Bonica Rose

Bercakap-Cakap dengan Seorang Mahasiswa (Talking to a Student)

Anda berasal dari mana? Where are you come from?
Saya berasal dari Indonesia. I am from Indonesia.

 

Dari bagian Indonesia mana asal Anda? What part of Indonesia are you from?
Saya dari Bogor. I am from Bogor.

 

Bogor adalah sebuah kota. Bogor is a city.
Sebuah kota yang indah sekali. It’s a very beautiful city.
Banyak terdapat taman besar dan taman yang indah. There lots of big parks and nice gardens.

 

Apakah Bogor sebuah kota yang besar? Is Bogor a big city?
Tidak, tidak besar sekali. No, it’s not very big.

 

Jakarta jauh lebih besar. Jakarta is much bigger.
Jakarta mempunyai banyak gedung yang tinggi. Jakarta has a lot of tall buildings.

 

Saya tinggal di Jakarta sekarang. I live in Jakarta now.
Saya pindah ke sana tahun yang lalu. I moved there last year.

 

Apakah Anda bekerja atau berkuliah di Jakarta? Are you working or studying in Jakarta?
Saya seorang mahasiswa di Universitas Indonesia. I’m a student at University of Indonesia.
Saya berkuliah di fakultas ilmu teknik. I’m studying in the engineering faculty.
Sudah berapa lama Anda berkuliah? How long have you been studying?
Saya sudah berkuliah selama dua tahun. I’ve been studying for two years.

 

Sony's Garden

Bercakap-Cakap dengan Seorang Pengunjung (Talking to a Visitor)

A: Halo, kelihatannya Anda tersesat, bisa saya bantu? A: Hello, you look lost, can I help you?
B: Oh, terima kasih. Saya turis. B: Oh, thanks. I’m a tourist.
A: Apa Anda orang Amerika? A: Are you an American?
B: Bukan, saya orang Australi. B: No, I’m an Australian.
A: Sudah berapa lama Anda di sini? A: How long have you been here?
B: Saya sudah di sini selama dua hari. B: I’ve been here for two days.

 

A: Berapa lama Anda akan tinggal di sini? A: How long are you going to stay in here?
B: Saya berharap untuk tinggal selama kira-kira sebulan. B: I hope to stay for about a month.

 

A: Apakah Anda senang di sini? A: Do you like it here?
B: Ya, saya senang sekali. B: Yes, I like it very much.

 

A: Apakah cuaca terlalu panas untuk Anda? A: Is the weather too hot for you?
B: Tidak. Cuacanya enak. Saya suka cuaca panas. B: No. The weather is nice. I like hot weather.

 

A: Bagaimana makanannya? Apakah Anda suka makanan Indonesia? A: How do you find the food? Do you like Indonesian foods?
B: Makanan Indonesia enak dan sangat gurih. B: Indonesian foods are delicious and very tasty.

 

A: Di mana Anda menginap? A: Where are you staying?
B: Saya menginap di Losmen Nusantara. B: I am staying at the Losmen Nusantara.

 

A: Oh, Losmen Nusantara di Jalan Nusantara? A: Oh, the Losmen Nusantara in Nusantara Street?
B: Ya. Nomor 100. B: Yes. At number 100.
A: Selamat berlibur. A: Have a nice holiday.
B: Terima kasih. B: Thank you.

 

 

Rufles Azalea

Bercakap-Cakap dengan Kenalan Baru (Talking with a New Acquaintance)

A: Maaf, siapa nama Anda? A: What’s your name, please?
B: Nama saya Andy. B: My name is Andy.

 

A: Anda tinggal di mana? A: Where do you live?
B: Saya tinggal di Yarra Street nomor 8. B: I live at 8 Yarra Street.

 

A: Apakah Anda tinggal dengan keluarga Anda? A: Do you live with your family?
B: Ya, dengan kedua orangtua saya dan saudara-saudara saya. B: Yes, with my parents and my siblings.

 

A: Berapa orang saudara Anda? A: How many siblings do you have?
B: Saya mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. B: I have an older brother and a younger sister.
Kakak laki-laki saya berumur 20 tahun dan adik perempuan saya berumur 16 tahun. My older brother is 20 years old and my younger sister is 16 years old.
Kakak laki-laki saya sudah berkuliah sedangkan adik perempuan saya masih bersekolah di sekolah yang sama dengan saya. My older brother has already at university while my younger sister is still studying at the same school as me.

 

A: Dan berapa umur Anda? A: And how old are you?
B: Umur saya 18 tahun. B: I’m eighteen.

