Once, Batara Guru, the Lord of Gods, was building himself a new palace in heaven. He sent word to all the gods in heaven that each must bring a big stone for the foundation of the palace. Everyone agreed to obey the command except the Snake God.

 

 

 

 

When the Messenger God came to him, the Snake God was sitting sadly and said: “As you can see, I have neither arms nor legs. How could I carry a stone?” As he spoke, three large teardrops rolled down of his cheeks. When the teardrops feel to the ground, they turned into three white eggs. “Take those eggs to the Lord of Gods and tell him exactly what happened,” the Messenger God told the Snake God.

 

 

 

 

So, the Snake God set off for the royal palace holding the three eggs carefully in his mouth. On his way, he met the Great Eagle. “Where are you going, Snake God?” asked the Great Eagle. However the Snake God’s mouth was so full of eggs that he could not answer. The Great Eagle repeated his question twice more and, getting no answer, became very angry. He started pecking the Snake God on the head. This hurt so much that the Snake God gave two loud cries, and each time he opened his mouth one of the eggs fell out.

 

 

As the eggs hit the ground, they broke open and from one egg came a piglet and from another one came a rat. The two are bad because they damage rice in the rice field and hillside terraces.

 

 

The Snake God was sorry he had lost the two eggs, but by good luck one still remained safe in his mouth. He brought this last egg to the Lord of Gods. As he arrived at the palace, he told everything and kneeled: “Forgive me Lord of Gods, I only can give you this egg.” The Lord of Gods ordered him to keep the egg until it hatched and then to bring him whatever came out of it.

 

 

 

 

From day to day, the egg was taken care by the Snake God. Finally, one day, the egg broke open and out of it came a beautiful baby girl. The Snake God hurried to take the baby to the Lords of Gods, who adopted the baby as his own daughter and named her Dewi Sri. She was brought up as a princess in the royal palace with all of the loving care that a daughter of Lord of Gods should have.

 

 

As the years passed, Dewi Sri grew up to be a lovely young lady. She was gentle and kindhearted as she was beautiful, and everyone who knew her loved her. The Lord of Gods himself showed her so much affection that the other gods began to fear he might want to marry her. The law said that no father could marry his daughter, not even if he was a god and she was only his adopted daughter. The gods feared that if this law was broken, the whole kingdom would be ruined. So they met secretly and decided that Dewi Sri must be killed. This decision filled them with sadness, but they thought this was the only way to save the kingdom.

 

 

 

 

Thus, one day, the gods put poison in a piece of Dewi Sri’s favorite fruit and gave it to her. Straight away after she eated the fruit she fell sick. Day by day she grew weaker and weaker, and finally she died. It was just as though the slender stalk of a young flower had gradually wilted and falled to the ground. Dewi Sri’s body was burried with royal ceremony, just beside a beautiful triple-roofed pagoda, and a royal servant was left to guard the grave and to water it daily so that flowers would grow around it.

 

 

 

Later on, from the grave there appeared a strange kind of plant that no one had ever seen before. This was the heavenly plant now called rice. When the Lord of Gods saw this miracle, he told the royal servant to take the rice seeds down to earth and give them to the king of the land called Pajajaran. “Tell the king,” he said, “that the seeds are a gift from me. Let his people plant them and take good care of them including saving them from the piglets and rats, so that no one need ever go hungry again, for rice is the daily staple.”

 

 

The king of Pajajaran was very happy to receive the Batara Guru’s special gift. His people received seeds and planted them both in paddy fields and on hillside terraces. They learned how to harvest the plants and how to ground them. Then a goddess from heaven came down to earth and taught all the young girls how to cook the rice and serve it in many delicious ways. The people of Pajajaran lived in peace and happiness, never lacked of foods.

