itu masih baru tetapi sudah sangat terkenal karena mereka menyajikan masakan malaysia, masakan cina dan masakan india.

B: It’s a new restaurant but it’s already very popular because they serve Malaysian food, Chinese food and Indian food.

A: Bagaimana tentang harga-harganya?

A: What are the prices like there?

B: Saya kira tidak terlalu mahal.

B: I think they are not too expensive.

B: Apakah Anda suka makanan cina?

B: Do you like Chinese food?

A: Ya, saya suka makan mi bakso.

A: Yes, I like noodle soup.

B: Sebaiknya Anda coba dulu Grand Tofu. Mi baksonya enak sekali dan pilihannya banyak.

B: You should try the Grand Tofu. Their noodle soups are very nice and there are plenty of choices.

B: Letaknya dekat dari sini. Di samping perpustakaan. Anda tahu di mana itu?

B: It’s close from here. It’s beside the library. Do you know where that is?

A. Sayang sekali, tidak. Di mana ya?

A. Unfortunately, no. Where is it?

B: Jalanlah terus lalu belok ke kanan. Nama jalan itu Kingsway. Banyak toko sepanjang jalan itu. Jalanlah terus ke arah perpustakaan. Grand Tofu sebelum perpustakaan.

B: Go straight and then turn right. The name of that street is Kingsway. Many shops along the street. Walk straight towards the library. Grand Tofu just before the library.

B: Selamat makan mi bakso!

B: Enjoy your noodle soup!

A: Terima kasih banyak.

A: Thanks a lot.

Boleh dikatakan bahwa saya sudah cukup tua ketika memulai berkebun di halaman rumah sendiri. Pertama-tama, perhatian saya adalah membenahi tanaman-tanaman yang sudah ada baik di halaman depan rumah maupun di halaman belakang. Kemudian saya rajin sekali membeli tanaman tambahan. Saya tidak sangka bahwa tanah di halaman saya tidak subur. Banyak sekali tambahan tanah dan kompos dibeli untuk menyuburkan tanah. Tapi apa daya, tanaman yang baru dibeli dan ditanam di halaman depan rumah bermatian. Baru kemudian saya tahu bahwa pohon besar yang tumbuh di jalur hijau pinggir jalan di depan rumah saya meminum banyak sekali air sehingga walaupun tanaman yang baru ditanam sering disiram tetap saja kekeringan. Akhirnya tanaman dibongkar lagi dan ditanam di pot-pot.

Ketika saya membenahi halaman belakang rumah, saya masih terfokuskan pada menanam lebih banyak tanaman bunga. Hingga pada suatu hari, anak saya yang tertua berkata: “Mommy, please plant something that can bear fruit.” Ketika saya tanya, dia menginginkan saya untuk menanam pohon jeruk mandarin. Saya juga membeli pohon plum. Sedangkan pohon apricot sudah ada di halaman belakang yang ditanam ketika kami pindah ke rumah kami sebagai hadiah dari teman baik bersama pohon cherry guava. Memanglah, setelah pohon-pohon berbuah ada kesukaannya tersendiri.

Dilain pihak, suami suka bereksperimen dengan tanaman. Pernah dia menanam berbagai jenis stroberi, berbagai jenis cabai, berbagai jenis tomat kecil tetapi yang langgeng adalah tanaman sayuran. Untunglah, karena kami mempunyai tangki air hujan sehingga membantu sekali untuk menyiram sayur-sayuran yang ditanam.

Ternyata, mempunyai kebun sayuran walaupun kecil-kecilan sangatlah menyenangkan. Bayangkan, sayuran segar yang dibeli dari pasar tidak akan tahan lama disimpan di kulkas. Tidak mungkin bagi saya untuk pergi ke pasar atau pasar swalayan setiap dua hari sekali. Pada waktu kehabisan sayur untuk dimasak, memetik sayuran di halaman belakang untuk hari itu akan menolong sekali.

