Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Buku apa yang sedang kamu baca itu, Maureen?’ tanya Jack McDonald kepada isterinya.

‘Kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini. Bagus betul buku ini dan padat isinya. Dengarkanlah isi suratnya kepada temannya, Stella, yang menguraikan tentang adat kesopanan keluarganya.

“Menurut adat kesopanan orang Jawa, adikku harus merangkak bila hendak lewat di mukaku. Kalau adikku duduk di kursi, apabila aku lewat, dia harus turun dengan segera dan duduk di lantai dengan menundukkan kepala, sampai aku meninggalkan tempat itu. Kalau dia menegurku, hanya boleh dalam bahasa Kromo saja. Tiap-tiap kalimat yang diucapkan, haruslah diiringi dengan sembah.

Kepada kakakku laki-laki, maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan patuh; tetapi aku dan adik-adikku tidak mengindahkan adat itu lagi.”

Dengarkan pula keluhannya ketika dia dipingit.

“Engkau bertanya apa sebabnya aku dikurung dalam empat tembok tebal. Ini adalah adat kebiasaan untuk gadis Jawa. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman luas, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana pun juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal di sana, tidak pernah boleh keluar tembok, maka sempit dan sesaklah rasanya.

Teringat aku, betapa oleh karena putus asa dan sedih yang tiada terhingga, aku menghempaskan badanku berulang-ulang ke pintu yang selalu tertutup itu dan ke tembok yang bengis itu. Kemana pun juga aku pergi, selalu terhambat juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci.”

Tentang orang-orang Belanda yang angkuh dan gila hormat, dia mengatakan:

“Waktu berapat, pegawai Belanda, betapa pun rendah pangkatnya, berhak duduk di atas kursi, sedang pegawai Jawa di bawah pangkat Bupati, tidak pandang umur, asal-usul, kecakapan, harus duduk di lantai. Sungguh pedih hati melihat seorang Wedana yang sudah tua dan beruban itu, lalu berjalan membongkok-bongkok di hadapan pegawai pemerintah Belanda yang masih mentah, yang baru saja keluar sekolah.

Banyak orang Belanda di sini yang tidak suka melihat orang Jawa yang di bawahnya maju; dan tiap-tiap kali ada orang kulit hitam membuktikan bahwa dia ada juga berotak berperasaan, tiada bedanya dengan orang kulit putih, mereka merasa jengkel.

Sekarang tahulah aku mengapa orang Belanda tiada suka orang Jawa maju. Apabila si Jawa itu telah berpengetahuan, tiadalah ia hendak mengiya dan mengamini saja lagi.”

Memang Kartini seorang wanita yang cerdas. Tetapi sayang sekali dia meninggal ketika melahirkan anaknya yang pertama. Waktu itu dia baru saja berumur 24 tahun”. Kata Maureen mengakhiri ceritanya.

Pertanyaan:

  1. Buku apa yang dibaca Maureen kali ini?
  2. Terangkanlah dengan singkat tentang adat kesopanan di Jawa pada zaman kakak beradik Kartini!
  3. Apakah yang dilakukan Kartini untuk mencoba mengubah adat kesopanan itu dalam keluarganya?
  4. Ketika dia dipingit, apakah sebetulnya yang disebutnya dengan ‘penjara’ itu?
  5. Apa yang dikatakannya dalam suratnya mengenai pingitan?
  6. Dalam hal apa Kartini melihat keangkuhan orang Belanda terhadap orang Jawa pada waktu itu?
  7. Mengapa menurut pendapat Kartini orang Belanda tidak mau melihat orang Jawa maju?
  8. Setelah membaca riwayat hidup Kartini dan kutipan surat-suratnya, bagaimana pendapatmu tentang Kartini secara perseorangan?
  9. Apa yang menyebabkan Kartini meninggal dunia?
  10. Umur berapa dia meninggal?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kutipan = quotation penjara = jail
surat = letter senantiasa = always
puteri = princess sempit = narrow
kumpulan = compilation sesak = tight
padat = packed teringat = to be remembered
kesopanan = manner putus asa = given up
merangkak = to crawl menghempaskan = to bang
hendak = wish badan = body
lewat = to pass by bengis = cruel
segera = immediately angkuh = arrogant
lantai = floor berapat = to have a meeting
menundukkan = to bow pangkat = position/rank
meninggalkan = to leave kecakapan = smartness
menegur = to greet pedih = painful
kalimat = sentence beruban = to have grey hair
mengucapkan = to say mentah = unripe
mengiringi = to accompany by membuktikan = to prove
sembah = respect jengkel = annoyed
menuruti = to obey mengiya dan mengamini = to say ‘yes’ and ‘agree’
patuh = obedience cerdas = smart
mengindahkan = to consider sayang sekali = unfortunately
keluhan = complaint meninggal = die
tembok = wall melahirkan = to give birth
tebal = thick mengakhiri = to end
kebiasaan = customs  

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

‘Mau pergi ke mana kamu Santi? Kamu cantik sekali memakai kain dan kebaya’, kata Maureen kepada Santi.

Memang biasanya sehari-hari Santi lebih suka memakai baju rok, karena lebih bebas untuk bergerak-katanya.

‘Hari ini adalah tanggal 21 April yaitu hari lahir Raden Ajeng Kartini. Saya akan pergi menghadiri upacara peringatan hari lahirnya. Lazim dilakukan oleh wanita Indonesia untuk datang menghadiri upacara dengan memakai pakaian nasional atau pakaian daerah’.

