Apa Perasaan Sakit atau Penderitaan itu? : Terjemahan

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

“We must translate pain into action, and tears into growth” – The Rebbe

(“Kita harus terjemahkan perasaan sakit menjadi perbuatan dan airmata menjadi pertumbuhan”)

Perhatian: Ini adalah sebuah terjemahan yang saya buat empat tahun yang lalu. Memang cukup sering saya menterjemahkan artikel yang saya minati untuk dapat dibagikan dengan orang-orang yang saya kasihi. Berikut adalah terjemahannya:

Seorang pelukis, setelah mengalami penderitaan disebabkan oleh sebuah tragedi menulis surat ke Rebbe tentang perasaan depresi dan keputusasaannya.

Rebbe membalas: Kejeniusan seorang pelukis adalah kemampuannya untuk memisahkan dirinya dari kualitas luar obyek lukisannya dan sanggup melihat jauh ke kualitas dalam obyek tersebut yaitu ke sisi yang terdalam. Pelukis itu harus dapat mengekspresikan hal yang terdapat di dalam tersebut sehingga siapa pun kelak yang akan melihat lukisan tersebut akan dapat melihat intinya, yang mana baik sang pelukis sendiri maupun khalayak umum yang melihatnya tidak akan pernah melihat bagaimana sesungguhnya wujud obyek itu.

Hal yang sama berlaku pada setiap individu: Bagian terdalamnya adalah iman atau kepercayaannya. Setiap orang harus memeliharanya dengan baik sehingga sisi luar dari kehidupannya tidak akan merusak bagian inti tersebut.

Tragedi dalam kehidupan harus dilihat dari maksudnya: Bagian dari sistim yang memberi tantangan dan jembatan yang sanggup membawa kita untuk dapat mencapai tingkat tertinggi suatu kebahagiaan dan kesucian.

Apa maksud dari sebuah kesakitan atau penderitaan? Mengapa banyak sekali penderitaan di bumi?  Bagaimana kita dapat mengatasi penderitaan emosi, spiritual dan psikologi?  Kenapa Tuhan terkadang membiarkan orang benar untuk menderita kesakitan yang ekstrim seperti itu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah paradoks.

Yang jelas adalah bahwa secara alamiah kita menjadi susah karena penderitaan sebagai akibat dari kepercayaan kita sendiri akan keadilan dan kebenaran yang diajarkan Tuhan dan harapan kita bahwa dunia ini akan dijalankan secara adil.

Dan kita melihat bagaimana kesakitan dan penderitaan telah membuat banyak sekali orang mempertanyakan keberadaan Tuhan atau paling tidak keefektifanNya.
Akan tetapi, justru pada saat-saat yang paling membuat kita menderita, kita harus menyadari bahwa iman absolut kita yang akan memberikan kita kapasitas untuk mengerti dan mengatasi penderitaan kita.

Dengan pertolongan Tuhan, kita dapat menerima penderitaan sebagai bagian dari tantangan hidup; hal itu memotivasikan kita untuk mencari jawaban-jawabannya, untuk menjalin hubungan kita dengan Tuhan dan untuk tumbuh/bekembang dari pengalaman tersebut.

Apakah ada keuntungan dari kesakitan dan penderitaan?

Sakit dan penderitaan adalah sebuah kesempatan pemberian tantangan terhadap cara kita melihat kehidupan. Ketika semua hal berjalan dengan baik, kita cenderung menerima kehidupan dengan begitu saja tetapi sebuah trauma akan mendesak kita ke bagian tepi  dari kehidupan kita, membuat kita melihatnya dari sisi yang baru atau membukakan sisi baru bagi kita.
Sehingga pertanyaan yang sesungguhnya yang harus kita tanyakan adalah bukan kenapa kita terkadang merasakan kesakitan yang luar biasa seperti itu tetapi apa maksud/makna yang harus kita pelajari dari situ.

Ketika kita melihat dari jauh, yaitu dari satu tepi kehidupan, ketika kita menyadari bahwa kita bukan saja terdiri dari tubuh tetapi dari tubuh dan roh, kita akan mengetahui bahwa terdapat tujuan yang lebih jauh dari kehidupan kita, dan ada maksud/makna yang jauh lebih dalam dari sekedar kesakitan dan penderitaan kita.

