Once, Batara Guru, the Lord of Gods, was building himself a new palace in heaven. He sent word to all the gods in heaven that each must bring a big stone for the foundation of the palace. Everyone agreed to obey the command except the Snake God.

 

 

 

 

When the Messenger God came to him, the Snake God was sitting sadly and said: “As you can see, I have neither arms nor legs. How could I carry a stone?” As he spoke, three large teardrops rolled down of his cheeks. When the teardrops feel to the ground, they turned into three white eggs. “Take those eggs to the Lord of Gods and tell him exactly what happened,” the Messenger God told the Snake God.

 

 

 

 

So, the Snake God set off for the royal palace holding the three eggs carefully in his mouth. On his way, he met the Great Eagle. “Where are you going, Snake God?” asked the Great Eagle. However the Snake God’s mouth was so full of eggs that he could not answer. The Great Eagle repeated his question twice more and, getting no answer, became very angry. He started pecking the Snake God on the head. This hurt so much that the Snake God gave two loud cries, and each time he opened his mouth one of the eggs fell out.

 

 

As the eggs hit the ground, they broke open and from one egg came a piglet and from another one came a rat. The two are bad because they damage rice in the rice field and hillside terraces.

 

 

The Snake God was sorry he had lost the two eggs, but by good luck one still remained safe in his mouth. He brought this last egg to the Lord of Gods. As he arrived at the palace, he told everything and kneeled: “Forgive me Lord of Gods, I only can give you this egg.” The Lord of Gods ordered him to keep the egg until it hatched and then to bring him whatever came out of it.

 

 

 

 

From day to day, the egg was taken care by the Snake God. Finally, one day, the egg broke open and out of it came a beautiful baby girl. The Snake God hurried to take the baby to the Lords of Gods, who adopted the baby as his own daughter and named her Dewi Sri. She was brought up as a princess in the royal palace with all of the loving care that a daughter of Lord of Gods should have.

 

 

As the years passed, Dewi Sri grew up to be a lovely young lady. She was gentle and kindhearted as she was beautiful, and everyone who knew her loved her. The Lord of Gods himself showed her so much affection that the other gods began to fear he might want to marry her. The law said that no father could marry his daughter, not even if he was a god and she was only his adopted daughter. The gods feared that if this law was broken, the whole kingdom would be ruined. So they met secretly and decided that Dewi Sri must be killed. This decision filled them with sadness, but they thought this was the only way to save the kingdom.

 

 

 

 

Thus, one day, the gods put poison in a piece of Dewi Sri’s favorite fruit and gave it to her. Straight away after she eated the fruit she fell sick. Day by day she grew weaker and weaker, and finally she died. It was just as though the slender stalk of a young flower had gradually wilted and falled to the ground. Dewi Sri’s body was burried with royal ceremony, just beside a beautiful triple-roofed pagoda, and a royal servant was left to guard the grave and to water it daily so that flowers would grow around it.

 

 

 

Later on, from the grave there appeared a strange kind of plant that no one had ever seen before. This was the heavenly plant now called rice. When the Lord of Gods saw this miracle, he told the royal servant to take the rice seeds down to earth and give them to the king of the land called Pajajaran. “Tell the king,” he said, “that the seeds are a gift from me. Let his people plant them and take good care of them including saving them from the piglets and rats, so that no one need ever go hungry again, for rice is the daily staple.”

 

 

The king of Pajajaran was very happy to receive the Batara Guru’s special gift. His people received seeds and planted them both in paddy fields and on hillside terraces. They learned how to harvest the plants and how to ground them. Then a goddess from heaven came down to earth and taught all the young girls how to cook the rice and serve it in many delicious ways. The people of Pajajaran lived in peace and happiness, never lacked of foods.

Konon kabarnya, Batara Guru, raja dari segala dewa, sedang membangun sebuah istana baru di khayangan. Dia mengirim kabar kepada semua dewa di seluruh khayangan bahwa setiap dewa harus membawa sebuah batu besar untuk dasar istana tersebut. Setiap dewa setuju untuk menuruti perintah tersebut kecuali Dewa Ular atau Dewa Anta.