Konon kabarnya, Batara Guru, raja dari segala dewa, sedang membangun sebuah istana baru di khayangan. Dia mengirim kabar kepada semua dewa di seluruh khayangan bahwa setiap dewa harus membawa sebuah batu besar untuk dasar istana tersebut. Setiap dewa setuju untuk menuruti perintah tersebut kecuali Dewa Ular atau Dewa Anta.

 

 

Ketika Batara Narada menghampirnya, Dewa Anta sedang duduk bersedih hati dan berkata: “Seperti yang terlihat, hamba tidak mempunyai baik tangan maupun kaki. Bagaimana hamba bisa membawa sebuah batu?” Ketika dia berkata itu, tiga butir air matanya menjatuhi pipi-pipinya. Ketika air mata itu jatuh ke bawah, tiba-tiba butir-butir air mata tersebut berubah menjadi tiga butir telur putih. “Bawalah ketiga butir telur itu ke hadapan Batara Guru dan ceritakanlah kepadanya apa yang sebenarnya terjadi.” perintah Batara Narada kepada Dewa Anta.

 

Jadi, Dewa Anta berangkatlah ke istana khayangan dengan mengulum ketiga butir telur dengan sangat hati-hati di dalam mulutnya. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan sang Burung Garuda Agung. “Anda mau pergi ke mana. Dewa Anta?” tanya sang Burung Garuda Agung. Akan tetapi mulut Dewa Anta penuh dengan telur sehingga dia tidak bisa menjawab. Sang Burung Garuda Agung yang mengulang pertanyaannya sampai dua kali lagi tanpa mendapat jawaban menjadi sangat marah. Dia mulai mematuki kepala Dewa Anta. Hal itu sungguh menyakitkan bagi Dewa Anta sehingga dia berteriak menangis dua kali, dan setiap kali dia membuka mulutnya sebutir telur terjatuh.

 

Ketika kedua butir itu jatuh ke bawah, telur-telur itu pecah dan berubah menjadi babi hutan dan tikus sawah. Keduanya adalah perusak karena merusak padi di sawah dan di ladang.

 

Dewa Anta merasa sangat sedih karena dia telah kehilangan dua butir telur, tetapi dia beruntung karena satu masih aman di dalam mulutnya. Dia membawa telur terakhir ke Batara Guru. Sesampainya di istana khayangan, dia menceritakan semua yang terjadi dan bersujud: “Ampun Batara Guru, hamba hanya dapat mempersembahkan satu butir telur ini.” Batara Guru memerintahkan supaya Dewa Anta memelihara telur itu, sampai menetas nanti dan membawa apa yang keluar nantinya kepada Batara Guru!” Dewa Anta membawa kembali telur yang sebutir itu.

 

 

Dari hari ke hari telur itu dipelihara oleh Dewa Anta. Akhirnya, pada suatu hari, telur itupun menetaslah dan di dalam telur itu terbaring seorang bayi perempuan. Dengan segera, Dewa Anta membawa bayi itu ke Batara Guru yang mengambilnya sebagai putrinya dan diberi nama Dewi Sri. Dia dibesarkan seperti seorang putri di istana dengan kasih sayang layaknya Batara Guru berikan kepada putri kandungnya sendiri.

 

Sesudah beberapa tahun lamanya, Dewi Sri tumbuh menjadi seorang wanita muda yang cantik. Dia sangat lembut dan baik hati sehingga dia sangat anggun dan siapa saja yang mengenalnya pasti mencintainya. Batara Guru sendiri menunjukkan kasih sayang yang dalam terhadapnya sehingga para dewa takut kalau dia akan menikahinya. Hukum berkata bahwa dilarang seorang ayah menikahi putrinya sendiri, walaupun dia adalah seorang dewa dan putri itu adalah anak angkatnya. Para dewa takut bahwa hukum tersebut akan dilanggar dan sebagai akibatnya, kerajaan akan hancur. Jadi mereka secara diam-diam bertemu dan memutuskan bahwa Dewi Sri harus dibunuh. Putusan ini membuat mereka semua sedih tetapi mereka berpikir bahwa hanya inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan.

