Buku apa yang sedang kamu baca itu, Maureen?’ tanya Jack McDonald kepada isterinya.

‘Kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini. Bagus betul buku ini dan padat isinya. Dengarkanlah isi suratnya kepada temannya, Stella, yang menguraikan tentang adat kesopanan keluarganya.

“Menurut adat kesopanan orang Jawa, adikku harus merangkak bila hendak lewat di mukaku. Kalau adikku duduk di kursi, apabila aku lewat, dia harus turun dengan segera dan duduk di lantai dengan menundukkan kepala, sampai aku meninggalkan tempat itu. Kalau dia menegurku, hanya boleh dalam bahasa Kromo saja. Tiap-tiap kalimat yang diucapkan, haruslah diiringi dengan sembah.

Kepada kakakku laki-laki, maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan patuh; tetapi aku dan adik-adikku tidak mengindahkan adat itu lagi.”

Dengarkan pula keluhannya ketika dia dipingit.

“Engkau bertanya apa sebabnya aku dikurung dalam empat tembok tebal. Ini adalah adat kebiasaan untuk gadis Jawa. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman luas, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana pun juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal di sana, tidak pernah boleh keluar tembok, maka sempit dan sesaklah rasanya.

Teringat aku, betapa oleh karena putus asa dan sedih yang tiada terhingga, aku menghempaskan badanku berulang-ulang ke pintu yang selalu tertutup itu dan ke tembok yang bengis itu. Kemana pun juga aku pergi, selalu terhambat juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci.”

Tentang orang-orang Belanda yang angkuh dan gila hormat, dia mengatakan:

“Waktu berapat, pegawai Belanda, betapa pun rendah pangkatnya, berhak duduk di atas kursi, sedang pegawai Jawa di bawah pangkat Bupati, tidak pandang umur, asal-usul, kecakapan, harus duduk di lantai. Sungguh pedih hati melihat seorang Wedana yang sudah tua dan beruban itu, lalu berjalan membongkok-bongkok di hadapan pegawai pemerintah Belanda yang masih mentah, yang baru saja keluar sekolah.

Banyak orang Belanda di sini yang tidak suka melihat orang Jawa yang di bawahnya maju; dan tiap-tiap kali ada orang kulit hitam membuktikan bahwa dia ada juga berotak berperasaan, tiada bedanya dengan orang kulit putih, mereka merasa jengkel.

Sekarang tahulah aku mengapa orang Belanda tiada suka orang Jawa maju. Apabila si Jawa itu telah berpengetahuan, tiadalah ia hendak mengiya dan mengamini saja lagi.”

Memang Kartini seorang wanita yang cerdas. Tetapi sayang sekali dia meninggal ketika melahirkan anaknya yang pertama. Waktu itu dia baru saja berumur 24 tahun”. Kata Maureen mengakhiri ceritanya.

Pertanyaan:

  1. Buku apa yang dibaca Maureen kali ini?
  2. Terangkanlah dengan singkat tentang adat kesopanan di Jawa pada zaman kakak beradik Kartini!
  3. Apakah yang dilakukan Kartini untuk mencoba mengubah adat kesopanan itu dalam keluarganya?
  4. Ketika dia dipingit, apakah sebetulnya yang disebutnya dengan ‘penjara’ itu?
  5. Apa yang dikatakannya dalam suratnya mengenai pingitan?
  6. Dalam hal apa Kartini melihat keangkuhan orang Belanda terhadap orang Jawa pada waktu itu?
  7. Mengapa menurut pendapat Kartini orang Belanda tidak mau melihat orang Jawa maju?
  8. Setelah membaca riwayat hidup Kartini dan kutipan surat-suratnya, bagaimana pendapatmu tentang Kartini secara perseorangan?
  9. Apa yang menyebabkan Kartini meninggal dunia?
  10. Umur berapa dia meninggal?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kutipan = quotation penjara = jail
surat = letter senantiasa = always
puteri = princess sempit = narrow
kumpulan = compilation sesak = tight
padat = packed teringat = to be remembered
kesopanan = manner putus asa = given up
merangkak = to crawl menghempaskan = to bang
hendak = wish badan = body
lewat = to pass by bengis = cruel
segera = immediately angkuh = arrogant
lantai = floor berapat = to have a meeting
menundukkan = to bow pangkat = position/rank
meninggalkan = to leave kecakapan = smartness
menegur = to greet pedih = painful
kalimat = sentence beruban = to have grey hair
mengucapkan = to say mentah = unripe
mengiringi = to accompany by membuktikan = to prove
sembah = respect jengkel = annoyed
menuruti = to obey mengiya dan mengamini = to say ‘yes’ and ‘agree’
patuh = obedience cerdas = smart
mengindahkan = to consider sayang sekali = unfortunately
keluhan = complaint meninggal = die
tembok = wall melahirkan = to give birth
tebal = thick mengakhiri = to end
kebiasaan = customs  

 

‘Mau pergi ke mana kamu Santi? Kamu cantik sekali memakai kain dan kebaya’, kata Maureen kepada Santi.

Memang biasanya sehari-hari Santi lebih suka memakai baju rok, karena lebih bebas untuk bergerak-katanya.

‘Hari ini adalah tanggal 21 April yaitu hari lahir Raden Ajeng Kartini. Saya akan pergi menghadiri upacara peringatan hari lahirnya. Lazim dilakukan oleh wanita Indonesia untuk datang menghadiri upacara dengan memakai pakaian nasional atau pakaian daerah’.

‘Siapa Kartini itu?’ tanya Maureen.

‘Dia seorang pelopor wanita yang memperjuangkan perbaikan hak wanita di Indonesia. Dia lahir pada tahun 1879.

Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang bangsawan, Bupati di Jepara.

Kakeknya, Pangeran Ario Condronegoro, terkenal sebagai seorang yang suka akan kemajuan. Dia mendatangkan seorang guru Belanda, khusus untuk mengajar anak-anaknya.

Pada tahun 1879, di seluruh pulau Jawa dan Madura, hanya ada empat orang Bupati yang pandai menulis, membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Dua orang di antara mereka adalah ayah dan paman Kartini.

Begitulah nyata sekali kelihatan kemajuan keluarga Kartini. Kartini pun diberi kesempatan oleh ayahnya untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak Belanda di sekolah dasar dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Pada zaman itu, pergi ke sekolah, walaupun hanya di seberang jalan, untuk seorang anak perempuan Jawa, adalah sesuatu yang aneh. Keluarganya mendapat celaan dan ejekan dari bupati-bupati lain dan orang-orang yang masih kolot.

Tetapi kebebasan yang diberikan oleh ayahnya juga tidak lama, karena ketika Kartini genap berusia 12 tahun, dia dikeluarkan dari sekolah dan kemudian dipingit sebagaimana yang diharuskan oleh adat Jawa di zaman itu.

Kartini merasa kesepian terpisah dari teman-teman sepergaulannya. Dia masih ingin terus belajar. Dia tidak ingin kurang dari kawan-kawannya anak-anak Eropah dan saudara-saudaranya yang laki-laki yang mendapat kebebasan untuk terus belajar. Dia kesal dan ingin memberontak. Lebih-lebih lagi setelah diketahuinya bahwa dia dipingit hanya untuk menunggu saatnya untuk menjadi Raden Ayu yaitu saat pekawinannya dengan orang yang biasanya belum dikenal. Bahkan barangkali menjadi isteri yang kedua, ketiga atau keempat.

Dia ingin sekali mengubah hak wanita dalam adat kebiasaan Jawa, sedangkan ibu dan kakaknya yang perempuan bepegang teguh kepada adat itu dan sangat mencela cita-cita Kartini. Ini menyebabkan hubungan di dalam keluarganya menjadi tegang.

Ayah Kartini mengerti akan perasaan dan cita-cita anaknya, tetapi sedikit sekali yang dapat diperbuatnya untuk menolong anaknya. Kartini sering duduk sendirian membaca buku. Kesenangannya yang lain adalah berkirim-kiriman surat dalam bahasa Belanda dengan bekas teman sekelasnya dulu, yang telah kembali ke negeri Belanda, dan juga kepada kenalan-kenalannya di pulau Jawa.

Dari isi surat-surat inilah orang mengetahui pribadi Kartini dan cita-citanya. Memang isi surat-suratnya mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan dirinya, tetapi caranya mengolah dan menguraikan persoalan-persoalan betul-betul luas dan mendalam. Selanjutnya, kita harus memahami bahwa perjuangan dalam diri Kartini adalah cermin perjuangan masyarakat Jawa pada umumnya dan kaum wanita pada khususnya.

Begitulah, pada tahun 1911, orang-orang Belanda yang sadar, merasa perlu mengumpulkan surat-surat Kartini dan dijadikan buku.

Kalau tidak salah, saya ada mempunyai terjemahan buku itu dalam bahasa Inggris, berjudul ‘Letters of a Javanese Princess’. Nanti saya pinjamkan ya’, kata Santi.

‘Terima kasih, Santi. Saya ingin sekali membaca buku itu. Sampai nanti.’ kata Maureen.

Pertanyaan:

  1. Apakah sebabnya hari lahir Randen Ajeng Kartini diperingati?
  2. Kapan dia lahir?
  3. Siapa ayahnya?
  4. Ceritakanlah sedikit tentang kakeknya, Pangeran Ario Condronegoro?
  5. Bagaimana reaksi bupati-bupati lain dan orang-orang yang masih kolot tentang Kartini pergi ke sekolah?
  6. Ketika dia dipingit, dia merasa kesepian, kesal dan mau memberontak. Apakah sebabnya?
  7. Apakah sebabnya hubungan di dalam keluarganya menjadi tegang?
  8. Apakah kesenangan Kartini?
  9. Isi surat-surat Kartini mengenai apa?
  10. Tahun berapa surat-surat itu mulai dikumpulkan dan dijadikan buku? Siapa yang mengumpulkannya?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kain = cloth memberontak = to rebel
kebaya = blouse as part of Indonesian woman’s national dress menunggu = to wait
baju rok = dress perkawinan = marriage
bebas = free barangkali = possibly
bergerak = to move berpegang teguh = to hold firmly
hari lahir = birthday cita-cita = aspiration
menghadiri = to attend perasaan = feeling
upacara = ceremony menolong = to help
peringatan = commemoration berkirim-kiriman surat = to correspondence
lazim = common bekas = former
pakaian nasional = national dress mengetahui = to know
pakaian daerah = ethnic dress pribadi = personality
pelopor = pioneer kejadian = event
memperjuangkan = to fight mengolah = to discuss
hak = right menguraikan = to explain in detail
bangsawan = nobel persoalan = problem
bupati = regent luas = broad
kesempatan = opportunity mendalam = in depth
aneh = odd memahami = to understand
celaan = criticism cermin = mirror
ejekan = teasing masyarakat = community
kolot = old fashioned sadar = aware
genap = complete/exactly mengumpulkan = to compile
dipingit = to be confined Kalau saya tidak salah, = If I am not mistaken,
adat = tradition meminjamkan = to lend
kesepian = lonely  
terpisah = separated  
kesal = frustrated