‘Siapa Kartini itu?’ tanya Maureen.

‘Dia seorang pelopor wanita yang memperjuangkan perbaikan hak wanita di Indonesia. Dia lahir pada tahun 1879.

Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang bangsawan, Bupati di Jepara.

Kakeknya, Pangeran Ario Condronegoro, terkenal sebagai seorang yang suka akan kemajuan. Dia mendatangkan seorang guru Belanda, khusus untuk mengajar anak-anaknya.

Pada tahun 1879, di seluruh pulau Jawa dan Madura, hanya ada empat orang Bupati yang pandai menulis, membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Dua orang di antara mereka adalah ayah dan paman Kartini.

Begitulah nyata sekali kelihatan kemajuan keluarga Kartini. Kartini pun diberi kesempatan oleh ayahnya untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak Belanda di sekolah dasar dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Pada zaman itu, pergi ke sekolah, walaupun hanya di seberang jalan, untuk seorang anak perempuan Jawa, adalah sesuatu yang aneh. Keluarganya mendapat celaan dan ejekan dari bupati-bupati lain dan orang-orang yang masih kolot.

Tetapi kebebasan yang diberikan oleh ayahnya juga tidak lama, karena ketika Kartini genap berusia 12 tahun, dia dikeluarkan dari sekolah dan kemudian dipingit sebagaimana yang diharuskan oleh adat Jawa di zaman itu.

Kartini merasa kesepian terpisah dari teman-teman sepergaulannya. Dia masih ingin terus belajar. Dia tidak ingin kurang dari kawan-kawannya anak-anak Eropah dan saudara-saudaranya yang laki-laki yang mendapat kebebasan untuk terus belajar. Dia kesal dan ingin memberontak. Lebih-lebih lagi setelah diketahuinya bahwa dia dipingit hanya untuk menunggu saatnya untuk menjadi Raden Ayu yaitu saat pekawinannya dengan orang yang biasanya belum dikenal. Bahkan barangkali menjadi isteri yang kedua, ketiga atau keempat.

Dia ingin sekali mengubah hak wanita dalam adat kebiasaan Jawa, sedangkan ibu dan kakaknya yang perempuan bepegang teguh kepada adat itu dan sangat mencela cita-cita Kartini. Ini menyebabkan hubungan di dalam keluarganya menjadi tegang.

Ayah Kartini mengerti akan perasaan dan cita-cita anaknya, tetapi sedikit sekali yang dapat diperbuatnya untuk menolong anaknya. Kartini sering duduk sendirian membaca buku. Kesenangannya yang lain adalah berkirim-kiriman surat dalam bahasa Belanda dengan bekas teman sekelasnya dulu, yang telah kembali ke negeri Belanda, dan juga kepada kenalan-kenalannya di pulau Jawa.

Dari isi surat-surat inilah orang mengetahui pribadi Kartini dan cita-citanya. Memang isi surat-suratnya mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan dirinya, tetapi caranya mengolah dan menguraikan persoalan-persoalan betul-betul luas dan mendalam. Selanjutnya, kita harus memahami bahwa perjuangan dalam diri Kartini adalah cermin perjuangan masyarakat Jawa pada umumnya dan kaum wanita pada khususnya.

Begitulah, pada tahun 1911, orang-orang Belanda yang sadar, merasa perlu mengumpulkan surat-surat Kartini dan dijadikan buku.

Kalau tidak salah, saya ada mempunyai terjemahan buku itu dalam bahasa Inggris, berjudul ‘Letters of a Javanese Princess’. Nanti saya pinjamkan ya’, kata Santi.

‘Terima kasih, Santi. Saya ingin sekali membaca buku itu. Sampai nanti.’ kata Maureen.

Pertanyaan:

  1. Apakah sebabnya hari lahir Randen Ajeng Kartini diperingati?
  2. Kapan dia lahir?
  3. Siapa ayahnya?
  4. Ceritakanlah sedikit tentang kakeknya, Pangeran Ario Condronegoro?
  5. Bagaimana reaksi bupati-bupati lain dan orang-orang yang masih kolot tentang Kartini pergi ke sekolah?
  6. Ketika dia dipingit, dia merasa kesepian, kesal dan mau memberontak. Apakah sebabnya?
  7. Apakah sebabnya hubungan di dalam keluarganya menjadi tegang?
  8. Apakah kesenangan Kartini?
  9. Isi surat-surat Kartini mengenai apa?
  10. Tahun berapa surat-surat itu mulai dikumpulkan dan dijadikan buku? Siapa yang mengumpulkannya?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kain = cloth memberontak = to rebel
kebaya = blouse as part of Indonesian woman’s national dress menunggu = to wait
baju rok = dress perkawinan = marriage
bebas = free barangkali = possibly
bergerak = to move berpegang teguh = to hold firmly
hari lahir = birthday cita-cita = aspiration
menghadiri = to attend perasaan = feeling
upacara = ceremony menolong = to help
peringatan = commemoration berkirim-kiriman surat = to correspondence
lazim = common bekas = former
pakaian nasional = national dress mengetahui = to know
pakaian daerah = ethnic dress pribadi = personality
pelopor = pioneer kejadian = event
memperjuangkan = to fight mengolah = to discuss
hak = right menguraikan = to explain in detail
bangsawan = nobel persoalan = problem
bupati = regent luas = broad
kesempatan = opportunity mendalam = in depth
aneh = odd memahami = to understand
celaan = criticism cermin = mirror
ejekan = teasing masyarakat = community
kolot = old fashioned sadar = aware
genap = complete/exactly mengumpulkan = to compile
dipingit = to be confined Kalau saya tidak salah, = If I am not mistaken,
adat = tradition meminjamkan = to lend
kesepian = lonely  
terpisah = separated  
kesal = frustrated  

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Winoto: Kelihatannya Anda sudah amat lelah. Marilah kita beristirahat.