 

A: Apakah kedua orangtua Anda bekerja? A: Are both of your parents working?
B: Ya. Baik ibu maupun ayah saya bekerja. B: Yes. Both mother and my father are working.
A: Apa pekerjaan ayah Anda? A: What does your father do?
B: Ayah saya bekerja sebagai seorang Akuntan. B: My father works as an Accountant.
A: Apa pekerjaan ibu Anda? A: What does your mother do?
B: Ibu saya bekerja sebagai seorang jururawat.

A: Di mana orangtua Anda bekerja?

B: Ayah saya bekerja di sebuah kantor polisi di Glen Waverley sedangkan ibu saya bekerja di sebuah rumah sakit di Box Hill.

B: My mother works as a nurse.

A: Where do your parents work?

B: My father works in a police station in Glen Waverley while my mother works in an hospital in Box Hill.

 

Dalam rangka 17 Agustus, selain dari upacara juga ada perayaan-perayaan.
Yang paling terkenal adalah acara ‘Panjat Pinang’.  Seperti namanya, permainan ini adalah permainan memanjat. Yang dipanjat adalah sebuah pohon pinang yang sangat tinggi. Di bagian atas pohon terdapat banyak hadiah menarik yang digantungkan dengan sebuah tali. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut. Akan tetapi, tidak mudah untuk memanjat pohon tersebut karena batangnya sudah terlebih dahulu dilumuri oleh minyak sehingga menjadi licin.
Permainan ini merupakan atraksi yang mendapatkan perhatian orang banyak karena batang yang licin sering membuat pemanjat jatuh. Tidak jarang para pemanjat bekerja sama sehingga salah seorang temannya berhasil melewati bagian batang yang paling licin dengan berdiri di atas bahu temannya, sedemikian rupa sampai  bertingkat-tingkat dan melibatkan beberapa orang dan seorang dari mereka akhirnya bisa memanjat batang yang kurang licin dan terus memanjat ke atas dan meraih hadiah-hadiahnya.

Selain permainan ‘Panjat Pinang’ yang biasanya adalah acara utama, ada lagi permainan lainnya yang disesuaikan dengan umur peserta.

Di bawah ini adalah komentar-komentar orang yang pernah ikut permainan-permainan ketika mereka kecil (disadur dari Majalah Femina Edisi No. 32/XXXVIII, 14-20 Agustus 2010):

“Saya nggak pernah absen ikut lomba nyanyi di kecamatan. Kalau menang, pialanya saya pamerkan pada Opung, supaya dia bisa ikut bangga!” (Lily Simanjuntak, 25, lajang, pegawai keuangan, Tanjung Pinang)

“Serunya, tuh, waktu lomba memasukkan benang ke jarum. Rasanya sulit sekali dan mata juga perih lihat lubang jarum yang kecil itu.” (Putri Bayu, 30, menikah, pegawai kreatif, Bandung)

“Setiap kali ikut lomba memindahkan bendera kecil dari botol ke botol, saya selalu membayangkan jadi seorang pahlawan yang sedang berperang membela negara.” (Ajeng Soeprawi, 26, lajang, mahasiswi, Yogyakarta)

“Paling suka lomba bawa kelereng pakai sendok. Karena sambil jalan, otomatis kelerengnya goyang-goyang terus dan bikin gregetan kalau jatuh.” (Eli Subeki, 34, menikah, pegawai administrasi, Jakarta)

“Lomba menggambar wajah orang. Sebelumnya, dengam mata tertutup, saya berjalan dari jarak 2 meter ke arah kertas yang sudah ditempel di tembok. Hasilnya pasti lucu.” (Apri Resdiyanti, 27, lajang, pegawai sumberdaya manusia, Jakarta)

“Paling senang lomba ambil koin dari jeruk bali yang sudah dilumuri tepung. Setelahnya, gigi jadi penuh tepung dan wajah jadi menakutkan.” (Yuyun Ariany, 25, lajang, pegawai administrasi, Jakarta)

“Joget bareng teman sambil menjepit balon di antara dahi. Seru, deh. Pernah, balon pecah persis di depan muka. Wajah putih saya langsung memerah.” (Maya Andansari, 25, lajang, pegawai bank, Jakarta)

“Dulu saya ikut lomba badminton dan beberapa hari sebelum lomba, sudah giat latihan sama Om. Ternyata lawan saya lebih besar dan jago. Saya kalah telak dan pulang sambil menangis.” (Rizka Nurlita Andi, 35, lajang, pegawai media, Jakarta)

“Waktu SD, saya kebagian lomba balap karung. Itu lomba pertama dan terakhir. Saya kapok setelah jatuh, luka-luka, dan kalah pula!” (Miranty, 27, menikah, guru les, Makassar)

Buku apa yang sedang kamu baca itu, Maureen?’ tanya Jack McDonald kepada isterinya.