Oleh karena itu, tanaman yang bisa dimakan untuk ditanam akan lebih baik kalau dari jenis daun-daun untuk membuat salad atau sayuran asia seperti bok coy, silver beet dan kawan-kawannya. Juga kebun dapur seperti menanam tanaman bumbu seperti daun bawang, daun seledri dan kawan-kawannya. Kalau ada kelebihan hasil panen, kita bisa membagikannya dengan teman-teman. Atau, kalau ada undangan makan dari teman, kita bisa memasak sayurnya dan membawanya sebagai makanan bawaan kita.

Di Trem (On a Tram)

A: Permisi. Bolehkah saya duduk di sini?

A: Excuse me. Can I sit here?

B: Ya, tentu saja. Tempat duduk ini kosong.

B: Yes, of course. This seat is free.

B: Anda mau ke mana?

B: Where are you going?

A: Saya mau ke kebun binatang di Flemington.

A: I am going to the zoo in Flemington.

B: Oh. Saya juga mau ke sana.

B: Oh. I am going there too.

A: Kamu tinggal di sana?

A: Do you live there?

B: Tidak. Saya bekerja di Royal Children’s Hospital.

B: No. I work at the Royal Children’s Hospital.

B: Saya seorang perawat.

B: I am a nurse.

A: Pada jam berapa kerjanya?

A: What time is your work?

B: Saya mulai kerja dari jam empat sore.

B: I start work from four o’clock.

A: Kamu mau cokelat?

A: Would you like a chocolate?

B: Tidak, terima kasih. Saya kurang suka cokelat.

B: No, thanks. I don’t like chocolate.

B. Apakah kamu dari luar negeri?

B. Are you from overseas?

A: Ya, saya dari Jakarta. Saya sedang berlibur di sini.

A: Yes, I am from Jakarta. I am holidaying in here.

B: Kebun binatangnya ada di pemberhentian berikut. Maaf, saya harus turun di sini. Selamat bersenang-senang!

B: The zoo is at the next stop. Sorry, I must get off in here. Have fun!

A: Terima kasih. Semoga hari yang baik juga di tempat kerja!

A: Thank you. Have a good day at work too!

Bercakap-cakap tentang pergi ke kebun binatang (Talking about going to the zoo)

A: Apakah ada kebun binatang di kota ini?

A: Is there any zoo in this city?

B: Ya, tentu saja. Tidak jauh. Anda bisa pergi ke sana naik trem.

B: Yes, of course. It’s not far. You can go there by tram.

B: Letaknya di ujung kota sebelah sana. Kira-kira sepuluh kilometer dari sini.

B: It’s on the other side of town. It’s only about ten kilometres from here.

A: Dari mana berangkatnya tremnya?

A: Where does the tram leave from?

B: Tremnya berangkat dari Flinders Street.

B: The tram leaves from Flinders Street.

A: Berapa harga karcisnya?

A: How much does the fare cost?

B: Harganya dua dolar empat puluh sen.

B: The fare costs two dollars and forty cents.

B: Kalau mau, Anda bisa naik taksi, tetapi ongkosnya akan mahal sekali.

B: You can take a taxi if you like, but the cost will be very expensive.

A: Dan kapan sebaiknya pergi? Apakah tempat itu selalu ramai?

A: And what’s the best to go? Is It always crowded?

B. Pada tiap akhir minggu ramai sekali karena banyak keluarga muda dengan anak-anak yang pergi ke sana.

B. It’s very crowded during weekends because lots of young family with children go there.

B: Sebaiknya, Anda pergi pada hari-hari biasa. Pada sore hari enak dan tenang.

B: You should go during weekdays. It’s nice and quiet in the afternoons.

B: Kebun binatangnya bagus sekali. Kecil, tetapi banyak yang dapat dilihat.

B: It’s a very nice zoo. It’s small, but there’s lots to see.

B: Saya sering ke sana bersama teman-teman. Kami senang melihat kupu-kupu dan burung-burung.

B: I often go there with my friends. We like to watch the butterflies and birds.

Dibesarkan sebagai seorang anak kota dari sebuah keluarga pedagang, hidup tidaklah terlalu susah. Sesibuk-sibuknya ibu yang mempunyai sebuah toko kain di pusat pasar, beliau masih sempat berbelanja untuk keperluan dapur walaupun tidak setiap hari. Beliau mempunyai beberapa pembantu rumah tangga yang bertugas memasak, mengerjakan tugas-tugas rumah dan mengurus kami, delapan orang anak. Kalau ibu tidak sempat, ibu memberikan perintah tentang menu yang harus dimasak oleh pembantu pada hari itu dan memerintahkan bahan-bahan utama apa yang harus dibeli dari pasar.