A Southern: Di mana? Kalau ada, di tempat yang teduh ya. Di bawah pohon lebih baik supaya kita dapat terlindung dari panas matahari dan mendapat hawa yang segar.

Winoto: Tadi saya sudah memesan nasi dan ayam panggang. Rumah makan yang ada di sudut jalan itu terkenal dengan ayam panggangnya.

A Southern: Sambil menunggu makanan, silakan bercerita tentang Loro Jonggrang.

Winoto: Pada zaman dahulu, di Prambanan, ada seorang raja yang bernama Raja Baka. Dia mempunyai seorang putri yang cantik sekali, namanya Loro Jonggrang.

A Southern: Artinya si Gadis Langsing atau si Gadis manis. Tetapi, bagaimana cerita selanjutnya?

Winoto: Ada seorang pemuda sakti bernama Raden Bandung. Dia ingin mengawini Loro Jonggrang. Raja Baka tidak suka putrinya kawin dengan pemuda ini. Terjadilah perang antara Raja Baka dan Raden Bandung.

A Southern: Siapa yang menang?

Winoto: Raja Baka dapat dibunuh oleh Raden Bandung. Loro Jonggrang tidak mau kawin dengan orang yang membunuh ayahnya. Dia mau kawin dengan syarat …

A Southern: Saya tahu cerita semacam ini.

Winoto: Syarat yang diajukan oleh Loro Jonggrang adalah dalam satu malam, Raden Bandung harus dapat membuat seribu candi.

A Southern: Seribu candi dalam satu malam? Bagaimana mungkin?

Winoto: Hampir saja Raden Bandung berhasil membuat seribu candi, karena dibantu oleh jin- jin. Tetapi Loro Jonggrang mendapat akal. Dia menyuruh gadis-gadis di desa menumbuk padi dan membuat api di sebelah timur.

A Southern: Untuk apa?

Winoto: Karena mendengar suara orang menumbuk padi dan melihat cahaya merah di sebelah timur, jin-jin mengira bahwa hari sudah siang. Mereka lalu berhenti bekerja dan pergi. Raden Bandung gagal membuat seribu candi, hanya kurang satu saja.

A Southern: Ah, sayang ya … hanya kurang satu.

Winoto: Karena marahnya, Raden Bandung mengutuk Loro Jonggrang menjadi batu. Kerena seolah-olah arca Loro Jonggrang tersenyum mengejek, maka hidungnya dipotong oleh Raden Bandung.

A Southern: Bagaimana akhir ceritanya?

Winoto: Masih ada lagi kutukan Raden Bandung. Karena gadis-gadis membantu Loro Jonggrang, mereka dikutuk tidak akan kawin sebelum mereka menjadi perawan tua.

A Southern: Oh, kasihan gadis-gadis itu. Cerita itu hampir sama dengan cerita Sangkuriang.

Winoto: Benar. Masih ada cerita-cerita lain yang semacam ini. Di Jawa Timur misalnya, cerita asal-usul Gungung Batok.

Jawablah!

Apakah yang Anda ketahui tentang:

  1. Raja Baka?
  2. Seorang pemuda sakti?
  3. Orang yang membunuh ayahnya?
  4. Seribu candi?
  5. Menumbuk padi dan membuat api?
  6. Berhenti bekerja dan pergi?
  7. Hidungnya dipotong oleh Raden Bandung?
  8. Sebelum mereka menjadi perawan tua?

(Kutipan langsung dengan beberapa perubahan dari buku ‘Dari Barat sampai ke Timur’ oleh Soewito Santoso dan Soemarjono)

Kosa Kata:

Kelihatannya = It seems

lelah = tired

teduh = shaded

terlindung = protected

panas matahari = sun heat

hawa = air

segar = fresh

memesan = to order

ayam panggang = roasted chicken

terkenal = famous

sambil = while

menunggu = to wait

raja = king

cantik = pretty

langsing = slim

manis = sweet

mengawini = to marry

pemuda = young man

perang = war

menang = win

membunuh = to kill

tahu = to know

seribu = one thousand

candi = temple

mungkin = possible

berhasil = successful

menumbuk = to pound

padi = rice

api =fire

timur = east

mendengar = to listen

suara = voice/sound

melihat = to see

mengira = to think

mengutuk = to curse

tersenyum = smile

mengejek = to tease

perawan = girl

semacam = alike

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

A Southern: Sekarang, bagaimana cerita tentang asal-usul Gunung Tangkuban Perahu? Maaf saya menyuruh Anda bercerita terus-menerus.

Amir: Tida apa-apa. Saya suka bercerita. Silakan, kopinya diminum lagi.

A Southern: Terima kasih. Saya sudah minum lebih dari dua cangkir.

Amir: Ada seorang putri yang amat cantik. Namanya Dayang Sumbi. Dia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat nakal.

A Southern: Mungkin ayahnya juga nakal ketika masih anak-anak. Maaf, saya menyela cerita Anda, teruskan.

Amir: Pada suatu hari, karena nakalnya, anak itu dipukul oleh ibunya dengan sebuah sendok nasi sehingga kepalanya luka dan berdarah. Anak itu lalu pergi dari rumahnya, entah ke mana …

A Southern: Kasihan!