Satu-satunya penjelasan dari kesakitan dan penderitaan adalah bahwa dunia itu sendiri adalah baik adanya dan kesakitan/penderitaan adalah bagian dari kebaikan yang lebih besar. Hal ini bukan berarti bahwa kesakitan itu sendiri adalah suatu hal yang baik dan dengan demikian bukan pula berarti bahwa kita harus dengan senang hati menerimanya.

Dalam kenyataannya, kita dituntut untuk mengekspresikan secara penuh perasaan sakit kita itu dan selanjutnya melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan penderitaan kita serta akibatnya terhadap orang lain.
Adalah suatu kewajiban kita untuk menemukan cara bagaimana agar kesakitan itu akan dapat menjadi suatu berkat yang tidak terduga dan mengatasinya sedemikian rupa sehingga mampu mengembalikan harmoni bagi tubuh dan roh kita.

Ini dapat dijelaskan dengan membayangkan bagaimana sebuah perasaan frustasi yang tak dapat terhindari membawa kepada sebuah pertumbuhan kreatif atau bagaimana perasaan sakit luar biasa yang dialami oleh seorang wanita pada waktu melahirkan bayi. Betapapun hebatnya kesakitan itu, adalah akan selalu sesuai dengan kebaikan yang akan dihasilkannya.

Bagaimana kita dapat membebaskan diri dari kesakitan kita?

Adalah penting bagi kita untuk melihat kesakitan sebagai sebuah ujian yang menguji betapa terlenanya kita terhadap kesenangan materi kalau dibandingkan dengan pertumbuhan rohani.
Daripada hancur disebabkan kesakitan, kita harus dapat mendemonstrasikan kepercayaan penuh kepada Tuhan dengan terus menekuni hidup kita dengan sungguh-sungguh berjalan sesuai dengan kebaikan, yang dengan demikian memberikan tantangan kepada Tuhan untuk memenuhi janji-janji sebagai yang adil dan benar.

Percaya akan Tuhan adalah cara kita untuk mengalihkan perasaan kesakitan atau penderitaan. Hal itu memperlihatkan kepada Tuhan bahwa walaupun mungkin kita tidak sepenuhnya mengerti akan kesakitan kita, kita sadar bahwa hal itu adalah bagian dari kebaikan yang terbesar. Dan sebagai ganti dari keadaan kita, kebingungan kita dan penderitaan yang kita rasakan, kita akan tetap secara absolut percaya bahwa kebaikanlah yang akan menang.

Tindakan (Action)

Membebaskan diri kita dari kesakitan hanya dapat terjadi melalui pergerakan (movement) — bergerak menjauh dan memisahkan diri kita dari suasana kesakitan tersebut, menjauh dari penyebab yang menimbulkan semua perasaan sakit.

Pergerakan ini mungkin bisa sesederhana mendapatkan seorang teman baru, membaca sebuah buku baru, ikut aktif dalam sebuah proyek atau ikut les — apa saja yang dapat mengubah kesendirian, keterbatasan perspektif atas diri kita dan dunia.

Untuk beberapa orang, memulai untuk beranjak atau keluar dari kesakitan/penderitaan membutuhkan sebuah dorongan yang cukup keras, atau bahkan seringkali orang itu harus jatuh dahulu ke tempat yang paling bawah.

Di sinilah letak peranan penting dari seorang teman yang baik. Ketika seseorang yang kita kasihi dalam kesakitan, kita harus siap untuk dia, apa pun itu yang dibutuhkannya. Bisa saja dia bilang bahwa dia ingin dibiarkan sendirian, bahwa dia mau mengatasi masalahnya sendiri, tetapi kita harus tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Bahwa jalan keluarnya adalah jauh lebih besar daripada yang dibayangkan teman kita itu. Sehingga, janganlah pernah mengambil enteng hal ini. Carilah cara untuk bertemu, berbicara dan berbagi pikiran. Yang paling penting adalah mengasihinya dan menolongnya untuk menolong dirinya sendiri.

(Ini adalah bagian dari ‘Toward a Meaningful Life – The Wisdom of the Rebbe” oleh Rabbi Simon Jacobson)