Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Selamat pagi

Salam (Pagi Hari di Rumah Keluarga Broto) = Greetings (In the Morning at the Broto’s)
Laura: Selamat pagi, Ma. Pagi, Pa. Laura: Good morning, Mom. Good morning, Dad.
Ibu: Selamat pagi, Laura. Mother: Good morning, Laura.
Ayah: Bagaimana tidurmu? Father: How’s your sleep?
Laura: Aku tidur nyenyak. Laura: I slept like a log.
Ibu: Kamu sudah mandi, Laura? Mother: Have you taken a bath, Laura?
Laura: Sudah, Ma. Laura: I have, Mom.
Ibu: Ayo, kita sarapan. Pagi ini kita makan nasi goreng untuk sarapan. Mother: Let’s have breakfast. This morning, we have fried rice for breakfast.
Laura: Hmmm … enak. Laura: Mmmm … delicious.
Ayah: Cepat habiskan sarapanmu, sayang. Papa harus pergi ke kantor lebih awal hari ini. Papa ada rapat. Father: Hurry up, finish your breakfast dear. I must go to the office earlier today. I have a meeting.
Laura: Baiklah, Pa. Laura: Okay, Dad.
Ibu: Jangan lupa minum susumu, Laura. Mother: Don’t forget to drink your milk, Laura.
Laura: Pastilah, Ma. Laura: Sure, Mom
Ayah: Maaf, kami harus pergi sekarang. Sampai nanti. Father: Sorry, we have to go now. See you later.
Laura: Sampai nanti, Ma. Laura: See you later, Mom.
Ibu: Ya, sampai nanti. Hati-hati di jalan. Mother: Yes, see you later. Be careful on the road.

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Cymbidum

Tahun-tahun pertama saya tinggal di Melbourne, saya sangat kagum dengan anggrek-anggrek yang pada waktu-waktu tertentu setiap tahunnya dijual di mal-mal (biasanya dijejerkan di tengah-tengah mal bukan di toko). Saya kagum karena bunganya besar-besar, hampir sebesar bunga anggrek Catteleya yang merupakan anggrek mahal di Indonesia.

Herannya, semuanya berbentuk yang hampir sama, hanya warnanya yang berbeda kalau dibandingkan dengan anggrek-anggrek yang banyak diperjualbelikan di Indonesia; yang cukup beraneka-ragam dari jenis anggrek bulan, anggrek dendrobium sampai ke anggrek kantong.

Anggrek-anggrek di Australia biasanya adalah jenis Cymbidium (Cym) Konon, anggrek ini berasal dari Cina dan terdapat hampir 50 jenis tetapi hanya persilangannya saja yang diperjualbelikan.

Tidak seperti bertanam anggrek di Indonesia, ternyata anggrek Cym cukup mudah merawatnya. Seperti anggrek pada umumnya, memang harganya cukup mahal. Tetapi sungguh anggrek Cym ini menarik hati banyak orang karena waktu berbunganya yang jatuh pada peralihan musim dingin ke musim semi yaitu ketika bunga-bunga lainnya seperti mawar masih sedang tidur. Ya, anggrek Cym yang berbunga pada musim yang masih dingin ini dapat membuat hati yang sendu menjadi ceria. Saya setuju bahwa bunga anggrek memang indah dan romantis seperti yang disebut-sebut sebagai simbol dari cinta, kemewahan, kecantikan dan kekuatan.

Ternyata memelihara anggrek Cym tidaklah pula sulit. Pada musim panas, anggrek Cym perlu dipindahkan ke tempat yang terlindung, misal di bawah pohon yang besar. Pertandanya adalah daunnya. Kalau daunnya menjadi kuning, berarti kebanyakan sinar matahari dan kalau daunnya terlalu hijau (hijau tua), berarti kurang sinar matahari. Hal lain yang penting adalah medianya yang tidak boleh dari tanah dan kompos untuk tanaman pot biasa karena akan terlalu basah. Media yang bagus adalah serpihan kulit kayu atau kayu. Juga penyiramannya harus diperhatikan agar jangan terlalu becek dan tidak boleh terlalu lama tidak disiram. Sama seperti tanaman pot lainnya, anggrek juga perlu pupuk dan penggantian pot sekali dalam dua atau tiga tahun.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Fire Red Rose