‘Kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini. Bagus betul buku ini dan padat isinya. Dengarkanlah isi suratnya kepada temannya, Stella, yang menguraikan tentang adat kesopanan keluarganya.

“Menurut adat kesopanan orang Jawa, adikku harus merangkak bila hendak lewat di mukaku. Kalau adikku duduk di kursi, apabila aku lewat, dia harus turun dengan segera dan duduk di lantai dengan menundukkan kepala, sampai aku meninggalkan tempat itu. Kalau dia menegurku, hanya boleh dalam bahasa Kromo saja. Tiap-tiap kalimat yang diucapkan, haruslah diiringi dengan sembah.

Kepada kakakku laki-laki, maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan patuh; tetapi aku dan adik-adikku tidak mengindahkan adat itu lagi.”

Dengarkan pula keluhannya ketika dia dipingit.

“Engkau bertanya apa sebabnya aku dikurung dalam empat tembok tebal. Ini adalah adat kebiasaan untuk gadis Jawa. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman luas, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana pun juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal di sana, tidak pernah boleh keluar tembok, maka sempit dan sesaklah rasanya.

Teringat aku, betapa oleh karena putus asa dan sedih yang tiada terhingga, aku menghempaskan badanku berulang-ulang ke pintu yang selalu tertutup itu dan ke tembok yang bengis itu. Kemana pun juga aku pergi, selalu terhambat juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci.”

Tentang orang-orang Belanda yang angkuh dan gila hormat, dia mengatakan:

“Waktu berapat, pegawai Belanda, betapa pun rendah pangkatnya, berhak duduk di atas kursi, sedang pegawai Jawa di bawah pangkat Bupati, tidak pandang umur, asal-usul, kecakapan, harus duduk di lantai. Sungguh pedih hati melihat seorang Wedana yang sudah tua dan beruban itu, lalu berjalan membongkok-bongkok di hadapan pegawai pemerintah Belanda yang masih mentah, yang baru saja keluar sekolah.

Banyak orang Belanda di sini yang tidak suka melihat orang Jawa yang di bawahnya maju; dan tiap-tiap kali ada orang kulit hitam membuktikan bahwa dia ada juga berotak berperasaan, tiada bedanya dengan orang kulit putih, mereka merasa jengkel.

Sekarang tahulah aku mengapa orang Belanda tiada suka orang Jawa maju. Apabila si Jawa itu telah berpengetahuan, tiadalah ia hendak mengiya dan mengamini saja lagi.”

Memang Kartini seorang wanita yang cerdas. Tetapi sayang sekali dia meninggal ketika melahirkan anaknya yang pertama. Waktu itu dia baru saja berumur 24 tahun”. Kata Maureen mengakhiri ceritanya.

Pertanyaan:

  1. Buku apa yang dibaca Maureen kali ini?
  2. Terangkanlah dengan singkat tentang adat kesopanan di Jawa pada zaman kakak beradik Kartini!
  3. Apakah yang dilakukan Kartini untuk mencoba mengubah adat kesopanan itu dalam keluarganya?
  4. Ketika dia dipingit, apakah sebetulnya yang disebutnya dengan ‘penjara’ itu?
  5. Apa yang dikatakannya dalam suratnya mengenai pingitan?
  6. Dalam hal apa Kartini melihat keangkuhan orang Belanda terhadap orang Jawa pada waktu itu?
  7. Mengapa menurut pendapat Kartini orang Belanda tidak mau melihat orang Jawa maju?
  8. Setelah membaca riwayat hidup Kartini dan kutipan surat-suratnya, bagaimana pendapatmu tentang Kartini secara perseorangan?
  9. Apa yang menyebabkan Kartini meninggal dunia?
  10. Umur berapa dia meninggal?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kutipan = quotation penjara = jail
surat = letter senantiasa = always
puteri = princess sempit = narrow
kumpulan = compilation sesak = tight
padat = packed teringat = to be remembered
kesopanan = manner putus asa = given up
merangkak = to crawl menghempaskan = to bang
hendak = wish badan = body
lewat = to pass by bengis = cruel
segera = immediately angkuh = arrogant
lantai = floor berapat = to have a meeting
menundukkan = to bow pangkat = position/rank
meninggalkan = to leave kecakapan = smartness
menegur = to greet pedih = painful
kalimat = sentence beruban = to have grey hair
mengucapkan = to say mentah = unripe
mengiringi = to accompany by membuktikan = to prove
sembah = respect jengkel = annoyed
menuruti = to obey mengiya dan mengamini = to say ‘yes’ and ‘agree’
patuh = obedience cerdas = smart
mengindahkan = to consider sayang sekali = unfortunately
keluhan = complaint meninggal = die
tembok = wall melahirkan = to give birth
tebal = thick mengakhiri = to end
kebiasaan = customs  

 

‘Mau pergi ke mana kamu Santi? Kamu cantik sekali memakai kain dan kebaya’, kata Maureen kepada Santi.