Amir: Sebenarnya anak itu pergi bertapa. Bertahun-tahun lamanya dia bertapa, sehingga dia menjadi seorang yang sangat sakti. Kemudian dia berganti nama menjadi Sangkuriang.

A Southern: Apakah nama itu ada artinya?

Amir: Sebentar. Saya selesaikan dulu ceritanya ya.

A Southern: Oh, maaf.

Amir: Pada suatu hari, dia kembali ke kampungnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya, bahkan ibunya sendiri juga tidak mengenalnya. Pada waktu itu, Dayang Sumbi sudah menjadi seorang janda tetapi wajahnya masih tetap cantik. Sangkuriang ingin mengawininya.

A Southern: Oh, menarik sekali. Bagaimana cerita seterusnya?

Amir: Sebelum perkawinan mereka, pada suatu hari Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang. Dilihatnya luka pada kepala Sangkuriang, dan tahulah Dayang Sumbi bahwa sebenarnya Sangkuriang adalah anaknya sendiri.

A Southern: Aduh, sangat mengharukan.

Amir: Untuk membatalkan perkawinan itu, Dayang Sumbi mengajukan sebuah syarat. Syarat itu adalah, dalam satu malam Sangkuriang harus membuat sebuah telaga. Kalau dia tidak dapat membuatnya, perkawinan itu akan dibatalkan.

A Southern: Dapatkah Sangkuriang membuat telaga dalam satu malam?

Amir: Karena Sangkuriang sangat sakti, dan dia dibantu oleh jin, telaga itu hampir saja selesai.

A Southern: Jadi, mereka akan kawin?

Amir: Hampir saja. Ketika Dayang Sumbi tahu bahwa telaga itu hampir jadi, dia minta pertolongan kepada dewa-dewa.

Waktu matahari hampir terbit, Sangkuriang ada di dalam perahunya untuk menjemput Dayang Sumbi. Tiba-tiba, dewa-dewa menghancurkan telaga itu. Perahu Sangkuriang terbalik, lalu menjadi sebuah gunung.

A Southern: Bagaimana dengan Dayang Sumbi?

Amir: Dia juga terjun ke dalam air, lalu tenggelam.

A Southern: Mengharukan sekali akhir ceritanya.

Amir: Menurut cerita, perahu Sangkuriang menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Jawablah!

  1. Siapa nama putri yang cantik itu?
  2. Apa yang Anda ketahui tentang anaknya?
  3. Mengapa anak itu meninggalkan rumah ibunya?
  4. Kapan anak itu kembali ke kampungnya?
  5. Bagaimana Dayang Sumbi tahu bahwa sebenarnya Sangkuriang adalah anaknya sendiri?
  6. Apa akal Dayang Sumbi untuk membatalkan perkawinan itu?
  7. Bagaimana Sangkuriang dapat membuat telaga dalam satu malam?
  8. Siapa yang menolong Dayang Sumbi?
  9. Bagaimana akhir cerita itu?

(Kutipan langsung dengan beberapa perubahan dari buku ‘Dari Barat sampai ke Timur’ oleh Soewito Santoso dan Soemarjono)

Kosa Kata:

asal-usul = origin

menyuruh = to order/to instruct

cangkir = cup

menyela = to interrupt

sendok nasi = rice ladle

bertapa = to meditate become a hermit

sakti = supernatural power

mengenal = to know

janda = widow

wajah = face

menarik = interesting

menyisir = to comb

sebenarnya = actually

mengharukan = touching

membatalkan = to cancel

mengajukan = to propose

syarat = condition

telaga = lake

jin = evil spirit

hampir = almost

pertolongan = help

dewa = god

matahari = sun

terbit = to rise

perahu = boat

menjemput = to pick up/to fetch

tiba-tiba = suddenly

menghancurkan = to destroy

terbalik = capsize

gunung = mountain

terjun = to dive/to plunge

tenggelam = sink/drown

akal = idea

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

 

My friend’s Donna Van Clay gave me books which were belong to her late younger sister, Janny. Janny died young. Donna kept her books to remember her.
A few weeks ago, on my visit to Donna’s house, she decided to give Janny’s books to me.
I got excited to see the pictures. Some of the Dutch words in the notes, I am able to understand them but later on I might go back to Donna and ask her the translation.
I feel lucky to get Janny’s books.

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Pengarang: Mochtar Lubis

Autobiography

1969 (Sept-Oct) Quadrant 11-23

Sebuah cerita tentang diri pengarang (catatan harian) yang ditulis ketika pengarang dipenjarakan di Madiun. Karangan yang ditulis pada bulan Pebruari 1962 ini ditulis dengan sangat baik yang mengungkapkan tentang sejarah, khususnya suku Batak Mandailing. Karangan ini begitu menarik untuk dibaca sampai beberapa kali karena mengandung hal-hal yang pernah saya dengar tetapi tidak terpahami seratus persen.

Pengarang bercerita tentang masa kanak-kanaknya sebagai anak ke enam dari dua belas bersaudara dan dibesarkan di Simurup, Kerinci, Sumatera oleh orangtua yang berasal dari keluarga bangsawan Sumatera. Ayahnya dari suku marga Lubis yang berpengaruh. Demikian juga sang ibu dari suku marga Nasution yang ningrat. Tetapi ibunya bukanlah isteri pertama dari ayahnya namun bersikeras agar ayahnya menceraikan isteri pertama kalau ingin hidup bersamanya. Sifat yang sangat dikagumi pengarang selaku anak.