 

Oleh karena itulah, pada suatu hari, para dewa membubuhi racun ke sepotong buah kesayangan Dewi Sri dan memberikan buatt itu kepadanya. Segera setelah dia memakan buah itu, dia jatuh sakit. Makin hari dia makin lemah dan akhirnya meninggal. Hidupnya seperti setangkai bunga indah yang menjadi layu dan akhirnya gugur. Mayat Dewi Sri dikubur dengan upacara kerajaan di samping sebuah pagoda beratapkan tiga lapis dan seorang pembantu kerajaan menjaga kuburannya dan menyiraminya sehingga bunga-bunga kan tumbuh di sekeliling kuburan.

 

Kemudian, dari kuburan tersebut tumbuh sebuah tanaman yang aneh yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tumbuhan khayangan ini sekarang disebut tanaman padi. Melihat peristiwa yang ajaib itu, Batara Guru memerintahkan pembantu kerajaan untuk membawa biji padi turun ke bumi dan memberikannya kepada raja di bumi yang bernama Pajajaran. “Katakan kepada raja,’ katanya, “bahwa biji-biji itu adalah hadiah dari saya. Supaya rakyatnya menanamnya dan memeliharanya termasuk dari serangan babi hutan dan tikus sawah sehingga tak seorang pun yang akan kelaparan lagi, sebab beras adalah makanan sehari-hari.”

 

Sang Raja Pajajaran sangat bahagia menerima hadiah istimewa the God of gods. Rakyatnya menerima biji-biji padi dan menanam biji-biji tersebut baik di sawah maupun di ladang. Mereka belajar bagaimana memanen padi dan menggilingnya. Kemudian seorang dewi turun dari khayangan ke bumi untuk mengajarkan semua gadis muda bagaimana caranya memasak beras dan menghidangkannya dengan banyak cara yang sedap. Penduduk Pajajaran hidup dengan damai dan bahagia, tidak pernah kekurangan makanan.

[Adapted from many versions available on Internet]

 

Dikatakan bahwa Kartini berasal dari keluarga bangsawan Jawa atau priyayi, hal itu karena kalau dilihat dari silsilahnya maka terlihatlah bahwa nenek moyangnya adalah keturunan Raja Majapahit.
Pada zaman kolonialisme Belanda, yaitu pada awal-awalnya, Belanda memberikan jabatan bupati kepada golongan bumi putera dan jabatan tersebut diberikan berdasarkan keturunan. Kemudian, terjadilah perubahan yaitu dengan menambahkan syarat berpendidikan dan syarat pengalaman kerja akan tetapi faktor keturunan masih berpengaruh.

Kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV (terakhir menjabat sebagai Bupati Demak) diangkat Belanda menjadi Bupati Kudus ketika dia hanya berumur 25 tahun. Belanda menganugrahinya dengan gelar ‘Pangeran’ karena kesuksesannya dalam mengatasi musim paceklik.

Dia termasuk bupati pertama yang memberikan pendidikan Belanda kepada anak-anaknya. Tercatat bahwa pada tahun 1861, beliau mendatangkan secara khusus seorang guru dari Belanda bernama CS Van Kesteren untuk mendidik anak-anaknya di rumah. Dia terkenal karena kebanyakan dari anak-anaknya (yaitu empat orang) menjadi bupati:

  1. Rahadian Prawoto atau Tjondronegoro V (Bupati Brebes)
  2. Rahadian Purboningrat atau Raden Mas Tumenggung Ario Purboningrat (Bupati Semarang)
  3. Rahadian Samingun atau Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (ayah Kartini-Bupati Jepara)
  4. Rahadian Hadiningrat atau Pangeran Ario Hadiningrat (Bupati Demak)

