Kutipan dari Surat-Surat Seorang Puteri Jawa

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone

Buku apa yang sedang kamu baca itu, Maureen?’ tanya Jack McDonald kepada isterinya.

‘Kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini. Bagus betul buku ini dan padat isinya. Dengarkanlah isi suratnya kepada temannya, Stella, yang menguraikan tentang adat kesopanan keluarganya.

“Menurut adat kesopanan orang Jawa, adikku harus merangkak bila hendak lewat di mukaku. Kalau adikku duduk di kursi, apabila aku lewat, dia harus turun dengan segera dan duduk di lantai dengan menundukkan kepala, sampai aku meninggalkan tempat itu. Kalau dia menegurku, hanya boleh dalam bahasa Kromo saja. Tiap-tiap kalimat yang diucapkan, haruslah diiringi dengan sembah.

Kepada kakakku laki-laki, maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan patuh; tetapi aku dan adik-adikku tidak mengindahkan adat itu lagi.”

Dengarkan pula keluhannya ketika dia dipingit.

“Engkau bertanya apa sebabnya aku dikurung dalam empat tembok tebal. Ini adalah adat kebiasaan untuk gadis Jawa. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman luas, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana pun juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal di sana, tidak pernah boleh keluar tembok, maka sempit dan sesaklah rasanya.

Teringat aku, betapa oleh karena putus asa dan sedih yang tiada terhingga, aku menghempaskan badanku berulang-ulang ke pintu yang selalu tertutup itu dan ke tembok yang bengis itu. Kemana pun juga aku pergi, selalu terhambat juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci.”

Tentang orang-orang Belanda yang angkuh dan gila hormat, dia mengatakan:

“Waktu berapat, pegawai Belanda, betapa pun rendah pangkatnya, berhak duduk di atas kursi, sedang pegawai Jawa di bawah pangkat Bupati, tidak pandang umur, asal-usul, kecakapan, harus duduk di lantai. Sungguh pedih hati melihat seorang Wedana yang sudah tua dan beruban itu, lalu berjalan membongkok-bongkok di hadapan pegawai pemerintah Belanda yang masih mentah, yang baru saja keluar sekolah.

Banyak orang Belanda di sini yang tidak suka melihat orang Jawa yang di bawahnya maju; dan tiap-tiap kali ada orang kulit hitam membuktikan bahwa dia ada juga berotak berperasaan, tiada bedanya dengan orang kulit putih, mereka merasa jengkel.

Sekarang tahulah aku mengapa orang Belanda tiada suka orang Jawa maju. Apabila si Jawa itu telah berpengetahuan, tiadalah ia hendak mengiya dan mengamini saja lagi.”

Memang Kartini seorang wanita yang cerdas. Tetapi sayang sekali dia meninggal ketika melahirkan anaknya yang pertama. Waktu itu dia baru saja berumur 24 tahun”. Kata Maureen mengakhiri ceritanya.

Pertanyaan:

  1. Buku apa yang dibaca Maureen kali ini?
  2. Terangkanlah dengan singkat tentang adat kesopanan di Jawa pada zaman kakak beradik Kartini!
  3. Apakah yang dilakukan Kartini untuk mencoba mengubah adat kesopanan itu dalam keluarganya?
  4. Ketika dia dipingit, apakah sebetulnya yang disebutnya dengan ‘penjara’ itu?
  5. Apa yang dikatakannya dalam suratnya mengenai pingitan?
  6. Dalam hal apa Kartini melihat keangkuhan orang Belanda terhadap orang Jawa pada waktu itu?
  7. Mengapa menurut pendapat Kartini orang Belanda tidak mau melihat orang Jawa maju?
  8. Setelah membaca riwayat hidup Kartini dan kutipan surat-suratnya, bagaimana pendapatmu tentang Kartini secara perseorangan?
  9. Apa yang menyebabkan Kartini meninggal dunia?
  10. Umur berapa dia meninggal?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kutipan = quotation penjara = jail
surat = letter senantiasa = always
puteri = princess sempit = narrow
kumpulan = compilation sesak = tight
padat = packed teringat = to be remembered
kesopanan = manner putus asa = given up
merangkak = to crawl menghempaskan = to bang
hendak = wish badan = body
lewat = to pass by bengis = cruel
segera = immediately angkuh = arrogant
lantai = floor berapat = to have a meeting
menundukkan = to bow pangkat = position/rank
meninggalkan = to leave kecakapan = smartness
menegur = to greet pedih = painful
kalimat = sentence beruban = to have grey hair
mengucapkan = to say mentah = unripe
mengiringi = to accompany by membuktikan = to prove
sembah = respect jengkel = annoyed
menuruti = to obey mengiya dan mengamini = to say ‘yes’ and ‘agree’
patuh = obedience cerdas = smart
mengindahkan = to consider sayang sekali = unfortunately
keluhan = complaint meninggal = die
tembok = wall melahirkan = to give birth
tebal = thick mengakhiri = to end
kebiasaan = customs