 

 

Ketika Batara Narada menghampirnya, Dewa Anta sedang duduk bersedih hati dan berkata: “Seperti yang terlihat, hamba tidak mempunyai baik tangan maupun kaki. Bagaimana hamba bisa membawa sebuah batu?” Ketika dia berkata itu, tiga butir air matanya menjatuhi pipi-pipinya. Ketika air mata itu jatuh ke bawah, tiba-tiba butir-butir air mata tersebut berubah menjadi tiga butir telur putih. “Bawalah ketiga butir telur itu ke hadapan Batara Guru dan ceritakanlah kepadanya apa yang sebenarnya terjadi.” perintah Batara Narada kepada Dewa Anta.

 

Jadi, Dewa Anta berangkatlah ke istana khayangan dengan mengulum ketiga butir telur dengan sangat hati-hati di dalam mulutnya. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan sang Burung Garuda Agung. “Anda mau pergi ke mana. Dewa Anta?” tanya sang Burung Garuda Agung. Akan tetapi mulut Dewa Anta penuh dengan telur sehingga dia tidak bisa menjawab. Sang Burung Garuda Agung yang mengulang pertanyaannya sampai dua kali lagi tanpa mendapat jawaban menjadi sangat marah. Dia mulai mematuki kepala Dewa Anta. Hal itu sungguh menyakitkan bagi Dewa Anta sehingga dia berteriak menangis dua kali, dan setiap kali dia membuka mulutnya sebutir telur terjatuh.

 

Ketika kedua butir itu jatuh ke bawah, telur-telur itu pecah dan berubah menjadi babi hutan dan tikus sawah. Keduanya adalah perusak karena merusak padi di sawah dan di ladang.

 

Dewa Anta merasa sangat sedih karena dia telah kehilangan dua butir telur, tetapi dia beruntung karena satu masih aman di dalam mulutnya. Dia membawa telur terakhir ke Batara Guru. Sesampainya di istana khayangan, dia menceritakan semua yang terjadi dan bersujud: “Ampun Batara Guru, hamba hanya dapat mempersembahkan satu butir telur ini.” Batara Guru memerintahkan supaya Dewa Anta memelihara telur itu, sampai menetas nanti dan membawa apa yang keluar nantinya kepada Batara Guru!” Dewa Anta membawa kembali telur yang sebutir itu.

 

 

Dari hari ke hari telur itu dipelihara oleh Dewa Anta. Akhirnya, pada suatu hari, telur itupun menetaslah dan di dalam telur itu terbaring seorang bayi perempuan. Dengan segera, Dewa Anta membawa bayi itu ke Batara Guru yang mengambilnya sebagai putrinya dan diberi nama Dewi Sri. Dia dibesarkan seperti seorang putri di istana dengan kasih sayang layaknya Batara Guru berikan kepada putri kandungnya sendiri.

 

Sesudah beberapa tahun lamanya, Dewi Sri tumbuh menjadi seorang wanita muda yang cantik. Dia sangat lembut dan baik hati sehingga dia sangat anggun dan siapa saja yang mengenalnya pasti mencintainya. Batara Guru sendiri menunjukkan kasih sayang yang dalam terhadapnya sehingga para dewa takut kalau dia akan menikahinya. Hukum berkata bahwa dilarang seorang ayah menikahi putrinya sendiri, walaupun dia adalah seorang dewa dan putri itu adalah anak angkatnya. Para dewa takut bahwa hukum tersebut akan dilanggar dan sebagai akibatnya, kerajaan akan hancur. Jadi mereka secara diam-diam bertemu dan memutuskan bahwa Dewi Sri harus dibunuh. Putusan ini membuat mereka semua sedih tetapi mereka berpikir bahwa hanya inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan.

 

Oleh karena itulah, pada suatu hari, para dewa membubuhi racun ke sepotong buah kesayangan Dewi Sri dan memberikan buatt itu kepadanya. Segera setelah dia memakan buah itu, dia jatuh sakit. Makin hari dia makin lemah dan akhirnya meninggal. Hidupnya seperti setangkai bunga indah yang menjadi layu dan akhirnya gugur. Mayat Dewi Sri dikubur dengan upacara kerajaan di samping sebuah pagoda beratapkan tiga lapis dan seorang pembantu kerajaan menjaga kuburannya dan menyiraminya sehingga bunga-bunga kan tumbuh di sekeliling kuburan.

