Pengarang: Mochtar Lubis

Autobiography

1969 (Sept-Oct) Quadrant 11-23

Sebuah cerita tentang diri pengarang (catatan harian) yang ditulis ketika pengarang dipenjarakan di Madiun. Karangan yang ditulis pada bulan Pebruari 1962 ini ditulis dengan sangat baik yang mengungkapkan tentang sejarah, khususnya suku Batak Mandailing. Karangan ini begitu menarik untuk dibaca sampai beberapa kali karena mengandung hal-hal yang pernah saya dengar tetapi tidak terpahami seratus persen.

Pengarang bercerita tentang masa kanak-kanaknya sebagai anak ke enam dari dua belas bersaudara dan dibesarkan di Simurup, Kerinci, Sumatera oleh orangtua yang berasal dari keluarga bangsawan Sumatera. Ayahnya dari suku marga Lubis yang berpengaruh. Demikian juga sang ibu dari suku marga Nasution yang ningrat. Tetapi ibunya bukanlah isteri pertama dari ayahnya namun bersikeras agar ayahnya menceraikan isteri pertama kalau ingin hidup bersamanya. Sifat yang sangat dikagumi pengarang selaku anak.

Menarik untuk mengamati bagaimana pengarang yang adalah dari suku Batak tetapi yang disebut orang Mandailing karena beragama Islam, bercerita tentang kebiasaan kaum pria suku Batak yang membiarkan isteri mengerjakan kebanyakan pekerjaan yang berat-berat termasuk bersawah dan mencari kayu bakar, kecuali berburu dan menderes getah yang merupakan pekerjaan laki-laki. Juga kebiasaan duduk di kedai kopi (yang isinya kaum pria dan adalah aneh kalau ada wanita hadir di situ) pada sore hari menikmati kopi sambil bergosip dari politik, Presiden Amerika yang baru, korupsi di Jakarta dan gosip terakhir di daerah itu.

Tidak kalah menariknya ketika pengarang bercerita tentang dongeng-dongeng orangtua yang menakuti-nakuti anak-anak mereka agar tidak nakal dan tidak bermain-main jauh dari rumah, termasuk cerita tentang ‘Orang Bunian’ yaitu orang-orang yang tidak dapat kelihatan oleh mata. Anak-anak nakal yang bermain petak-umpat terlalu jauh dari desa akan menjadi mangsa ‘Orang Bunian’. Anak-anak nakal itu dapat dikelabui oleh seekor burung yang indah, pohon yang kelihatan seperti rumah-rumah yang indah di tengah hutan. Anak-anak nakal akan terbawa jauh ke dalam hutan dan setibanya di sana, ‘Orang Bunian’ akan menampakkan diri mereka dan anak-anak nakal itu akan diberi makan telur-telur semut yang di mata mereka terlihat seperti nasi. Mereka akan tinggal di hutan lama sekali dan ketika mereka ditemukan oleh orang, mereka telah menjadi dungu dan bodoh dengan rambut dan kuku yang panjang dan kotor.

Pengalaman ayah pengarang sebagai seorang Demang yang bekerja untuk pihak penjajah Belanda diceritakan tanpa rasa bangga sama sekali walaupun pengarang kagum kepada ayahnya yang sangat cinta terhadap rakyatnya. Pertama-tama, pengarang tidak mengerti mengapa ayahnya dengan nada keras melarang anak-anaknya, khususnya anak laki-lakinya untuk berkarir sebagai pegawai pemerintah. Ayahnya menginginkan anak-anaknya lebih lagi untuk bekerja dengan hasil tangan mereka termasuk pedagang dan petani (tetapi petani moderen). Baru kemudian setelah pengarang besar dan belajar tentang politik, ekonomi dan sejarah, dia mengerti mengapa ayahnya merasa menderita dalam menjalankan pekerjaannya sebagai pegawai pemerintah kolonial.

Walaupun jalur ceritanya terasa sangat tiba-tiba beralih topik ketika pengarang bercerita tentang pekerjaannya ketika dia berusia 22 tahun bekerja sebagai seorang jurnalis di Radio Militer Jepang, sangat menarik untuk membaca cerita pengarang tentang bagaimana bedanya penampilan tentara Jepang kalau dibandingkan dengan tentara Belanda. Digambarkan bahwa seragam tentara Jepang tidaklah seindah, sebagus dan sebersih seragam tentara Belanda.

Akhirnya saya mengagumi keberanian dan kejujuran pengarang dalam mengungkapkan pendapatnya tentang kemerdekaan Indonesia yang bukan seratus persen karena bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaannya tetapi juga beruntung karena situasi internasional yang menolong tercapainya kemerdekaan itu dimana sikap orang Amerika dan orang Australia dan pandangan internasional pada waktu itu yang mendukung usaha memerdekakan diri dari penjajah.

Hasil karya Mochtar Lubis ini perlu dibaca bagi mereka yang tertarik akan sejarah dan budaya.

(Oleh Sony Rospita Simanjuntak, 2012)