Pada akhir pekan, biasanya ibu mengajak saya, putri tertuanya, untuk menemaninya berbelanja ke pasar. Terkadang saya merasa malas untuk pergi bersama ibu. Kami tidak hanya berbelanja keperluan dapur tetapi juga berbelanja macam-macam keperluan dari sepatu, keperluan sekolah hingga pakaian bak layaknya orang yang berbelanja di pusat perbelanjaan saat ini. Sebagai upah saya menemani ibu, kami pasti singgah di tempat penjualan makanan seperti ‘food court’-nya dan makan di sana. Yang paling sering adalah makan ‘mi pangsit’ (noodle soup with wonton). Ini juga yang membuat hubungan saya dengan ibu dekat.

Satu hal yang menarik adalah menjelang hari-hari penting umat Kristen seperti Hari Paskah, Hari Natal dan Tahun Baru, ibu pasti membeli bunga segar di pasar. Tapi beliau tidak pernah merangkai bunga-bunga yang dibeli itu. Jikalau tidak saya maka pembantu yang menaruhnya di vas bunga.

Biasanya, saya senang sekali melihat bunga di vas yang diletakkan di atas meja tamu di ruang duduk. Apalagi kalau bunga-bunga tersebut harum baunya. Kalau sudah layu, maka bunga-bunga yang menghiasi rumah adalah bunga artifisial yang sering disebut dengan ‘bunga plastik’.

Sesungguhnya saya tidak pernah berpikir untuk membenci bunga plastik, hingga pada suatu hari saya menonton acara televisi Oprah Winfrey di mana dia mengatakan bahwa dia benci rangkaian bunga artifisial. Katanya, kalau tidak ada bunga segar, lebih baik menghias meja, pada khususnya meja makan atau meja dapur, dengan jeruk lemon.

Wah! Sejak saat itu, saya pun ikut-ikutan tidak menyukai rangkaian bunga artifisial walaupun zaman sekarang bunga-bunga artifisial banyak yang cantik sekali dan tidak terbuat dari plastik lagi tetapi kain sutra.

Untunglah saya sekarang tinggal di Melbourne. Walaupun memerlukan banyak tenaga dan biaya, berkebun bunga di Melbourne sangat memuaskan karena tanaman yang ditanam jarang mati dan berbunga. Saya senang merangkai bunga sederhana di vas untuk meja makan di rumah. Tidak harus membeli bunga segar dari toko ataupun pasar. Cukup menggunakan bunga yang ada di halaman rumah.

Tidak jarang orang menjadi urung memelihara taman atau berkebun karena bingung mau membuat taman yang seperti apa. Malah mendengar cerita orang yang menyewa perancang lansekap taman halaman rumahnya yang mahal sekali, membuat hati bertambah ciut.

Sebenarnya membuat taman yang indah bisa mahal dan bisa juga murah sih. Hal itu tergantung!

Ada beberapa gaya taman: formal, informal (atau sering juga disebut sebagai cottage garden), native garden, japanese dan dry.

Formal Garden

Gaya taman ini sangat kaku karena tanaman-tanaman yang simetris dan terencana, Rumputnya terawat rapih. Tanaman bunganya seragam. Tanaman pagarnya selalu dipangkas rapi. Semuanya memberi kesan yang anggun. Cocok untuk gedung-gedung megah dan istana-istana.

Informal Garden

Nah ini gaya yang boleh dikatakan bahwa pada awalnya tidak sengaja. Kalau sejarahnya tuan-tuan tanah zaman dulu di Eropa tinggal di gedung-gedung megah yang mempunyai taman bergaya formal, pegawainya yang memelihara gedung-gedung megah itu tinggal di lahan tuannya di rumah-rumah kecil yang disebut cottage. Mungkin karena capai atau bagaimana, mereka sering membawa bibit atau tanaman bunga yang tidak terpakai lagi di rumah tuan mereka dan menanamnya sembarangan saja di dekat cottage mereka. Tetapi, karena memang tanaman-tanaman tersebut indah dan tentunya dipelihara oleh tangan yang sama sehingga terlihat sangat indah. Malah sering dianggap lebih romantis.