Bertemu dengan Seorang Teman (Meeting with a Friend)

 

A: Halo Andy! Pa kabar? A: Hello, Andy. How are you?
B: Baik, makasih. Dan gimana kabarmu, Michelle? B: I’m fine, thanks. And how are you, Michelle?
A: Baik sekali, makasih. Senang ketemu lagi. Aku sudah lama tidak ketemu sama kamu. A: Very well, thanks. Nice to see you again. I haven’t seen you for a long time.

 

A: Apa yang kamu lakukan belakangan ini? A: What have you been doing lately?
B: Ah, tak banyak sebenarnya. Dan gimana semuanya dengan kamu? B: Oh, nothing much really. And how’s everything with you?
A: Baik, makasih. Aku sibuk belakangan ini. A: Fine, thanks. I’ve been busy lately.

 

B: Apa saja yang kamu lakukan? B: What have you been doing?
A: Aku belajar untuk ujian-ujian. Ujian-ujian sekolahku  mulai pada bulan depan. A: I’ve been studying for exams. My school exams begin next month.
B: Sungguh? Selamat ujian. B: Really? Good luck with your exams.

 

A: Makasih. Dan gimana kedua orangtuamu? A: Thanks. And how are your parents?
B: Mereka berdua baik-baik saja, makasih. B: They’re both very well, thanks.
A: Kamu mau ke mana sekarang? A: Where are you going now?
B:Aku mau pergi belanja. B: I’m going to do some shopping.

 

B: Mengapa kamu tidak ikut sama aku aja? B: Why don’t you come with me?
A: Aku nggak bisa. Aku harus ketemu dengan seseorang. A: I can’t. I have to meet someone.
B: Baiklah. Senang cakap-cakap denganmu. B: Okay. It’s been nice talking with you.
A: Selamat tinggal Andy. Sampai jumpa lagi suatu waktu. A: Good bye Andy. See you again sometime.

pa (inf) = apa

makasih (inf) = terima kasih

gimana (inf) = bagaimana

ketemu (inf) = bertemu

sama (inf) = dengan

belakangan (inf) = akhir-akhir

tak (inf) = tidak

mau ke mana? (inf) = where are you going?

belanja (inf) = berbelanja

sama (inf) = bersama

aja (inf) = saja

nggak (inf) = tidak

cakap-cakap (inf) = bercakap-cakap

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Purple Rose

Bertemu dengan Teman-Teman di Sebuah Pesta (Meeting Friends at a Party)

 

Tono: Bram, apakah kamu sudah tau Andy? Tono: Bram, have you met Andy?
Bram: Belum. Pa kabar? Bram: No, I haven’t. How do you do?
Andy: Kabar baik. Senang kenalan sama kamu. Siapa namamu? Andy: How do you do. It’s nice to meet you. What’s your name?
Bram: Aku Abraham tapi panggil aja Bram. Bram: My name is Abraham but please call me Bram.
Andy: Kamu temannya Tono? Andy: Are you Tono’s friend?
Bram: Ya, kami main sepakbola sama-sama dan dulu kami sekolah di sekolah yang sama. Bram: Ya, we play soccer together and we went to the same school.

 

Tono: Hei, ada Michelle. Hai Michelle, sini kenalan sama beberapa teman. Tono: Hey, there’s Michelle. Hi Michelle, come and meet some friends.
Tono: Michelle, ini Bram dan Andy. Tono: Michelle, these are Bram and Andy.
Michelle: Maaf, siapa namanya? Michelle: Sorry, what’s your name?
Andy: Nama depanku Andy. Dan kamu? Andy: My first name is Andy. And yours?
Michelle: Michelle. Gampang untuk diingat. Michelle: Michelle. It’s easy to remember.

 

Andy: Kamu mau dansa? Andy: Would you like to dance?
Michelle: Ya, mau. Makasih. Michelle: Yes, I would. Thank you.

 

Andy: Kamu suka dansa? Andy: Do you like dancing?
Michelle: Ya, aku suka sekali. Michelle: Yes, I love it.