Menarik untuk mengamati bagaimana pengarang yang adalah dari suku Batak tetapi yang disebut orang Mandailing karena beragama Islam, bercerita tentang kebiasaan kaum pria suku Batak yang membiarkan isteri mengerjakan kebanyakan pekerjaan yang berat-berat termasuk bersawah dan mencari kayu bakar, kecuali berburu dan menderes getah yang merupakan pekerjaan laki-laki. Juga kebiasaan duduk di kedai kopi (yang isinya kaum pria dan adalah aneh kalau ada wanita hadir di situ) pada sore hari menikmati kopi sambil bergosip dari politik, Presiden Amerika yang baru, korupsi di Jakarta dan gosip terakhir di daerah itu.

Tidak kalah menariknya ketika pengarang bercerita tentang dongeng-dongeng orangtua yang menakuti-nakuti anak-anak mereka agar tidak nakal dan tidak bermain-main jauh dari rumah, termasuk cerita tentang ‘Orang Bunian’ yaitu orang-orang yang tidak dapat kelihatan oleh mata. Anak-anak nakal yang bermain petak-umpat terlalu jauh dari desa akan menjadi mangsa ‘Orang Bunian’. Anak-anak nakal itu dapat dikelabui oleh seekor burung yang indah, pohon yang kelihatan seperti rumah-rumah yang indah di tengah hutan. Anak-anak nakal akan terbawa jauh ke dalam hutan dan setibanya di sana, ‘Orang Bunian’ akan menampakkan diri mereka dan anak-anak nakal itu akan diberi makan telur-telur semut yang di mata mereka terlihat seperti nasi. Mereka akan tinggal di hutan lama sekali dan ketika mereka ditemukan oleh orang, mereka telah menjadi dungu dan bodoh dengan rambut dan kuku yang panjang dan kotor.

Pengalaman ayah pengarang sebagai seorang Demang yang bekerja untuk pihak penjajah Belanda diceritakan tanpa rasa bangga sama sekali walaupun pengarang kagum kepada ayahnya yang sangat cinta terhadap rakyatnya. Pertama-tama, pengarang tidak mengerti mengapa ayahnya dengan nada keras melarang anak-anaknya, khususnya anak laki-lakinya untuk berkarir sebagai pegawai pemerintah. Ayahnya menginginkan anak-anaknya lebih lagi untuk bekerja dengan hasil tangan mereka termasuk pedagang dan petani (tetapi petani moderen). Baru kemudian setelah pengarang besar dan belajar tentang politik, ekonomi dan sejarah, dia mengerti mengapa ayahnya merasa menderita dalam menjalankan pekerjaannya sebagai pegawai pemerintah kolonial.

Walaupun jalur ceritanya terasa sangat tiba-tiba beralih topik ketika pengarang bercerita tentang pekerjaannya ketika dia berusia 22 tahun bekerja sebagai seorang jurnalis di Radio Militer Jepang, sangat menarik untuk membaca cerita pengarang tentang bagaimana bedanya penampilan tentara Jepang kalau dibandingkan dengan tentara Belanda. Digambarkan bahwa seragam tentara Jepang tidaklah seindah, sebagus dan sebersih seragam tentara Belanda.

Akhirnya saya mengagumi keberanian dan kejujuran pengarang dalam mengungkapkan pendapatnya tentang kemerdekaan Indonesia yang bukan seratus persen karena bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaannya tetapi juga beruntung karena situasi internasional yang menolong tercapainya kemerdekaan itu dimana sikap orang Amerika dan orang Australia dan pandangan internasional pada waktu itu yang mendukung usaha memerdekakan diri dari penjajah.

Hasil karya Mochtar Lubis ini perlu dibaca bagi mereka yang tertarik akan sejarah dan budaya.

(Oleh Sony Rospita Simanjuntak, 2012)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

“Kenapa kamu pincang?” tanya si Kancil kepada si Kambing.
“Dilempar Pak Boim dengan kayu karena aku masuk ke ladangnya,” jawab si Kambing.
“Jangan sedih!” kata si Kancil. “Aku punya akal agar kamu tidak diganggu pada waktu mencari makanan di sana.”
“Betul, Cil? Ah, kamu memang sahabatku yang baik. Bagaimana caranya?”
“Pakailah pakaian kulit harimau!” Karena kamu disangka harimau, Pak Boim akan lari pontang-panting.”
“Wah, sulit! Bagaimana aku dapat mencari kulit harimau?”
“Mari, ikut aku!” ajak si Kancil.
Pak Kadir kemarin menembak harimau. Kulitnya dijemur di belakang rumah. Dengan segera diambilnya kulit harimau yang dijemur itu.
“Nah, sekarang aku mau pulang,” kata si Kancil.
“Nanti malam kamu boleh ke ladang Pak Boim. Makanlah sepuas-puasnya!”
Malam itu Pak Boim pergi ke ladangnya. Hari terang bulan.
“Ha, apa itu?” pikir Pak Boim. Seekor harimau masuk ke ladang dengan perlahan-lahan. Pak Boim sangat takut, dia hendak berlari. Tetapi, ditetapkannya hatinya. Dia memperhatikan harimau itu.
“Heran,” pikir Pak Boim, “seekor harimau makan tanaman muda? Astaga, harimau bertanduk? Berjanggut pula?”
Sekujur badan Pak Boim gemetar. Dia sangat ketakutan.
Tiba-tiba, harimau itu menoleh ke arah Pak Boim.
Apa yang terjadi?
Harimau itu berpaling, lalu lari pontang-panting.
Melihat itu Pak Boim tidak ketakutan lagi.
Dikejarnya harimau itu, lalu dilemparkan tombaknya ke arah harimau palsu.
Harimau palsu jatuh tersungkur, kemudian berlari tunggang-langgang.