Jadi, tanaman bunga ditanam menyebar di seluruh halaman tetapi dipertimbangkan tingginya sehingga tidak terlihat seperti semak belukar.

Native Garden

Intinya, taman ini meniru keadaan alam secara natural. Yang ditanam adalah pohon-pohon tinggi asli yang ada di sekitarnya dan tanaman bunga yang besar dan tinggi. Tanaman penutup tanahnya adalah tanaman daun atau bunga yang bisa diinjak dan tidak gampang mati, sama halnya seperti rumput. Sehingga tidak perlu pemeliharaan yang makan waktu dan tenaga banyak. Terlebih lagi, tidak perlu memotong rumput.

Japanese Garden

Yang penting diperhatikan untuk gaya taman Jepang ini adalah kesimpelannya, anggun tapi hati-hati sekali. Tidak ada tanaman bunga yang warna bunganya sangat mencolok mata. Tidak ada tanaman pohon yang tingginya dominan. Biasanya tanaman pohon yang ditanam adalah sebuah pohon yang memberi aksen seperti statue (patung) dan yang lainnya adalah tanaman yang tidak tinggi, tanaman penutup tanah dan pasir serta kerikil-kerikil yang dirancang secara hati-hati sekali. Jadi halamannya tidak terkesan penuh. Selain tanaman yang beraksenkan patung juga sering ada kolam air dan patung-patung pagoda.

Dry Garden

Karena cuaca semakin ekstrim dan kurang hujan sehingga terciptalah gaya taman yang tanamannya didominasi oleh tanaman kaktus dan tanaman pencinta panas terik. Tidak jarang, bertemakan pantai juga. Sehingga kombinasi tanaman kaktus, batu-batuan, pasir serta kerang-kerangan terlihat indah sekali.

Ini hanya beberapa yang umum saja karena ada juga taman yang bergaya bali, mediterania dan urban garden. Sesungguhnya berkebun adalah sebuah seni. Seseorang berkata bahwa halaman kita itu bak canvasnya dan terserah kitalah bagaimana melukisnya. Jadi tidak perlu takut berkebun dan juga tidak perlu tiru-tiru orang lain karena itu halaman kita dan kita adalah sang pelukisnya.

Sony Simanjuntak
Awal Januari 2019

Percakapan Telepon (Telephone Conversation)

A: Halo. A: Hello.
B: Malam Om. Gunawan ada? B: Good evening Om. Is Gunawan there, please?
A: Nggak ada. Maaf, dia sedang keluar. A: No. I am sorry, he is out.
A: Dengan siapa ini? A: Who’s this, please?
B: Tini di sini. B: It’s Tini, here.
A: Apakah ada pesan, Tini? A: Do you want to leave a message, Tini?
B: Apakah Gunawan akan segera pulang? B: Will Gunawan be back soon?
A: Saya kurang pasti. Dia pergi ke mal untuk beli kertas fotokopi. A: I am not sure. He goes to a mal to buy photocopy papers.
A: Saya kira dia akan pulang dalam sejam. A: I think, he will be back in an hour.
B: Nah. Saya akan menelepon lagi nanti. A: Now, I’ll call back later then.
A: Baiklah. Saya akan bilang ke Gunawan bahwa kamu telepon. B: All right. I’ll tell Gunawan that you called.
B: Makasih. Sampai jumpa. B: Thank you. Good bye.
C: Siapa itu tadi? Apakah itu untuk saya? C: Who was that? Was it for me?
A: Bukan.Untuk Gunawan. Dari Tini. A: Not. It was for Gunawan. It was Tini.
C: Siapa dia? Teman Gunawan? C: Who is she? Is she a friend of Gunawan’s
A: Ah, kamu nggak ingat lagi ya? A: Oh, don’t you remember?
A: Dia adalah teman baru Gunawan. Dia baru saja pindah ke sini dari Jakarta. Orangnya sangat manis dan juga pandai. A: She is Gunawan’s new friend. She’s just moved here from Jakarta. She is very sweet and clever too.
C: Oh ya. Saya teringat sekarang. Dia teman sekelas Gunawan di sekolah. C: Oh, yes. Now, I remember. She is in Gunawan’s class at school.