Tentang ayah Kartini sendiri, Rahadian Samingun atau Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, pada tahun 1872, sebelum menjadi Bupati Jepara, dia menikah dengan ibu kandung Kartini yang bernama MA Ngasirah. Ibu kandung Kartini ini bukan berasal dari keluarga bangsawan Jawa tetapi dari keluarga dusun. Begitupun, kakek Kartini dari pihak ibu kandungnya, Kyai Modirono yang menikah dengan Siti Aminah, nenek Kartini, adalah seorang guru agama.
Ayah Kartini yang sangat fasih berbahasa Belanda meniti karirnya di bidang pemerintahan. Pada waktu itu, Pemerintah Kolonial Belanda mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang wanita bangsawan juga. Oleh karenanya, pada tahun 1875 ayah Kartini menikah lagi dengan RA Woerjan (Moerjam) putri RAA Tjitro Wikromo (Bupati Jepara) yang merupakan keturunan langsung Raja Madura. Pada waktu RAA Tjitro Wikromo meninggal dunia, ayah Kartini diangkat menjadi Bupati Jepara menggantikan ayah mertuanya.

Pernikahan yang kedua kali ayah Kartini ini menjadikan isteri keduanya yaitu RA Woerjan (Moerjam ) menjadi isteri utama atau garwa padmi sedangkan isteri pertamanya, MA Ngasirah, yang notabenenya adalah ibu kandung Kartini dan yang sudah memberikannya terlebih dahulu ayah Kartini dengan dua orang anak laki-laki, menjadi garwa ampil. Akan halnya Kartini sendiri dan seorang kakak laki-laki kandungnya yang terkenal dengan nama Kartono serta empat lagi adik kandungnya lahir justru sesudah ayah mereka menikah kedua kalinya. Dari isteri keduanya, ayah Kartini mendapat tiga orang puteri, seorang lebih tua dari Kartini dan dua orang lagi lebih muda. Ayah Kartini dikenal sebagai seorang ayah yang berlaku adil kepada anak-anaknya. Bahkan Kartini yang lincah, dipanggil ‘Trinil’, sangat dekat dengan dua adik sebayanya: seorang adik perempuan tiri dan seorang adik perempuan kandung. Kartini, Roekmini dan Kardinah sering disebut sebagai ‘Tiga Serangkai’.

Jadi dari kedua isterinya, ayah Kartini mendapatkan sebelas orang anak dengan urutan sebagai berikut:

  1. RM Slamet Sosroningrat (1873-kakak laki-laki kandung tertua Kartini)
  2. PA Sosrobusono (1874-kakak laki-laki kandung Kartini yang menjadi Bupati Ngawi)
  3. RA Soelastri (1877-kakak perempuan tiri Kartini)
  4. Drs RMP Sosrokartono (1877-kakak laki-laki kandung Kartini)
  5. RA Kartini (1879)
  6. RA Roekmini (1880-adik perempuan tiri Kartini)
  7. RA Kardinah (1881-adik perempuan kandung Kartini yang menjadi isteri Bupati Tegal)
  8. RA Kartinah (1883-adik perempuan tiri Kartini)
  9. RM Muljono (1885-adik laki-laki kandung Kartini)
  10. RA Soematri (1888-adik perempuan kandung Kartini)
  11. RM Rawito (1892-adik laki-laki kandung termuda Kartini)

Pada tahun 1903, ketika Kartini berumur 24 tahun, dia dipaksa ayahnya menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat (Bupati Rembang) yang adalah teman ayahnya. Suami Kartini menikahi Kartini karena sebelum isterinya, Soekarmilah (garwa padmi), meninggal, ia berpesan (wasiat jati) supaya suaminya menikahi Kartini yang dikaguminya itu. Jadi, Kartini berstatuskan isteri utama (garwa padmi) menggantikan Soekarmilah dan ketika itu KRM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat juga sudah mempunyai dua orang isteri lain (garwa ampil). Kartini memberikan banyak syarat sebelum setuju untuk dinikahi termasuk larangan mengambil garwa ampil lagi.