 

Kemudian, dari kuburan tersebut tumbuh sebuah tanaman yang aneh yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tumbuhan khayangan ini sekarang disebut tanaman padi. Melihat peristiwa yang ajaib itu, Batara Guru memerintahkan pembantu kerajaan untuk membawa biji padi turun ke bumi dan memberikannya kepada raja di bumi yang bernama Pajajaran. “Katakan kepada raja,’ katanya, “bahwa biji-biji itu adalah hadiah dari saya. Supaya rakyatnya menanamnya dan memeliharanya termasuk dari serangan babi hutan dan tikus sawah sehingga tak seorang pun yang akan kelaparan lagi, sebab beras adalah makanan sehari-hari.”

 

Sang Raja Pajajaran sangat bahagia menerima hadiah istimewa the God of gods. Rakyatnya menerima biji-biji padi dan menanam biji-biji tersebut baik di sawah maupun di ladang. Mereka belajar bagaimana memanen padi dan menggilingnya. Kemudian seorang dewi turun dari khayangan ke bumi untuk mengajarkan semua gadis muda bagaimana caranya memasak beras dan menghidangkannya dengan banyak cara yang sedap. Penduduk Pajajaran hidup dengan damai dan bahagia, tidak pernah kekurangan makanan.

[Adapted from many versions available on Internet]

Buku apa yang sedang kamu baca itu, Maureen?’ tanya Jack McDonald kepada isterinya.

‘Kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini. Bagus betul buku ini dan padat isinya. Dengarkanlah isi suratnya kepada temannya, Stella, yang menguraikan tentang adat kesopanan keluarganya.

“Menurut adat kesopanan orang Jawa, adikku harus merangkak bila hendak lewat di mukaku. Kalau adikku duduk di kursi, apabila aku lewat, dia harus turun dengan segera dan duduk di lantai dengan menundukkan kepala, sampai aku meninggalkan tempat itu. Kalau dia menegurku, hanya boleh dalam bahasa Kromo saja. Tiap-tiap kalimat yang diucapkan, haruslah diiringi dengan sembah.

Kepada kakakku laki-laki, maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan patuh; tetapi aku dan adik-adikku tidak mengindahkan adat itu lagi.”

Dengarkan pula keluhannya ketika dia dipingit.

“Engkau bertanya apa sebabnya aku dikurung dalam empat tembok tebal. Ini adalah adat kebiasaan untuk gadis Jawa. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman luas, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana pun juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal di sana, tidak pernah boleh keluar tembok, maka sempit dan sesaklah rasanya.

Teringat aku, betapa oleh karena putus asa dan sedih yang tiada terhingga, aku menghempaskan badanku berulang-ulang ke pintu yang selalu tertutup itu dan ke tembok yang bengis itu. Kemana pun juga aku pergi, selalu terhambat juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci.”

Tentang orang-orang Belanda yang angkuh dan gila hormat, dia mengatakan:

“Waktu berapat, pegawai Belanda, betapa pun rendah pangkatnya, berhak duduk di atas kursi, sedang pegawai Jawa di bawah pangkat Bupati, tidak pandang umur, asal-usul, kecakapan, harus duduk di lantai. Sungguh pedih hati melihat seorang Wedana yang sudah tua dan beruban itu, lalu berjalan membongkok-bongkok di hadapan pegawai pemerintah Belanda yang masih mentah, yang baru saja keluar sekolah.

Banyak orang Belanda di sini yang tidak suka melihat orang Jawa yang di bawahnya maju; dan tiap-tiap kali ada orang kulit hitam membuktikan bahwa dia ada juga berotak berperasaan, tiada bedanya dengan orang kulit putih, mereka merasa jengkel.

Sekarang tahulah aku mengapa orang Belanda tiada suka orang Jawa maju. Apabila si Jawa itu telah berpengetahuan, tiadalah ia hendak mengiya dan mengamini saja lagi.”

Memang Kartini seorang wanita yang cerdas. Tetapi sayang sekali dia meninggal ketika melahirkan anaknya yang pertama. Waktu itu dia baru saja berumur 24 tahun”. Kata Maureen mengakhiri ceritanya.