Om (inf) = Paman
nggak (inf) = tidak

beli (inf) = membeli

bilang (inf) = mengatakan

telepon (inf) = menelepon

makasih (inf) = terima kasih

Di Tempat Kerja (At Work)

A: Sebentar lagi, saya harus tidur. A: Soon, I must go to bed.
B: Jam berapa biasanya kamu mulai kerja? B: What time do you usually start work?
A: Biasanya, saya mulai pada jam setengah sembilan. A: I usually start at half past eight?
B: Bagaimana kamu pergi kerja? B: How do you go to work?
A: Saya selalu berjalan kaki. Tempatnya tidak jauh. A: I always walk. It isn’t far.
B: Apakah kamu bekerja di sebuah toko? B: Do you work in a shop?
A: Tidak. Saya bekerja di sebuah bank. A: No. I work in a bank.
B: Apakah pekerjaan itu menarik? B: Is it an interesting job?
A: Ya, dan cukup baik bayarannya. A: Yes, and it’s quite well paid.
A: Saya bertemu dengan banyak orang yang menarik dan karyawan serta pimpinannya ramah-ramah. A: I meet a lot of interesting people, and the staffs as well as the manager are friendly.
B: Bagian yang mana yang kamu kerjakan? B: What section do you work in?
A: Saya bekerja di bagian penukaran uang.
Banyak wisatawan datang ke bank. Mereka datang untuk menukarkan uang.
A: I work in the money changing.
Lots of tourists come to the bank. They come to change their money.
B: Apakah kamu mendapat banyak hari libur? B: Do you get many holidays?
A: Ya. Sekitar tiga minggu setahun. A: Yes. Around three weeks a year.
B: Apakah kamu bekerja setiap akhir minggu? B: Do you work on weekends?
A: Ya. Saya bekerja setiap hari Sabtu pagi karena bank buka setengah hari pada hari Sabtu. Tetapi saya tidak pernah bekerja pada hari Minggu. A: Yes. I work on Saturday mornings because bank opens half day on Saturdays. But I never work on Sundays.

Bercakap-cakap tentang Perjalanan (Talking about Travel)

A: Saya merasa senang sekali berada di sini. A: I have a great time to be here.
B: Apakah kamu sudah pernah bepergian ke Amerika Serikat? B: Have you ever traveled to the United States?
A: Belum. Apakah kamu sudah pernah? A: No, I haven’t. Have you?
B: Ya. Saya pergi ke sana tahun yang lalu. B: Yes. I went there last year.
A: Apakah kamu menyukainya? A: How did you like it?
B: Saya merasa senang sekali, tetapi saya di sana hanya selama dua minggu. B: I had a great time, but I was only there for two weeks.
A: Kamu pergi ke mana? A: Where did you go?
B. Saya pergi ke rumah adik saya yang laki-laki dan menginap di rumahnya. Dia tinggal di Los Angeles. B. I went to my younger brother’s house and stayed with him. He lives in Los Angeles.
A. Apakah dia bekerja di sana? A. Does he work there?
B: Tidak. Dia seorang mahasiswa. B: No. He is a university student.
B: Dia berkuliah musik di sebuah universitas dalam jurusan musik.
Dia sudah tiga tahun berada di sana.
B: He is studying music in a university at the faculty of music.

He has been there for three years.

A: Apakah kamu pergi ke Kanada juga? A: Did you go to Canada as well?
B: Tidak. Sayang sekali saya tidak mempunyai waktu. B: No. Unfortunately, I didn’t have time.
B: Tetapi tahun depan saya akan ke Kanada.

Paman saya tinggal di Vancouver.

B: But I’m going to Canada next year.

My uncle lives in Vancouver.

A: Kamu beruntung. Kamu sering sekali bepergian.

Saya ingin bisa bepergian seperti kamu.

A: You’re lucky. You travel a lot.

I wish to be able to travel like you.