Memang biasanya sehari-hari Santi lebih suka memakai baju rok, karena lebih bebas untuk bergerak-katanya.

‘Hari ini adalah tanggal 21 April yaitu hari lahir Raden Ajeng Kartini. Saya akan pergi menghadiri upacara peringatan hari lahirnya. Lazim dilakukan oleh wanita Indonesia untuk datang menghadiri upacara dengan memakai pakaian nasional atau pakaian daerah’.

‘Siapa Kartini itu?’ tanya Maureen.

‘Dia seorang pelopor wanita yang memperjuangkan perbaikan hak wanita di Indonesia. Dia lahir pada tahun 1879.

Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang bangsawan, Bupati di Jepara.

Kakeknya, Pangeran Ario Condronegoro, terkenal sebagai seorang yang suka akan kemajuan. Dia mendatangkan seorang guru Belanda, khusus untuk mengajar anak-anaknya.

Pada tahun 1879, di seluruh pulau Jawa dan Madura, hanya ada empat orang Bupati yang pandai menulis, membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Dua orang di antara mereka adalah ayah dan paman Kartini.

Begitulah nyata sekali kelihatan kemajuan keluarga Kartini. Kartini pun diberi kesempatan oleh ayahnya untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak Belanda di sekolah dasar dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Pada zaman itu, pergi ke sekolah, walaupun hanya di seberang jalan, untuk seorang anak perempuan Jawa, adalah sesuatu yang aneh. Keluarganya mendapat celaan dan ejekan dari bupati-bupati lain dan orang-orang yang masih kolot.

Tetapi kebebasan yang diberikan oleh ayahnya juga tidak lama, karena ketika Kartini genap berusia 12 tahun, dia dikeluarkan dari sekolah dan kemudian dipingit sebagaimana yang diharuskan oleh adat Jawa di zaman itu.

Kartini merasa kesepian terpisah dari teman-teman sepergaulannya. Dia masih ingin terus belajar. Dia tidak ingin kurang dari kawan-kawannya anak-anak Eropah dan saudara-saudaranya yang laki-laki yang mendapat kebebasan untuk terus belajar. Dia kesal dan ingin memberontak. Lebih-lebih lagi setelah diketahuinya bahwa dia dipingit hanya untuk menunggu saatnya untuk menjadi Raden Ayu yaitu saat pekawinannya dengan orang yang biasanya belum dikenal. Bahkan barangkali menjadi isteri yang kedua, ketiga atau keempat.

Dia ingin sekali mengubah hak wanita dalam adat kebiasaan Jawa, sedangkan ibu dan kakaknya yang perempuan bepegang teguh kepada adat itu dan sangat mencela cita-cita Kartini. Ini menyebabkan hubungan di dalam keluarganya menjadi tegang.

Ayah Kartini mengerti akan perasaan dan cita-cita anaknya, tetapi sedikit sekali yang dapat diperbuatnya untuk menolong anaknya. Kartini sering duduk sendirian membaca buku. Kesenangannya yang lain adalah berkirim-kiriman surat dalam bahasa Belanda dengan bekas teman sekelasnya dulu, yang telah kembali ke negeri Belanda, dan juga kepada kenalan-kenalannya di pulau Jawa.

Dari isi surat-surat inilah orang mengetahui pribadi Kartini dan cita-citanya. Memang isi surat-suratnya mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan dirinya, tetapi caranya mengolah dan menguraikan persoalan-persoalan betul-betul luas dan mendalam. Selanjutnya, kita harus memahami bahwa perjuangan dalam diri Kartini adalah cermin perjuangan masyarakat Jawa pada umumnya dan kaum wanita pada khususnya.

Begitulah, pada tahun 1911, orang-orang Belanda yang sadar, merasa perlu mengumpulkan surat-surat Kartini dan dijadikan buku.

Kalau tidak salah, saya ada mempunyai terjemahan buku itu dalam bahasa Inggris, berjudul ‘Letters of a Javanese Princess’. Nanti saya pinjamkan ya’, kata Santi.

‘Terima kasih, Santi. Saya ingin sekali membaca buku itu. Sampai nanti.’ kata Maureen.