Pada tahun 1904, Kartini melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama RM Soesalit Djojoadhiningrat tetapi dipanggil ‘Singgih’. Empat hari setelah melahirkan, Kartini meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang. Karena anak Kartini tidak sampai mengenal ibunya, dia diberi nama Soesalit yang adalah kependekan dari soesah naliko alit (susah semasa kecil). Bapaknya kemudian menikah lagi dengan seorang wanita keturunan Raja Mataram yang malangnya juga meninggal dunia pada waktu persalinan tapi sang anak turut meninggal.

Akan halnya, putra satu-satunya Kartini yaitu RM Soesalit Djojoadhiningrat atau Singgih, keluarga Kartini pernah meminta agar dia bisa dipelihara oleh mereka tetapi permohonan itu ditolak. Pada khususnya adik kandung Kartini yang bernama Kardinah, isteri Bupati Tegal, ingin sekali merawatnya. Namun, ‘Singgih’ besar di bawah naungan kakak-kakak tirinya. Sesudah besar, dia berkarir dalam bidang ketentaraan dengan pangkat tertinggi Mayor Jenderal. Dia menikah dengan Siti Loewijah dan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Boedi Setyo Soesalit yang lahir tanpa dilihatnya karena pada tahun 1962 Singgih meninggal dunia dalam usia 57 tahun. Dia dimakamkan di makam keluarga bersama-sama dengan ibunya, Kartini, yaitu di pemakaman keluarganya di Bulu, Rembang.

Cucu satu-satunya Kartini, Boedi Setyo Soesalit adalah seorang yang sangat pandai dan mendapat beasiswa berkuliah di Australia tetapi memilih bekerja di sektor swasta. Dia menikah dengan Sri Bijatini dan memiliki lima orang anak yang adalah cicit-cicit Kartini: RA Kartini Setiawati Soesalit, RM Kartono Boediman Soesalit, RA Roekmini Soesalit, RM Samingoen Bawadiman Soesalit, dan RM Rahmat Harjanto Soesalit

Boedi Setyo Soesalit sendiri sudah meninggal dunia dan isterinya, Sri Bijatini pada tahun 2016 diberitakan sudah berumur 79 tahun dan hidup sederhana sekali. Mereka pun sudah dikaruniai cucu-cucu yaitu buyut-buyut Kartini tetapi memilih untuk tidak memberitahukan pihak luar tentang darah Kartini yang mengalir di dalam tubuh mereka.

(Dirangkum dari berbagai sumber Internet guna mempermudah belajar topik Kartini)

BerkenalanBerkenalan (Got Introduced)

A: Siapa namamu? A: What is your name?
B: Nama saya Tuti Gunawan. B: My name is Tuti Gunawan.
B: Namamu, siapa? B: What is your name?
A: Nama saya Ali Arifin. A: My name is Ali Arifin.
A: Ini temanku Andy. A: This is my friend, Andy.
B: Saya Tuti. Apa kabar Andy? B: I am Tuti. How are you, Andy?
A: Hei Robert, kenalkan, ini temanku Tuti. A: Hey Robert, may I introduce my friend, Tuti?
B: Nama saya Tuti. Senang berkenalan denganmu, Robert. B: My name is Tuti. Nice to meet you, Robert.
A: Apakah nama kakakmu Ani, Ali? A: Is your older sister’s name Ani, Ali?
B: Bukan. Ani adikku. Nama kakakku Ana. B: No. Ani is my younger sister. My older sister’s name is Ana.
B: Dan anak perempuan itu, siapa namanya? B: And what is the name of that girl?
A: Anak perempuan itu? Namanya Lusi. A: That girl? Her name is Lusi.
B: Nama anak laki-laki itu Teddy, bukan? B: That boy’s name is Teddy, isn’t it?
A: Bukan. Namanya Robby. A: No. His name is Robby.
B: Apakah kamu tahu siapa pria yang tinggi itu? B: Do you know who that tall man is?
A: Ya. Aku mengenalnya dengan benar. Dia kakak laki-lakiku. Namanya Adam. A: Yes. I know him well. He is my older brother, His name is Adam.
B: Dan siapa bapak dan ibu yang berdiri di dekat pintu itu? B: And who are the gentleman and the lady standing near that door?
A: Oh, itu bapak dan ibuku. Bapak dan Ibu Arifin. A: O, they are my father and my mother. Mr and Mrs Arifin.