Pertanyaan:

  1. Buku apa yang dibaca Maureen kali ini?
  2. Terangkanlah dengan singkat tentang adat kesopanan di Jawa pada zaman kakak beradik Kartini!
  3. Apakah yang dilakukan Kartini untuk mencoba mengubah adat kesopanan itu dalam keluarganya?
  4. Ketika dia dipingit, apakah sebetulnya yang disebutnya dengan ‘penjara’ itu?
  5. Apa yang dikatakannya dalam suratnya mengenai pingitan?
  6. Dalam hal apa Kartini melihat keangkuhan orang Belanda terhadap orang Jawa pada waktu itu?
  7. Mengapa menurut pendapat Kartini orang Belanda tidak mau melihat orang Jawa maju?
  8. Setelah membaca riwayat hidup Kartini dan kutipan surat-suratnya, bagaimana pendapatmu tentang Kartini secara perseorangan?
  9. Apa yang menyebabkan Kartini meninggal dunia?
  10. Umur berapa dia meninggal?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kutipan = quotation penjara = jail
surat = letter senantiasa = always
puteri = princess sempit = narrow
kumpulan = compilation sesak = tight
padat = packed teringat = to be remembered
kesopanan = manner putus asa = given up
merangkak = to crawl menghempaskan = to bang
hendak = wish badan = body
lewat = to pass by bengis = cruel
segera = immediately angkuh = arrogant
lantai = floor berapat = to have a meeting
menundukkan = to bow pangkat = position/rank
meninggalkan = to leave kecakapan = smartness
menegur = to greet pedih = painful
kalimat = sentence beruban = to have grey hair
mengucapkan = to say mentah = unripe
mengiringi = to accompany by membuktikan = to prove
sembah = respect jengkel = annoyed
menuruti = to obey mengiya dan mengamini = to say ‘yes’ and ‘agree’
patuh = obedience cerdas = smart
mengindahkan = to consider sayang sekali = unfortunately
keluhan = complaint meninggal = die
tembok = wall melahirkan = to give birth
tebal = thick mengakhiri = to end
kebiasaan = customs  

 

‘Mau pergi ke mana kamu Santi? Kamu cantik sekali memakai kain dan kebaya’, kata Maureen kepada Santi.

Memang biasanya sehari-hari Santi lebih suka memakai baju rok, karena lebih bebas untuk bergerak-katanya.

‘Hari ini adalah tanggal 21 April yaitu hari lahir Raden Ajeng Kartini. Saya akan pergi menghadiri upacara peringatan hari lahirnya. Lazim dilakukan oleh wanita Indonesia untuk datang menghadiri upacara dengan memakai pakaian nasional atau pakaian daerah’.

‘Siapa Kartini itu?’ tanya Maureen.

‘Dia seorang pelopor wanita yang memperjuangkan perbaikan hak wanita di Indonesia. Dia lahir pada tahun 1879.

Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang bangsawan, Bupati di Jepara.

Kakeknya, Pangeran Ario Condronegoro, terkenal sebagai seorang yang suka akan kemajuan. Dia mendatangkan seorang guru Belanda, khusus untuk mengajar anak-anaknya.

Pada tahun 1879, di seluruh pulau Jawa dan Madura, hanya ada empat orang Bupati yang pandai menulis, membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Dua orang di antara mereka adalah ayah dan paman Kartini.

Begitulah nyata sekali kelihatan kemajuan keluarga Kartini. Kartini pun diberi kesempatan oleh ayahnya untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak Belanda di sekolah dasar dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Pada zaman itu, pergi ke sekolah, walaupun hanya di seberang jalan, untuk seorang anak perempuan Jawa, adalah sesuatu yang aneh. Keluarganya mendapat celaan dan ejekan dari bupati-bupati lain dan orang-orang yang masih kolot.

Tetapi kebebasan yang diberikan oleh ayahnya juga tidak lama, karena ketika Kartini genap berusia 12 tahun, dia dikeluarkan dari sekolah dan kemudian dipingit sebagaimana yang diharuskan oleh adat Jawa di zaman itu.

Kartini merasa kesepian terpisah dari teman-teman sepergaulannya. Dia masih ingin terus belajar. Dia tidak ingin kurang dari kawan-kawannya anak-anak Eropah dan saudara-saudaranya yang laki-laki yang mendapat kebebasan untuk terus belajar. Dia kesal dan ingin memberontak. Lebih-lebih lagi setelah diketahuinya bahwa dia dipingit hanya untuk menunggu saatnya untuk menjadi Raden Ayu yaitu saat pekawinannya dengan orang yang biasanya belum dikenal. Bahkan barangkali menjadi isteri yang kedua, ketiga atau keempat.