Pertanyaan:

  1. Apakah sebabnya hari lahir Randen Ajeng Kartini diperingati?
  2. Kapan dia lahir?
  3. Siapa ayahnya?
  4. Ceritakanlah sedikit tentang kakeknya, Pangeran Ario Condronegoro?
  5. Bagaimana reaksi bupati-bupati lain dan orang-orang yang masih kolot tentang Kartini pergi ke sekolah?
  6. Ketika dia dipingit, dia merasa kesepian, kesal dan mau memberontak. Apakah sebabnya?
  7. Apakah sebabnya hubungan di dalam keluarganya menjadi tegang?
  8. Apakah kesenangan Kartini?
  9. Isi surat-surat Kartini mengenai apa?
  10. Tahun berapa surat-surat itu mulai dikumpulkan dan dijadikan buku? Siapa yang mengumpulkannya?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kain = cloth memberontak = to rebel
kebaya = blouse as part of Indonesian woman’s national dress menunggu = to wait
baju rok = dress perkawinan = marriage
bebas = free barangkali = possibly
bergerak = to move berpegang teguh = to hold firmly
hari lahir = birthday cita-cita = aspiration
menghadiri = to attend perasaan = feeling
upacara = ceremony menolong = to help
peringatan = commemoration berkirim-kiriman surat = to correspondence
lazim = common bekas = former
pakaian nasional = national dress mengetahui = to know
pakaian daerah = ethnic dress pribadi = personality
pelopor = pioneer kejadian = event
memperjuangkan = to fight mengolah = to discuss
hak = right menguraikan = to explain in detail
bangsawan = nobel persoalan = problem
bupati = regent luas = broad
kesempatan = opportunity mendalam = in depth
aneh = odd memahami = to understand
celaan = criticism cermin = mirror
ejekan = teasing masyarakat = community
kolot = old fashioned sadar = aware
genap = complete/exactly mengumpulkan = to compile
dipingit = to be confined Kalau saya tidak salah, = If I am not mistaken,
adat = tradition meminjamkan = to lend
kesepian = lonely  
terpisah = separated  
kesal = frustrated  

 

Winoto: Kelihatannya Anda sudah amat lelah. Marilah kita beristirahat.

A Southern: Di mana? Kalau ada, di tempat yang teduh ya. Di bawah pohon lebih baik supaya kita dapat terlindung dari panas matahari dan mendapat hawa yang segar.

Winoto: Tadi saya sudah memesan nasi dan ayam panggang. Rumah makan yang ada di sudut jalan itu terkenal dengan ayam panggangnya.

A Southern: Sambil menunggu makanan, silakan bercerita tentang Loro Jonggrang.

Winoto: Pada zaman dahulu, di Prambanan, ada seorang raja yang bernama Raja Baka. Dia mempunyai seorang putri yang cantik sekali, namanya Loro Jonggrang.

A Southern: Artinya si Gadis Langsing atau si Gadis manis. Tetapi, bagaimana cerita selanjutnya?

Winoto: Ada seorang pemuda sakti bernama Raden Bandung. Dia ingin mengawini Loro Jonggrang. Raja Baka tidak suka putrinya kawin dengan pemuda ini. Terjadilah perang antara Raja Baka dan Raden Bandung.

A Southern: Siapa yang menang?

Winoto: Raja Baka dapat dibunuh oleh Raden Bandung. Loro Jonggrang tidak mau kawin dengan orang yang membunuh ayahnya. Dia mau kawin dengan syarat …

A Southern: Saya tahu cerita semacam ini.

Winoto: Syarat yang diajukan oleh Loro Jonggrang adalah dalam satu malam, Raden Bandung harus dapat membuat seribu candi.

A Southern: Seribu candi dalam satu malam? Bagaimana mungkin?

Winoto: Hampir saja Raden Bandung berhasil membuat seribu candi, karena dibantu oleh jin- jin. Tetapi Loro Jonggrang mendapat akal. Dia menyuruh gadis-gadis di desa menumbuk padi dan membuat api di sebelah timur.

A Southern: Untuk apa?

Winoto: Karena mendengar suara orang menumbuk padi dan melihat cahaya merah di sebelah timur, jin-jin mengira bahwa hari sudah siang. Mereka lalu berhenti bekerja dan pergi. Raden Bandung gagal membuat seribu candi, hanya kurang satu saja.

A Southern: Ah, sayang ya … hanya kurang satu.

Winoto: Karena marahnya, Raden Bandung mengutuk Loro Jonggrang menjadi batu. Kerena seolah-olah arca Loro Jonggrang tersenyum mengejek, maka hidungnya dipotong oleh Raden Bandung.