 

Andy: Kita harus pergi dansa sama-sama kapan-kapan. Andy: We must go dancing together sometime.
Michelle: Akan menyenangkan ya, makasih. Michelle: That would be nice, thank you.

tau (inf) = tahu

Pa kabar? (inf) = Apa kabar?

kenalan (inf) = berkenalan

sama (inf) = dengan

tapi (inf) = tetapi

aja (inf) = saja

main (inf) = bermain

sama-sama (inf) = bersama-sama

dulu (inf) = dahulu

sekolah (inf) = bersekolah

sini (inf) = mari ke sini

kenalan (inf) = berkenalan

sama (inf) = dengan

gampang (inf) = mudah

dansa (inf) = berdansa

makasih (inf) = terima kasih

sama-sama (inf) = bersama-sama

kapan-kapan (inf) = pada suatu waktu

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Yellow Rose

Bercakap-Cakap dengan Seorang Pelajar Bahasa Indonesia
(Talking to An Indonesian Language Student)

 

Sudah berapa lama Anda belajar bahasa Indonesia? How long have you been studying Indonesian?
Saya sudah belajar bahasa Indonesia selama kira-kira enam tahun, sejak saya berumur sepuluh tahun. I have been studying it for about six years, since I was 10 years old.

 

Guru saya berasal dari Malaysia. My teacher was from Malaysia.
Dia adalah seorang guru yang sangat pandai. She was a very good teacher.
Saya senang belajar bahasa Indonesia dengannya. I enjoyed studying Indonesian with him.

 

Apakah Anda masih belajar bahasa Indonesia? Are you still studying Indonesian?
Ya, sekarang saya mengambil kursus pada malam hari. Yes, now I am taking night courses.

 

Berapa kali seminggu kelasnya? How many times a week are the classes?
Dua kali seminggu, pada hari Rabu malam dan hari Jumat malam. Twice a week, on Wednesday nights and Friday nights.

 

Menurut Anda, apakah bahasa Indonesia sukar? According to you, is Indonesian difficult?
Ya, agak sukar, saya pikir. Yes, it’s rather difficult, I think.

 

Apakah saya banyak membuat kesalahan? Do I make many mistakes?
Tidak, bahasa Indonesia Anda bagus sekali. No, your Indonesian is very good.

 

Apakah Anda sering mendengarkan radio? Do you often listen to the radio?
Ya, saya mendengarkan radio setiap malam. Yes, I listen to the radio every night.
Saya juga menonton televisi. I also watch television.

 

Apakah Anda juga senang membaca buku-buku dalam bahasa Indonesia? Do you also enjoy reading Indonesian books?
Ya, saya membaca banyak buku bahasa Indonesia. Yes, I read a lot of Indonesian books.
Tetapi saya lebih senang percakapan. Saya senang bercakap-cakap dengan orang Indonesia. But I prefer conversation. I like talking with Indonesian people.

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Bonica Rose

Bercakap-Cakap dengan Seorang Mahasiswa
(Talking to A Student)

 

Anda berasal dari mana? Where are you come from?
Saya berasal dari Indonesia. I am from Indonesia.

 

Dari bagian Indonesia yang mana asal Anda? What part of Indonesia are you from?
Saya dari Bogor. I am from Bogor.

 

Bogor adalah sebuah kota. Bogor is a city.
Sebuah kota yang indah sekali. It’s a very beautiful city.
Banyak terdapat taman besar dan taman yang indah. There lots of big parks and nice gardens.

 

Apakah Bogor sebuah kota yang besar? Is Bogor a big city?
Tidak, tidak besar sekali. No, it’s not very big.

 

Jakarta jauh lebih besar. Jakarta is much bigger.
Jakarta mempunyai banyak gedung yang tinggi. Jakarta has a lot of tall buildings.

 

Saya tinggal di Jakarta sekarang. I live in Jakarta now.
Saya pindah ke sana tahun yang lalu. I moved there last year.