Jawablah!
1. Ceritakan sifat-sifat tokoh cerita binatang di atas!
2. Baikkah perbuatan si Kancil? Jelaskan!

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Pada suatu hari, seekor kancil sedang mencari makan di hutan.
Tiba-tiba, muncullah seekor harimau. Harimau itu hendak menerkam si Kancil.
Si Kancil mengetahui kedatangan harimau itu. Si Kancil pun berlari sekencang-kencangnya seperti panah lepas dari busurnya.
Si Kancil berbelok ke kiri, namun sungai besar menghadang di depannya.
Si Kancil melangkah ke tepi sungai. Tiba-tiba, seekor buaya menerkam kakinya.
Si Kancil berkata: “Hei Buaya, panggil dulu teman-temanmu!”
“Hm … baiklah,” jawab buaya.
Si Buaya memanggil teman-temannya. Dia mengira kancil mau menjadi mangsanya. “Hai teman-teman, mari kumpul, ada rezeki!”
Dengan cepat seluruh buaya telah berkumpul dan berbaris lurus sampai ke tepi sungai yang di seberang.

Lalu kata si Kancil: ‘Tunggu, kuhitung dulu.’

Si Kancil melompat ke punggung buaya sambil menghitung satu, dua, tiga dan seterusnya.
Si Kancil sampai pada lompatan terakhir. Dia lalu melompat ke darat. Katanya: “Terima kasih ya, kalian telah menyebrangkanku.”
Harimau tiba di tepi sungai. Dia ingin menyebrang sungai tetapi kakinya diterkam buaya yang lapar. Terjadilah perkelahian yang amat seru antara harimau dan buaya.
Sementara itu, si Kancil menonton harimau dan buaya dari seberang sungai. Pikirnya: “Ha ha ha, rasakan kalian!”
[Kutipan dengan beberapa perubahan dari Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Kelas 1 SD Tahun Pertama, Yudhistira, Jakarta, 2001]

Jawablah:
1. Apa judul cerita binatang yang telah kamu baca itu?
2. Siapa yang sedang mencari makan di hutan?
3. Apa yang dilakukan si Kancil saat melihat harimau?
4. Apa yang dikatakan kancil kepada buaya yang menerkamnya?
5. Apa yang dilakukan kancil setelah buaya berbaris?
6. Apa maksud kancil menyuruh buaya berbaris?
7. Mengapa harimau dan buaya berkelahi?

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Translated by Sony R Simanjuntak SH (LLB) Unpar LLM Monash PhD Melb

The Indonesian Civil Code
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer)- S 1847-23

Content:

Book One – Persons (Arts 1 – 498)

Chapter I : Enjoyment and Loss of Civil Rights (Arts 1 – 3)
Chapter II : Civil Registry Records (Arts 4 – 16) (Repealed)
Provisions of this Chapter were replaced by several regulations:
1. Amendment of 1849: Regulation on Civil Registration for European Group.
2. Amendment of 1917: Regulation on Civil Registration for Chinese Group.
3. Amendment of 1920: Regulation on Civil Registration for Several Groups of Indonesian Population which are not Included in Members of Regional Government in Java and Madura.
4. Amendment of 1933: Regulation on Civil Registration for Indonesian Christians in Java, Madura, Minahasa etc.
5. Amendment of 1946: Regulation on Civil Registration in regards to Birth and Death.
6. Amendment of 1961: Alteration or Addition of Surname.
7. Amendment of 1983: Management and Development of the Administration of Civil Registration.
8. Amendment of 199: Guidelines for Conducting Registration of Residents.
Chapter III : Residence or Domicile (Arts 17 – 25)
Chapter IV : Marriage (Arts 26 – 102) (Repealed)
Chapter V : Rights and Obligations between Husband and Wife (Arts 103 – 118) (Repealed)
Chapter VI : Legal Marital Common Property and Its Administration (Arts 119 – 138) (Repealed)
Chapter VII : Prenuptial Agreement (Arts 139 – 179) (Repealed)
Chapter VIII : Legal Marital Common Property or Prenuptial Agreement in Second or Subsequent Marriage (Arts 180 – 185) (Repealed)
Chapter IX : Separation of Marital Property (Arts 186 – 198) (Repealed)
Chapter X : Dissolution of Marriage (Arts 199 – 232a) (Repealed)
Chapter XI : Bed and Board Separation (Arts 233 – 249) (Repealed)
Chapter XII : Paternity and Filiation of Children (Arts 250 – 289) (Repealed)
Chapter XIII : Blood Relationship and Relationship by Marriage (Arts 290 – 297) (Repealed)
Chapter XIV : Parental Authority (Arts 298 – 329) (Repealed)
Chapter XIVA : Charge, Reduction and Discharge of Maintenance Payment (Arts 329a – 329b) (Repealed)
Provisions of Chapters IV – XIVA were repealed by several regulations:
1. Law No. 1 of 1974 regarding Marriage.
2. Government Regulation No. 9 of 1975 regarding Implementing Regulation of Law No. 1 of 1974 on Marriage.
3. Guidelines for Government Regulation No. 9 of 1975.
4. Supreme Court Guidance No. MA/Pemb/0807/1975 regarding Implementation of Law No. 1 of 1974 and Government Regulation No. 9 of 1975.
5. Guidance of the Supreme Court Chairman regarding Application of Law No. 1 of 1974 and Government Regulation No. 9 of 1975.
6. Government Regulation No. 10 of 1983 regarding Approval for Marriage and Divorce of Public Civil Servants.
7. Decree of Minister of Defense and Security No. Kep/01/I/1980 regarding Provisions on Marriage, Divorce, and Reconciliation for Members of Indonesian Military.
Chapter XV : Minority and Guardianship (Arts 330 – 418a)
Chapter XVI : Several Moderations to Minority (Arts 419 – 432)
Chapter XVII : Curatorship (Arts 433 – 462)
Chapter XVIII : Absence (Arts 463 – 498)