A Southern: Bagaimana akhir ceritanya?

Winoto: Masih ada lagi kutukan Raden Bandung. Karena gadis-gadis membantu Loro Jonggrang, mereka dikutuk tidak akan kawin sebelum mereka menjadi perawan tua.

A Southern: Oh, kasihan gadis-gadis itu. Cerita itu hampir sama dengan cerita Sangkuriang.

Winoto: Benar. Masih ada cerita-cerita lain yang semacam ini. Di Jawa Timur misalnya, cerita asal-usul Gungung Batok.

Jawablah!

Apakah yang Anda ketahui tentang:

  1. Raja Baka?
  2. Seorang pemuda sakti?
  3. Orang yang membunuh ayahnya?
  4. Seribu candi?
  5. Menumbuk padi dan membuat api?
  6. Berhenti bekerja dan pergi?
  7. Hidungnya dipotong oleh Raden Bandung?
  8. Sebelum mereka menjadi perawan tua?

(Kutipan langsung dengan beberapa perubahan dari buku ‘Dari Barat sampai ke Timur’ oleh Soewito Santoso dan Soemarjono)

Kosa Kata:

Kelihatannya = It seems

lelah = tired

teduh = shaded

terlindung = protected

panas matahari = sun heat

hawa = air

segar = fresh

memesan = to order

ayam panggang = roasted chicken

terkenal = famous

sambil = while

menunggu = to wait

raja = king

cantik = pretty

langsing = slim

manis = sweet

mengawini = to marry

pemuda = young man

perang = war

menang = win

membunuh = to kill

tahu = to know

seribu = one thousand

candi = temple

mungkin = possible

berhasil = successful

menumbuk = to pound

padi = rice

api =fire

timur = east

mendengar = to listen

suara = voice/sound

melihat = to see

mengira = to think

mengutuk = to curse

tersenyum = smile

mengejek = to tease

perawan = girl

semacam = alike

A Southern: Sekarang, bagaimana cerita tentang asal-usul Gunung Tangkuban Perahu? Maaf saya menyuruh Anda bercerita terus-menerus.

Amir: Tida apa-apa. Saya suka bercerita. Silakan, kopinya diminum lagi.

A Southern: Terima kasih. Saya sudah minum lebih dari dua cangkir.

Amir: Ada seorang putri yang amat cantik. Namanya Dayang Sumbi. Dia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat nakal.

A Southern: Mungkin ayahnya juga nakal ketika masih anak-anak. Maaf, saya menyela cerita Anda, teruskan.

Amir: Pada suatu hari, karena nakalnya, anak itu dipukul oleh ibunya dengan sebuah sendok nasi sehingga kepalanya luka dan berdarah. Anak itu lalu pergi dari rumahnya, entah ke mana …

A Southern: Kasihan!

Amir: Sebenarnya anak itu pergi bertapa. Bertahun-tahun lamanya dia bertapa, sehingga dia menjadi seorang yang sangat sakti. Kemudian dia berganti nama menjadi Sangkuriang.

A Southern: Apakah nama itu ada artinya?

Amir: Sebentar. Saya selesaikan dulu ceritanya ya.

A Southern: Oh, maaf.

Amir: Pada suatu hari, dia kembali ke kampungnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya, bahkan ibunya sendiri juga tidak mengenalnya. Pada waktu itu, Dayang Sumbi sudah menjadi seorang janda tetapi wajahnya masih tetap cantik. Sangkuriang ingin mengawininya.

A Southern: Oh, menarik sekali. Bagaimana cerita seterusnya?

Amir: Sebelum perkawinan mereka, pada suatu hari Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang. Dilihatnya luka pada kepala Sangkuriang, dan tahulah Dayang Sumbi bahwa sebenarnya Sangkuriang adalah anaknya sendiri.

A Southern: Aduh, sangat mengharukan.

Amir: Untuk membatalkan perkawinan itu, Dayang Sumbi mengajukan sebuah syarat. Syarat itu adalah, dalam satu malam Sangkuriang harus membuat sebuah telaga. Kalau dia tidak dapat membuatnya, perkawinan itu akan dibatalkan.

A Southern: Dapatkah Sangkuriang membuat telaga dalam satu malam?

Amir: Karena Sangkuriang sangat sakti, dan dia dibantu oleh jin, telaga itu hampir saja selesai.

A Southern: Jadi, mereka akan kawin?

Amir: Hampir saja. Ketika Dayang Sumbi tahu bahwa telaga itu hampir jadi, dia minta pertolongan kepada dewa-dewa.