 

Apakah Anda bekerja atau berkuliah di Jakarta? Are you working or studying in Jakarta?
Saya seorang mahasiswa di Universitas Indonesia. I’m a student at University of Indonesia.
Saya berkuliah di fakultas ilmu teknik. I’m studying in the engineering faculty.
Sudah berapa lama Anda berkuliah? How long have you been studying?
Saya sudah berkuliah selama dua tahun. I’ve been studying for two years.

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Sony's Garden

Bercakap-Cakap dengan Seorang Pengunjung
(Talking to A Visitor)

 

A: Halo, kelihatannya Anda tersesat, bisa saya bantu? A: Hello, you look lost, can I help you?
B: Oh, terima kasih. Saya turis. B: Oh, thanks. I’m a tourist.
A: Apakah Anda orang Amerika? A: Are you an American?
B: Bukan, saya orang Australi. B: No, I’m an Australian.
A: Sudah berapa lama Anda di sini? A: How long have you been here?
B: Saya sudah di sini selama dua hari. B: I’ve been here for two days.

 

A: Berapa lama Anda akan tinggal di sini? A: How long are you going to stay in here?
B: Saya berharap untuk tinggal selama kira-kira sebulan. B: I hope to stay for about a month.

 

A: Apakah Anda senang di sini? A: Do you like it here?
B: Ya, saya senang sekali. B: Yes, I like it very much.

 

A: Apakah cuaca terlalu panas untuk Anda? A: Is the weather too hot for you?
B: Tidak. Cuacanya enak. Saya suka cuaca panas. B: No. The weather is nice. I like hot weather.

 

A: Bagaimana makanannya? Apakah Anda suka makanan Indonesia? A: How do you find the food? Do you like Indonesian foods?
B: Ya. Makanan Indonesia enak dan sangat gurih. B: Yes. Indonesian foods are delicious and very tasty.

 

A: Di mana Anda menginap? A: Where are you staying?
B: Saya menginap di Losmen Nusantara. B: I am staying at the Losmen Nusantara.

 

A: Oh, Losmen Nusantara di Jalan Nusantara? A: Oh, the Losmen Nusantara in Nusantara Street?
B: Iya. Nomor 100. B: Correct. At number 100.
A: Selamat berlibur. A: Have a nice holiday.
B: Terima kasih. B: Thank you.

 

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Rufles Azalea

Bercakap-Cakap dengan Kenalan Baru
(Talking with A New Acquaintance)

 

A: Maaf, siapa nama Anda? A: What’s your name, please?
B: Nama saya Andy. B: My name is Andy.

 

A: Anda tinggal di mana? A: Where do you live?
B: Saya tinggal di  Clayton. Alamat saya di Jalan Yarra nomor 8. B: I live in Clayton. My address is 8 Yarra Street.

 

A: Apakah Anda tinggal dengan keluarga Anda? A: Do you live with your family?
B: Ya, dengan kedua orangtua saya dan saudara-saudara saya. B: Yes, with my parents and my siblings.

 

A: Berapa orang saudara Anda? A: How many siblings do you have?
B: Saya mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. B: I have an older brother and a younger sister.
Kakak laki-laki saya berumur 20 tahun dan adik perempuan saya berumur 16 tahun. My older brother is 20 years old and my younger sister is 16 years old.
Kakak laki-laki saya sudah berkuliah sedangkan adik perempuan saya masih bersekolah di sekolah yang sama dengan saya. My older brother has already at university while my younger sister is still studying at the same school as me.

 

A: Dan berapa umur Anda? A: And how old are you?
B: Umur saya 18 tahun. B: I’m eighteen.

 

A: Apakah kedua orangtua Anda bekerja? A: Are both of your parents working?
B: Ya. Baik ibu maupun ayah saya bekerja. B: Yes. Both mother and my father are working.
A: Apa pekerjaan ayah Anda? A: What does your father do?
B: Ayah saya bekerja sebagai seorang Akuntan. B: My father works as an Accountant.
A: Apa pekerjaan ibu Anda? A: What does your mother do?
B: Ibu saya bekerja sebagai seorang jururawat.

A: Di mana orangtua Anda bekerja?

B: Ayah saya bekerja di sebuah kantor polisi di Glen Waverley sedangkan ibu saya bekerja di sebuah rumah sakit di Box Hill.