Sampaikan salamku

Salam: Di Halte Bis

Greetings: At the Bus Stop

Laura: Hai, Steve. Lama tak jumpa. Gimana kabarnya?

Steven: Hai Laura. Biasa-biasa saja. Dan kamu?

 

Laura: Aku juga biasa-biasa saja. Apakah orangtuamu baik-baik saja?

 

Steven: Ya, mereka baik-baik saja. Gimana dengan orangtuamu?

 

Laura: Ibuku sehat-sehat, tapi ayahku sedang sakit.

 

Steven: Ah, sayang sekali. Apakah dia sakit keras?

 

Laura: Tidak, dia cuma tidak enak badan. Mungkin terkena selesma.

 

Steven: Oh begitu? Mudah-mudahan dia cepat sembuh ya.

 

Laura: Terima kasih. Kamu mau kemana?

 

Steven: Aku mau pulang. Ini dia, bisku sudah datang. Sampaikan salamku kepada keluargamu.

 

Laura: Ya. Sampaikan salamku kepada orangtuamu juga ya. Sampai jumpa lagi!

 

 

Laura: Hi, Steve. Long time not see. How are you? 

Steven: Hi Laura. So-so. And you?

 

Laura: I’m so-so too. Are your parents well?

 

 

Steven: Yes, they’re very well, thank you. How about yours?

 

Laura: My mother is fine, but my father is sick.

 

 

Steven: Oh, what a pity. Is it serious?

 

Laura: No, he just doesn’t feel well. Perhaps he catches cold.

 

Steven: Oh is that so? Hope for a speedy recovery.

 

Laura: Thank you. Where do you go?

 

Steven: I’m going home. Here it is, my bus has come. My regards to your family.

 

Laura: I will. Please pass my regards to your parents too. See you again.

 

Selamat Siang (2)

Salam: Siang Hari di Kantor Guru

Greetings: Day time at the Teacher Office

Laura: Halo. Selamat siang, Bu.

Mrs Abraham: Halo. Selamat siang, Laura. Apa kabarmu?

 

Laura: Baik-baik saja, Bu. Dan bagaimana kabar Ibu?

 

Mrs Abraham: Juga baik. Orangtuamu, baik-baik saja, bukan?

 

Laura: Ya, begitulah. Mereka baik-baik saja.

 

Mrs Abraham: Syukurlah. Ada yang perlu saya bantu?

 

Laura: Ya, Bu. Hari ini saya tidak bisa hadir di kelas Bahasa Indonesia karena saya ada latihan drama.

 

Mrs Abraham: Baiklah. Apakah kamu sudah menyelesaikan Pekerjaan Rumahmu?

 

Laura: Ya, sudah, Bu. Ini PRnya.

 

Mrs Abraham: Bagus. Harap pelajari bab selanjutnya yaitu tentang Kartini dan hapalkan kosakatanya ya.

 

Laura: Baik, Bu. Maaf, saya harus pergi sekarang. Sampai jumpa, Bu.

 

Mrs Abraham: Sampai jumpa.

 

Laura: Hello. Good day, Miss.

Mrs Abraham: Hello. Good morning, Laura. How are you?

 

Laura: Fine, thanks. And how are you?

 

Mrs Abraham: I’m well too, thanks. Your parents are very well, I hope.

 

Laura: Yes, indeed. They’re very well.

 

Mrs Abraham: I am pleased. Is there anything I can help you?

 

Laura: Yes, Bu. Today I won’t be in the Indonesian class because I have a drama practice.