Waktu matahari hampir terbit, Sangkuriang ada di dalam perahunya untuk menjemput Dayang Sumbi. Tiba-tiba, dewa-dewa menghancurkan telaga itu. Perahu Sangkuriang terbalik, lalu menjadi sebuah gunung.

A Southern: Bagaimana dengan Dayang Sumbi?

Amir: Dia juga terjun ke dalam air, lalu tenggelam.

A Southern: Mengharukan sekali akhir ceritanya.

Amir: Menurut cerita, perahu Sangkuriang menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Jawablah!

  1. Siapa nama putri yang cantik itu?
  2. Apa yang Anda ketahui tentang anaknya?
  3. Mengapa anak itu meninggalkan rumah ibunya?
  4. Kapan anak itu kembali ke kampungnya?
  5. Bagaimana Dayang Sumbi tahu bahwa sebenarnya Sangkuriang adalah anaknya sendiri?
  6. Apa akal Dayang Sumbi untuk membatalkan perkawinan itu?
  7. Bagaimana Sangkuriang dapat membuat telaga dalam satu malam?
  8. Siapa yang menolong Dayang Sumbi?
  9. Bagaimana akhir cerita itu?

(Kutipan langsung dengan beberapa perubahan dari buku ‘Dari Barat sampai ke Timur’ oleh Soewito Santoso dan Soemarjono)

Kosa Kata:

asal-usul = origin

menyuruh = to order/to instruct

cangkir = cup

menyela = to interrupt

sendok nasi = rice ladle

bertapa = to meditate become a hermit

sakti = supernatural power

mengenal = to know

janda = widow

wajah = face

menarik = interesting

menyisir = to comb

sebenarnya = actually

mengharukan = touching

membatalkan = to cancel

mengajukan = to propose

syarat = condition

telaga = lake

jin = evil spirit

hampir = almost

pertolongan = help

dewa = god

matahari = sun

terbit = to rise

perahu = boat

menjemput = to pick up/to fetch

tiba-tiba = suddenly

menghancurkan = to destroy

terbalik = capsize

gunung = mountain

terjun = to dive/to plunge

tenggelam = sink/drown

akal = idea

 

Pengarang: Mochtar Lubis

Autobiography

1969 (Sept-Oct) Quadrant 11-23

Sebuah cerita tentang diri pengarang (catatan harian) yang ditulis ketika pengarang dipenjarakan di Madiun. Karangan yang ditulis pada bulan Pebruari 1962 ini ditulis dengan sangat baik yang mengungkapkan tentang sejarah, khususnya suku Batak Mandailing. Karangan ini begitu menarik untuk dibaca sampai beberapa kali karena mengandung hal-hal yang pernah saya dengar tetapi tidak terpahami seratus persen.

Pengarang bercerita tentang masa kanak-kanaknya sebagai anak ke enam dari dua belas bersaudara dan dibesarkan di Simurup, Kerinci, Sumatera oleh orangtua yang berasal dari keluarga bangsawan Sumatera. Ayahnya dari suku marga Lubis yang berpengaruh. Demikian juga sang ibu dari suku marga Nasution yang ningrat. Tetapi ibunya bukanlah isteri pertama dari ayahnya namun bersikeras agar ayahnya menceraikan isteri pertama kalau ingin hidup bersamanya. Sifat yang sangat dikagumi pengarang selaku anak.

Menarik untuk mengamati bagaimana pengarang yang adalah dari suku Batak tetapi yang disebut orang Mandailing karena beragama Islam, bercerita tentang kebiasaan kaum pria suku Batak yang membiarkan isteri mengerjakan kebanyakan pekerjaan yang berat-berat termasuk bersawah dan mencari kayu bakar, kecuali berburu dan menderes getah yang merupakan pekerjaan laki-laki. Juga kebiasaan duduk di kedai kopi (yang isinya kaum pria dan adalah aneh kalau ada wanita hadir di situ) pada sore hari menikmati kopi sambil bergosip dari politik, Presiden Amerika yang baru, korupsi di Jakarta dan gosip terakhir di daerah itu.

Tidak kalah menariknya ketika pengarang bercerita tentang dongeng-dongeng orangtua yang menakuti-nakuti anak-anak mereka agar tidak nakal dan tidak bermain-main jauh dari rumah, termasuk cerita tentang ‘Orang Bunian’ yaitu orang-orang yang tidak dapat kelihatan oleh mata. Anak-anak nakal yang bermain petak-umpat terlalu jauh dari desa akan menjadi mangsa ‘Orang Bunian’. Anak-anak nakal itu dapat dikelabui oleh seekor burung yang indah, pohon yang kelihatan seperti rumah-rumah yang indah di tengah hutan. Anak-anak nakal akan terbawa jauh ke dalam hutan dan setibanya di sana, ‘Orang Bunian’ akan menampakkan diri mereka dan anak-anak nakal itu akan diberi makan telur-telur semut yang di mata mereka terlihat seperti nasi. Mereka akan tinggal di hutan lama sekali dan ketika mereka ditemukan oleh orang, mereka telah menjadi dungu dan bodoh dengan rambut dan kuku yang panjang dan kotor.