B: My mother works as a nurse.

A: Where do your parents work?

B: My father works in a police station in Glen Waverley while my mother works in an hospital in Box Hill.

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Dalam rangka 17 Agustus, selain dari upacara juga ada perayaan-perayaan.
Yang paling terkenal adalah acara ‘Panjat Pinang’.  Seperti namanya, permainan ini adalah permainan memanjat. Yang dipanjat adalah sebuah pohon pinang yang sangat tinggi. Di bagian atas pohon terdapat banyak hadiah menarik yang digantungkan dengan sebuah tali. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut. Akan tetapi, tidak mudah untuk memanjat pohon tersebut karena batangnya sudah terlebih dahulu dilumuri oleh minyak sehingga menjadi licin.
Permainan ini merupakan atraksi yang mendapatkan perhatian orang banyak karena batang yang licin sering membuat pemanjat jatuh. Tidak jarang para pemanjat bekerja sama sehingga salah seorang temannya berhasil melewati bagian batang yang paling licin dengan berdiri di atas bahu temannya, sedemikian rupa sampai  bertingkat-tingkat dan melibatkan beberapa orang dan seorang dari mereka akhirnya bisa memanjat batang yang kurang licin dan terus memanjat ke atas dan meraih hadiah-hadiahnya.

Selain permainan ‘Panjat Pinang’ yang biasanya adalah acara utama, ada lagi permainan lainnya yang disesuaikan dengan umur peserta.

Di bawah ini adalah komentar-komentar orang yang pernah ikut permainan-permainan ketika mereka kecil (disadur dari Majalah Femina Edisi No. 32/XXXVIII, 14-20 Agustus 2010):

“Saya nggak pernah absen ikut lomba nyanyi di kecamatan. Kalau menang, pialanya saya pamerkan pada Opung, supaya dia bisa ikut bangga!” (Lily Simanjuntak, 25, lajang, pegawai keuangan, Tanjung Pinang)

“Serunya, tuh, waktu lomba memasukkan benang ke jarum. Rasanya sulit sekali dan mata juga perih lihat lubang jarum yang kecil itu.” (Putri Bayu, 30, menikah, pegawai kreatif, Bandung)

“Setiap kali ikut lomba memindahkan bendera kecil dari botol ke botol, saya selalu membayangkan jadi seorang pahlawan yang sedang berperang membela negara.” (Ajeng Soeprawi, 26, lajang, mahasiswi, Yogyakarta)

“Paling suka lomba bawa kelereng pakai sendok. Karena sambil jalan, otomatis kelerengnya goyang-goyang terus dan bikin gregetan kalau jatuh.” (Eli Subeki, 34, menikah, pegawai administrasi, Jakarta)

“Lomba menggambar wajah orang. Sebelumnya, dengam mata tertutup, saya berjalan dari jarak 2 meter ke arah kertas yang sudah ditempel di tembok. Hasilnya pasti lucu.” (Apri Resdiyanti, 27, lajang, pegawai sumberdaya manusia, Jakarta)

“Paling senang lomba ambil koin dari jeruk bali yang sudah dilumuri tepung. Setelahnya, gigi jadi penuh tepung dan wajah jadi menakutkan.” (Yuyun Ariany, 25, lajang, pegawai administrasi, Jakarta)

“Joget bareng teman sambil menjepit balon di antara dahi. Seru, deh. Pernah, balon pecah persis di depan muka. Wajah putih saya langsung memerah.” (Maya Andansari, 25, lajang, pegawai bank, Jakarta)

“Dulu saya ikut lomba badminton dan beberapa hari sebelum lomba, sudah giat latihan sama Om. Ternyata lawan saya lebih besar dan jago. Saya kalah telak dan pulang sambil menangis.” (Rizka Nurlita Andi, 35, lajang, pegawai media, Jakarta)

“Waktu SD, saya kebagian lomba balap karung. Itu lomba pertama dan terakhir. Saya kapok setelah jatuh, luka-luka, dan kalah pula!” (Miranty, 27, menikah, guru les, Makassar)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

“We must translate pain into action, and tears into growth” – The Rebbe

(“Kita harus terjemahkan perasaan sakit menjadi perbuatan dan airmata menjadi pertumbuhan”)

Perhatian: Ini adalah sebuah terjemahan yang saya buat empat tahun yang lalu. Memang cukup sering saya menterjemahkan artikel yang saya minati untuk dapat dibagikan dengan orang-orang yang saya kasihi. Berikut adalah terjemahannya:

Seorang pelukis, setelah mengalami penderitaan disebabkan oleh sebuah tragedi menulis surat ke Rebbe tentang perasaan depresi dan keputusasaannya.