Book Two – Things (Arts 499 – 1232)

Chapter I : Property and Its Classification (Arts 499 – 528)
Chapter II : Possession and Rights arising from it (Arts 529 – 569)
Chapter III : Right of Ownership (Arts 570 – 624) (Repealed)
Chapter IV : Rights and Obligations among Owners of Neighbouring Plots of Land (Arts 625 – 672) (Repealed)
Chapter V : Compulsory Labour (Arts 673) (Repealed)
Chapter VI : Easements (Arts 674 – 710) (Repealed)
Chapter VII : Right of Building (Arts 711 – 719) (Repealed)
Chapter VIII : Right of Land-Use (Arts 720 – 736) (Repealed)
Chapter IX : Land Rents and One-Tenth of Proceeds (Arts 737 – 755) (Repealed)
Chapter X : Right of Proceeds (Arts 756 – 817) (Repealed)
Chapter XI : Right for Self-Use and Right of Occupancy (Arts 818 – 829) (Repealed)
Provisions of Chapters III – XI and Chapter XX were repealed by:
Law No. 5 of 1960 regarding Basic Provisions on Agrarian.
Chapter XII : Succession due to Death (Arts 830-873)
Chapter XIII : Testament/Will (Arts 874 – 1004)
Chapter XIV : Executor of Testament and Administrator of Estate (Arts 1005 – 1022)
Chapter XV : Right of Deliberation and Special Right for Inventory Filing (Arts 1023 – 1043)
Chapter XVI : Acceptance and Renunciation of Inheritance (Arts 1044 – 1065)
Chapter XVII : Partition/Distribution of Estate (Arts 1066 – 1125)
Chapter XVIII : Ungoverned Inheritances (Arts 1126 – 1130)
Chapter XIX : Debts with Preferential Right (Arts 1131 – 1149)
Chapter XX : Pledge (Arts 1150 – 1161) (Repealed)
Chapter XXI : Hypothec (Arts 1162 – 1232) (Repealed)
Provisions of this Chapter were repealed by:
Law No. 4 of 1999 regarding Land Collateral

Addendum to Book Two on Things are:
1. Law No. 42 of 1999 regarding Fiduciary Transfer.
2. Government Regulation No. 86 of 2000 regarding Procedures of Registration for Fiduciary Transfer and Fees for Deed of Fiduciary Transfer.

Book Three – Transactions (Arts 1233-1864)

Chapter I : Transactions in General (Arts 1233 – 1312)
Chapter II : Transactions arising from Contracts or Agreements (Arts 1313 – 1351)
Chapter III : Transactions by Law (Arts 1352 – 1380)
Chapter IV : Extinguishment of Transactions (Arts 1381 – 1456)
Chapter V : Sale and Purchase (Arts 1457 – 1540)
Chapter VI : Barter (Arts 1541 – 1546)
Chapter VII : Lease (Arts 1547 – 1600)
Chapter VIIA : Work/Service Agreements (Arts 1601 – 1617)
Chapter VIII : Partnerships/Companies (Arts 1618 – 1652)
Chapter IX : Organisation/Society (Arts 1653 – 1665)
Chapter X : Gifts (Arts 1666 – 1693)
Chapter XI : Deposits (Arts 1694 – 1739)
Chapter XII : Loans for Use (Arts 1740 – 1753)
Chapter XIII : Loans for Consumption (Arts 1754 – 1769)
Chapter XIV : Fixed or Perpetual Interests (Arts 1770 – 1773)
Chapter XV : Aleatory Contracts (Arts 1774 – 1791)
Chapter XVI : Agency/Power of Attorney (Arts 1792 – 1819)
Chapter XVII : Suretyship/Guaranty (Arts 1820 – 1850)
Chapter XVIII : Conciliation (Arts 1851 – 1864)

Book Four – Evidence and Prescription (Arts 1865 – 1993)

Chapter I : Proof in General (Arts 1865 – 1866)
Chapter II : Written Proof (Arts 1867 – 1894)
Chapter III : Testimony (Arts 1895 – 1914)
Chapter IV : Presumptions (Arts 1915 – 1922)
Chapter V : Admissions (Arts 1923 – 1928)
Chapter VI : Legal Oath (Arts 1929 – 1945)
Chapter VII : Prescription (Arts 1946 – 1993)

References:
1. Subekti, R. and Tjitrosudibio, R. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Civil Code]. Jakarta: Pradnya Paramita, 2003.
2. Kansil, C.S.T. and Kansil, Christine S.T. Suplemen Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Civil Code Supplements]. Jakarta: Pradnya Paramita, 2003.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Translated by Sony R Simanjuntak SH (LLB) Unpar LLM Monash PhD Melb
Indonesian Penal code (Indentation)
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) – Law No. 1 of 1946