 

Mrs Abraham: Okay. Have you done your homework?

 

Laura: Yes, I have, Miss. Here it is.

 

Mrs Abraham: Good. Please learn the next chapter which is about Kartini and memorise the vocabulary.

 

Laura: Alright, Bu. Sorry, I have to go now. See you, Miss.

 

Mrs Abraham: See you.

 

 

 

Selamat pagi

Salam: Pagi Hari di Rumah Keluarga Broto

Greetings: In the Morning at the Broto’s

Laura: Selamat pagi, Ibu. Selamat pagi, Ayah.

Ibu: Selamat pagi, Laura.

Ayah: Bagaimana tidurmu?

Laura: Saya tidur nyenyak.

Ibu: Ayo, kita sarapan. Pagi ini kita makan nasi goreng untuk sarapan.

Laura: Hmmm … enak.

Ayah: Cepat habiskan sarapanmu, Nak. Ayah harus pergi ke kantor lebih awal hari ini. Ayah ada rapat.

Laura: Baiklah, Ayah.

Ibu: Jangan lupa minum susumu, Laura.

Laura: Tentu saja, Bu.

Ayah: Maaf, kami harus pergi sekarang. Sampai nanti.

Laura: Sampai nanti, Bu.

Ibu: Ya, sampai nanti. Hati-hati di jalan.

Laura: Good morning, Mother. Good morning, Father.

Mother: Good morning, Laura.

Father: How’s your sleep?

Laura: I slept like a log.

Mother: Let’s have breakfast. This morning, we have fried rice for breakfast.

Laura: Mmmm … delicious.

Father: Hurry up, finish your breakfast dear. I must go to the office earlier today. I have a meeting.

Laura: Okay, Father.

Mother: Don’t forget to drink your milk, Laura.

Laura: Of course, Mom

Father: Sorry, we have to go now. See you later.

Laura: See you later, Mom.

Mother: Yes, see you later. Be careful on the road.

 

 

Fire Red Rose

Bertemu dengan Seorang Teman (Meeting a Friend)

A: Halo Andy! Apa kabar? A: Hello, Andy. How are you?
B: Baik, terima kasih. Dan bagaimana kabarmu, Michelle? B: I’m fine, thanks. And how are you, Michelle?
A: Baik sekali, terima kasih. Senang bertemu kembali. Saya sudah lama tidak bertemu denganmu. A: Very well, thanks. Nice to see you again. I haven’t seen you for a long time.

 

A: Apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini? A: What have you been doing lately?
B: Ah, tidak banyak sebenarnya. Dan bagaimana semuanya dengan kamu? B: Oh, nothing much really. And how’s everything with you?
A: Baik, terima kasih. Saya sibuk akhir-akhir ini. A: Fine, thanks. I’ve been busy lately.

 

B: Apa saja yang kamu lakukan? B: What have you been doing?
A: Saya belajar untuk ujian-ujian saya. Ujian-ujian sekolah saya mulai pada bulan depan. A: I’ve been studying for my exams. My school exams begin next month.
B: Sungguh? Selamat ujian. B: Really? Good luck with your exams.

 

A: Terima kasih. Dan bagaimana kedua orangtuamu? A: Thanks. And how are your parents?
B: Mereka berdua baik-baik saja, terima kasih. B: They’re both very well, thanks.
A: Ke mana kamu mau pergi sekarang? A: Where are you going now?
B: Saya mau pergi berbelanja. B: I’m going to do some shopping.

 

B: Mengapa kamu tidak ikut bersama saya saja? B: Why don’t you come with me?
A: Saya tidak bisa. Saya harus bertemu dengan seseorang. A: I can’t. I have to meet someone.
B: Baiklah. Senang bercakap-cakap denganmu. B: Okay. It’s been nice talking with you.
A: Selamat tinggal Andy. Sampai jumpa lagi suatu waktu. A: Good bye Andy. See you again sometime.