Rebbe membalas: Kejeniusan seorang pelukis adalah kemampuannya untuk memisahkan dirinya dari kualitas luar obyek lukisannya dan sanggup melihat jauh ke kualitas dalam obyek tersebut yaitu ke sisi yang terdalam. Pelukis itu harus dapat mengekspresikan hal yang terdapat di dalam tersebut sehingga siapa pun kelak yang akan melihat lukisan tersebut akan dapat melihat intinya, yang mana baik sang pelukis sendiri maupun khalayak umum yang melihatnya tidak akan pernah melihat bagaimana sesungguhnya wujud obyek itu.

Hal yang sama berlaku pada setiap individu: Bagian terdalamnya adalah iman atau kepercayaannya. Setiap orang harus memeliharanya dengan baik sehingga sisi luar dari kehidupannya tidak akan merusak bagian inti tersebut.

Tragedi dalam kehidupan harus dilihat dari maksudnya: Bagian dari sistim yang memberi tantangan dan jembatan yang sanggup membawa kita untuk dapat mencapai tingkat tertinggi suatu kebahagiaan dan kesucian.

Apa maksud dari sebuah kesakitan atau penderitaan? Mengapa banyak sekali penderitaan di bumi?  Bagaimana kita dapat mengatasi penderitaan emosi, spiritual dan psikologi?  Kenapa Tuhan terkadang membiarkan orang benar untuk menderita kesakitan yang ekstrim seperti itu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah paradoks.

Yang jelas adalah bahwa secara alamiah kita menjadi susah karena penderitaan sebagai akibat dari kepercayaan kita sendiri akan keadilan dan kebenaran yang diajarkan Tuhan dan harapan kita bahwa dunia ini akan dijalankan secara adil.

Dan kita melihat bagaimana kesakitan dan penderitaan telah membuat banyak sekali orang mempertanyakan keberadaan Tuhan atau paling tidak keefektifanNya.
Akan tetapi, justru pada saat-saat yang paling membuat kita menderita, kita harus menyadari bahwa iman absolut kita yang akan memberikan kita kapasitas untuk mengerti dan mengatasi penderitaan kita.

Dengan pertolongan Tuhan, kita dapat menerima penderitaan sebagai bagian dari tantangan hidup; hal itu memotivasikan kita untuk mencari jawaban-jawabannya, untuk menjalin hubungan kita dengan Tuhan dan untuk tumbuh/bekembang dari pengalaman tersebut.

Apakah ada keuntungan dari kesakitan dan penderitaan?

Sakit dan penderitaan adalah sebuah kesempatan pemberian tantangan terhadap cara kita melihat kehidupan. Ketika semua hal berjalan dengan baik, kita cenderung menerima kehidupan dengan begitu saja tetapi sebuah trauma akan mendesak kita ke bagian tepi  dari kehidupan kita, membuat kita melihatnya dari sisi yang baru atau membukakan sisi baru bagi kita.
Sehingga pertanyaan yang sesungguhnya yang harus kita tanyakan adalah bukan kenapa kita terkadang merasakan kesakitan yang luar biasa seperti itu tetapi apa maksud/makna yang harus kita pelajari dari situ.

Ketika kita melihat dari jauh, yaitu dari satu tepi kehidupan, ketika kita menyadari bahwa kita bukan saja terdiri dari tubuh tetapi dari tubuh dan roh, kita akan mengetahui bahwa terdapat tujuan yang lebih jauh dari kehidupan kita, dan ada maksud/makna yang jauh lebih dalam dari sekedar kesakitan dan penderitaan kita.