Pengalaman ayah pengarang sebagai seorang Demang yang bekerja untuk pihak penjajah Belanda diceritakan tanpa rasa bangga sama sekali walaupun pengarang kagum kepada ayahnya yang sangat cinta terhadap rakyatnya. Pertama-tama, pengarang tidak mengerti mengapa ayahnya dengan nada keras melarang anak-anaknya, khususnya anak laki-lakinya untuk berkarir sebagai pegawai pemerintah. Ayahnya menginginkan anak-anaknya lebih lagi untuk bekerja dengan hasil tangan mereka termasuk pedagang dan petani (tetapi petani moderen). Baru kemudian setelah pengarang besar dan belajar tentang politik, ekonomi dan sejarah, dia mengerti mengapa ayahnya merasa menderita dalam menjalankan pekerjaannya sebagai pegawai pemerintah kolonial.

Walaupun jalur ceritanya terasa sangat tiba-tiba beralih topik ketika pengarang bercerita tentang pekerjaannya ketika dia berusia 22 tahun bekerja sebagai seorang jurnalis di Radio Militer Jepang, sangat menarik untuk membaca cerita pengarang tentang bagaimana bedanya penampilan tentara Jepang kalau dibandingkan dengan tentara Belanda. Digambarkan bahwa seragam tentara Jepang tidaklah seindah, sebagus dan sebersih seragam tentara Belanda.

Akhirnya saya mengagumi keberanian dan kejujuran pengarang dalam mengungkapkan pendapatnya tentang kemerdekaan Indonesia yang bukan seratus persen karena bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaannya tetapi juga beruntung karena situasi internasional yang menolong tercapainya kemerdekaan itu dimana sikap orang Amerika dan orang Australia dan pandangan internasional pada waktu itu yang mendukung usaha memerdekakan diri dari penjajah.

Hasil karya Mochtar Lubis ini perlu dibaca bagi mereka yang tertarik akan sejarah dan budaya.

(Oleh Sony Rospita Simanjuntak, 2012)

“Kenapa kamu pincang?” tanya si Kancil kepada si Kambing.
“Dilempar Pak Boim dengan kayu karena aku masuk ke ladangnya,” jawab si Kambing.
“Jangan sedih!” kata si Kancil. “Aku punya akal agar kamu tidak diganggu pada waktu mencari makanan di sana.”
“Betul, Cil? Ah, kamu memang sahabatku yang baik. Bagaimana caranya?”
“Pakailah pakaian kulit harimau!” Karena kamu disangka harimau, Pak Boim akan lari pontang-panting.”
“Wah, sulit! Bagaimana aku dapat mencari kulit harimau?”
“Mari, ikut aku!” ajak si Kancil.
Pak Kadir kemarin menembak harimau. Kulitnya dijemur di belakang rumah. Dengan segera diambilnya kulit harimau yang dijemur itu.
“Nah, sekarang aku mau pulang,” kata si Kancil.
“Nanti malam kamu boleh ke ladang Pak Boim. Makanlah sepuas-puasnya!”
Malam itu Pak Boim pergi ke ladangnya. Hari terang bulan.
“Ha, apa itu?” pikir Pak Boim. Seekor harimau masuk ke ladang dengan perlahan-lahan. Pak Boim sangat takut, dia hendak berlari. Tetapi, ditetapkannya hatinya. Dia memperhatikan harimau itu.
“Heran,” pikir Pak Boim, “seekor harimau makan tanaman muda? Astaga, harimau bertanduk? Berjanggut pula?”
Sekujur badan Pak Boim gemetar. Dia sangat ketakutan.
Tiba-tiba, harimau itu menoleh ke arah Pak Boim.
Apa yang terjadi?
Harimau itu berpaling, lalu lari pontang-panting.
Melihat itu Pak Boim tidak ketakutan lagi.
Dikejarnya harimau itu, lalu dilemparkan tombaknya ke arah harimau palsu.
Harimau palsu jatuh tersungkur, kemudian berlari tunggang-langgang.

Jawablah!
1. Ceritakan sifat-sifat tokoh cerita binatang di atas!
2. Baikkah perbuatan si Kancil? Jelaskan!