Content:

Book One – General Provisions (Arts 1 – 103)

Chapter I : Scope and Application of this Code (Arts 1 – 9)
Articles 3 and 4 of this Chapter were amended by:
Law No. 4 of 1976 regarding Amendment by Adding Several Articles to the Penal Code in relation to the extension of the Scope of the Penal Code, Crimes related to Airlines, and Crimes against Facilities/Infrastructures of Airlines
Chapter II : Punishments (Arts 10 – 43)
Chapter III : Circumstances which Exempt from Punishments and which Mitigate or Aggravate Punishments (Arts 44 – 52)
Chapter IV : Attempts (Arts 53 – 54)
Chapter V : Participation in Criminal Offense (Arts 55 – 62)
Chapter VI : Multiple Criminal Offences (Arts 63 – 71)
Chapter VII : Lodging and Withdrawing Complaints for Felonies that can only be Sued through Complaints (Arts 72 – 75)
Chapter VIII : Extinction of Rights to Sue Offenses and to Serve Sentences (Arts 76 – 85)

Chapter IX : Definitions of Some of Terminologies used in this Code (Arts 86 – 102)
Addendum of three new articles after Article 95 by:
Law No. 4 of 1976 regarding Amendment by Adding Several Articles to the Penal Code in relation to the extension of the Scope of the Penal Code, Crimes related to Airlines, and Crimes against Facilities/Infrastructures of Airlines
Concluding Provision (Article 103)

Book Two – Felonies (Arts 104 – 485)
Chapter I : Crimes against the Sovereignty of the State (Arts 104 – 129)
Addendum of six articles between Articles 107 and 108 by:
Law No. 27 of 1999 regarding Amendment of the Penal Code in regards with Crimes against Sovereignty of the State
Chapter II : Crimes against the Honour and Dignity of President and Vice President (Arts 130 – 139)
Chapter III : Crimes against Foreign States and Foreign Heads of State and Representatives (Arts 139a – 145)
Chapter IV : Crimes against the Realisation of National Rights and Duties (Arts 146 – 153)
Chapter V : Crimes against Public Order (Arts 153bis – 181)
Chapter VI : Dueling (182 – 186)
Chapter VII : Crimes Endangering General Security of Persons or Properties (Arts 187- 206)
Article 188 was amended in 1960 by:
Law No. 1 of 1960 regarding Amendment of the Penal Code
Chapter VIII : Crimes against Public Authorities (Arts 207 – 241)
Chapter IX : False Oath and False Statements (Arts 242 – 243)
Chapter X : Falsification of Bank Notes and Securities (Arts 244 – 252)
Chapter XI : Falsification of Stamps and Trade Marks (Arts 253 – 262)
Chapter XII : Falcification of Documents (Arts 263 – 276)
Chapter XIII : Crimes against Filiality and Marriage (Arts 277 – 280)
Chapter XIV : Crimes against Social Morality (Arts 281 – 303bis)
Chapter XV : Abandonment of Persons whom Require Care (Arts 304 – 309)
Chapter XVI : Assaults (Arts 310 – 321)
Chapter XVII : Revealing Secrets (Arts 322 – 323)
Chapter XVIII : Crimes against Freedom of Humanity (Arts 324 – 337)
Chapter XIX : Crimes against Human Life (Arts 338 – 350)
Chapter XX : Torture (Arts 351 – 358)
Chapter XXI : Negligences resulting in Death or Injuries (Arts 359 – 361)
Articles 359 and 360 were amended in 1960 by:
Law No. 1 of 1960 regarding Amendment of the Penal Code
Chapter XXII : Theft (Arts 362 – 367)
Chapter XXIII : Coercion and Threat (Arts 368 – 371)
Chapter XXIV : Embezzlement (Arts 372 – 377)
Chapter XXV : Swindles (Arts 378 – 395)
Chapter XXVI : Fraud against Creditors (Arts 396 – 405)
Chapter XXVII : Destruction or Damaging Properties (Arts 406 – 412)
Chapter XXVIII : Crimes related to Office (Arts 413 – 437)
Chapter XXIX : Crimes related to Transportation by Water (Arts 438 – 479)
Addendum of Chapter XXIXA by:
Law No. 4 of 1976 regarding Amendment by Adding Several Articles to the Penal Code in relation to the extension of the Scope of the Penal Code, Crimes related to Airlines, and Crimes against Facilities/Infrastructures of Airlines
Chapter XXIXA : Crimes related to Transportation by Air (Arts 479a – 479r)
Chapter XXX : Misappropriations, Printings, and Publishings (Arts 480 – 488)

Book Three – Misdemeanours (Arts 489 – 569)

Chapter I : Misdemeanours against General Security of Persons, Properties, and Health (Arts 489 -502)
Chapter II : Misdemeanours against Public Order (Arts 503 – 520)
Chapter III : Misdemeanours against Public Authorities (Arts 521 – 528)
Chapter IV : Misdemeanours against Filiality and Marriage (Arts 529 – 530)
Chapter V : Misdemeanours against Persons whom Require Care (Art 531)
Chapter VI : Misdemeanours against Social Morality (Arts 532 – 547)
Chapter VII : Misdemeanours related to Lands, Crops, and Yards (Arts 548 – 551)
Chapter VIIA : Misdemeanours related to Office (Arts 552 – 559)
Chapter VIII : Misdemeanours related to Transportation by Water (Arts 560 – 569)