Satu-satunya penjelasan dari kesakitan dan penderitaan adalah bahwa dunia itu sendiri adalah baik adanya dan kesakitan/penderitaan adalah bagian dari kebaikan yang lebih besar. Hal ini bukan berarti bahwa kesakitan itu sendiri adalah suatu hal yang baik dan dengan demikian bukan pula berarti bahwa kita harus dengan senang hati menerimanya.

Dalam kenyataannya, kita dituntut untuk mengekspresikan secara penuh perasaan sakit kita itu dan selanjutnya melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan penderitaan kita serta akibatnya terhadap orang lain.
Adalah suatu kewajiban kita untuk menemukan cara bagaimana agar kesakitan itu akan dapat menjadi suatu berkat yang tidak terduga dan mengatasinya sedemikian rupa sehingga mampu mengembalikan harmoni bagi tubuh dan roh kita.

Ini dapat dijelaskan dengan membayangkan bagaimana sebuah perasaan frustasi yang tak dapat terhindari membawa kepada sebuah pertumbuhan kreatif atau bagaimana perasaan sakit luar biasa yang dialami oleh seorang wanita pada waktu melahirkan bayi. Betapapun hebatnya kesakitan itu, adalah akan selalu sesuai dengan kebaikan yang akan dihasilkannya.

Bagaimana kita dapat membebaskan diri dari kesakitan kita?

Adalah penting bagi kita untuk melihat kesakitan sebagai sebuah ujian yang menguji betapa terlenanya kita terhadap kesenangan materi kalau dibandingkan dengan pertumbuhan rohani.
Daripada hancur disebabkan kesakitan, kita harus dapat mendemonstrasikan kepercayaan penuh kepada Tuhan dengan terus menekuni hidup kita dengan sungguh-sungguh berjalan sesuai dengan kebaikan, yang dengan demikian memberikan tantangan kepada Tuhan untuk memenuhi janji-janji sebagai yang adil dan benar.

Percaya akan Tuhan adalah cara kita untuk mengalihkan perasaan kesakitan atau penderitaan. Hal itu memperlihatkan kepada Tuhan bahwa walaupun mungkin kita tidak sepenuhnya mengerti akan kesakitan kita, kita sadar bahwa hal itu adalah bagian dari kebaikan yang terbesar. Dan sebagai ganti dari keadaan kita, kebingungan kita dan penderitaan yang kita rasakan, kita akan tetap secara absolut percaya bahwa kebaikanlah yang akan menang.

Tindakan (Action)

Membebaskan diri kita dari kesakitan hanya dapat terjadi melalui pergerakan (movement) — bergerak menjauh dan memisahkan diri kita dari suasana kesakitan tersebut, menjauh dari penyebab yang menimbulkan semua perasaan sakit.

Pergerakan ini mungkin bisa sesederhana mendapatkan seorang teman baru, membaca sebuah buku baru, ikut aktif dalam sebuah proyek atau ikut les — apa saja yang dapat mengubah kesendirian, keterbatasan perspektif atas diri kita dan dunia.

Untuk beberapa orang, memulai untuk beranjak atau keluar dari kesakitan/penderitaan membutuhkan sebuah dorongan yang cukup keras, atau bahkan seringkali orang itu harus jatuh dahulu ke tempat yang paling bawah.

Di sinilah letak peranan penting dari seorang teman yang baik. Ketika seseorang yang kita kasihi dalam kesakitan, kita harus siap untuk dia, apa pun itu yang dibutuhkannya. Bisa saja dia bilang bahwa dia ingin dibiarkan sendirian, bahwa dia mau mengatasi masalahnya sendiri, tetapi kita harus tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Bahwa jalan keluarnya adalah jauh lebih besar daripada yang dibayangkan teman kita itu. Sehingga, janganlah pernah mengambil enteng hal ini. Carilah cara untuk bertemu, berbicara dan berbagi pikiran. Yang paling penting adalah mengasihinya dan menolongnya untuk menolong dirinya sendiri.

(Ini adalah bagian dari ‘Toward a Meaningful Life – The Wisdom of the Rebbe” oleh Rabbi Simon Jacobson)