 

 

Purple Rose

Bertemu dengan Teman-Teman di Sebuah Pesta (Meeting Friends at a Party)

Tono: Bram, apakah kamu sudah kenal Andy? Tono: Bram, have you met Andy?
Bram: Belum. Apa kabar? Bram: No, I haven’t. How do you do?
Andy: Kabar baik. Senang berkenalan dengan Anda. Siapa nama Anda? Andy: How do you do. It’s nice to meet you. What’s your name?
Bram: Nama saya Bram. Bram: My name is Bram.
Andy: Apakah Anda temannya Tono? Andy: Are you Tono’s friend?
Bram: Ya, kami bermain sepakbola bersama-sama dan dulu kami bersekolah di sekolah yang sama. Bram: Ya, we play soccer together and we went to the same school.

 

Tono: Hei, ada Michelle. Hai Michelle, mari berkenalan dengan beberapa teman. Tono: Hey, there’s Michelle. Hi Michelle, come and meet some friends.
Tono: Michelle, ini Bram dan Andy. Tono: Michelle, these are Bram and Andy.
Michelle: Maaf, siapa namanya? Michelle: Sorry, what’s your name?
Andy: Nama depan saya Andy. Dan Anda? Andy: My first name is Andy. And yours?
Michelle: Michelle. Mudah untuk diingat. Michelle: Michelle. It’s easy to remember.

 

Andy: Apakah Anda mau berdansa? Andy: Would you like to dance?
Michelle: Ya, terima kasih. Michelle: Yes, thank you.

 

Andy: Apakah Anda suka berdansa? Andy: Do you like dancing?
Michelle: Ya, saya gemar. Michelle: Yes, I love it.

 

Andy: Kita harus pergi berdansa bersama pada suatu waktu. Andy: We must go dancing together sometime.
Michelle: Itu akan menyenangkan, terima kasih. Michelle: That would be nice, thank you.

 

Yellow Rose

Bercakap-Cakap dengan Seorang Pelajar Bahasa Indonesia (Talking to an Indonesian Language Student)

Sudah berapa lama Anda belajar bahasa Indonesia? How long have you been studying Indonesian?
Saya sudah belajar bahasa Indonesia selama kira-kira enam tahun, sejak saya berumur sepuluh tahun. I have been studying it for about six years, since I was 10 years old.

 

Guru saya berasal dari Malaysia. My teacher was from Malaysia.
Dia adalah seorang guru yang sangat bagus. She was a very good teacher.
Saya senang belajar bahasa Indonesia kepadanya. I enjoyed studying Indonesian with him.

 

Apakah Anda masih belajar bahasa Indonesia? Are you still studying Indonesian?
Ya, sekarang saya mengambil kursus pada malam hari. Yes, now I am taking night courses.

 

Berapa kali seminggu kelasnya? How many times a week are the classes?
Dua kali seminggu, pada hari Rabu malam dan hari Jumat malam. Twice a week, on Wednesday nights and Friday nights.

 

Menurut Anda, apakah bahasa Indonesia sukar? According to you, is Indonesian difficult?
Ya, agak sukar, saya pikir. Yes, it’s rather difficult, I think.

 

Apakah saya banyak membuat kesalahan? Do I make many mistakes?
Tidak, bahasa Indonesia Anda bagus sekali. No, your Indonesian is very good.

 

Apakah Anda sering mendengarkan radio? Do you often listen to the radio?
Ya, saya mendengarkan radio setiap malam. Yes, I listen to the radio every night.
Saya juga menonton televisi. I also watch television.

 

Apakah Anda juga senang membaca buku-buku dalam bahasa Indonesia? Do you also enjoy reading Indonesian books?
Ya, saya membaca banyak buku bahasa Indonesia. Yes, I read a lot of Indonesian books.
Tetapi saya lebih senang percakapan. Saya senang bercakap-cakap dengan orang Indonesia. But I prefer conversation. I like talking with Indonesian people.