Dia ingin sekali mengubah hak wanita dalam adat kebiasaan Jawa, sedangkan ibu dan kakaknya yang perempuan bepegang teguh kepada adat itu dan sangat mencela cita-cita Kartini. Ini menyebabkan hubungan di dalam keluarganya menjadi tegang.

Ayah Kartini mengerti akan perasaan dan cita-cita anaknya, tetapi sedikit sekali yang dapat diperbuatnya untuk menolong anaknya. Kartini sering duduk sendirian membaca buku. Kesenangannya yang lain adalah berkirim-kiriman surat dalam bahasa Belanda dengan bekas teman sekelasnya dulu, yang telah kembali ke negeri Belanda, dan juga kepada kenalan-kenalannya di pulau Jawa.

Dari isi surat-surat inilah orang mengetahui pribadi Kartini dan cita-citanya. Memang isi surat-suratnya mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan dirinya, tetapi caranya mengolah dan menguraikan persoalan-persoalan betul-betul luas dan mendalam. Selanjutnya, kita harus memahami bahwa perjuangan dalam diri Kartini adalah cermin perjuangan masyarakat Jawa pada umumnya dan kaum wanita pada khususnya.

Begitulah, pada tahun 1911, orang-orang Belanda yang sadar, merasa perlu mengumpulkan surat-surat Kartini dan dijadikan buku.

Kalau tidak salah, saya ada mempunyai terjemahan buku itu dalam bahasa Inggris, berjudul ‘Letters of a Javanese Princess’. Nanti saya pinjamkan ya’, kata Santi.

‘Terima kasih, Santi. Saya ingin sekali membaca buku itu. Sampai nanti.’ kata Maureen.

Pertanyaan:

  1. Apakah sebabnya hari lahir Randen Ajeng Kartini diperingati?
  2. Kapan dia lahir?
  3. Siapa ayahnya?
  4. Ceritakanlah sedikit tentang kakeknya, Pangeran Ario Condronegoro?
  5. Bagaimana reaksi bupati-bupati lain dan orang-orang yang masih kolot tentang Kartini pergi ke sekolah?
  6. Ketika dia dipingit, dia merasa kesepian, kesal dan mau memberontak. Apakah sebabnya?
  7. Apakah sebabnya hubungan di dalam keluarganya menjadi tegang?
  8. Apakah kesenangan Kartini?
  9. Isi surat-surat Kartini mengenai apa?
  10. Tahun berapa surat-surat itu mulai dikumpulkan dan dijadikan buku? Siapa yang mengumpulkannya?

(Kutipan langsung dengan sedikit perubahan dari buku ‘Melawat ke Negara Tetangga’ oleh Yohanni Johns)

Kosa Kata:

kain = cloth memberontak = to rebel
kebaya = blouse as part of Indonesian woman’s national dress menunggu = to wait
baju rok = dress perkawinan = marriage
bebas = free barangkali = possibly
bergerak = to move berpegang teguh = to hold firmly
hari lahir = birthday cita-cita = aspiration
menghadiri = to attend perasaan = feeling
upacara = ceremony menolong = to help
peringatan = commemoration berkirim-kiriman surat = to correspondence
lazim = common bekas = former
pakaian nasional = national dress mengetahui = to know
pakaian daerah = ethnic dress pribadi = personality
pelopor = pioneer kejadian = event
memperjuangkan = to fight mengolah = to discuss
hak = right menguraikan = to explain in detail
bangsawan = nobel persoalan = problem
bupati = regent luas = broad
kesempatan = opportunity mendalam = in depth
aneh = odd memahami = to understand
celaan = criticism cermin = mirror
ejekan = teasing masyarakat = community
kolot = old fashioned sadar = aware
genap = complete/exactly mengumpulkan = to compile
dipingit = to be confined Kalau saya tidak salah, = If I am not mistaken,
adat = tradition meminjamkan = to lend
kesepian = lonely  
terpisah = separated  
kesal = frustrated  

 

Winoto: Kelihatannya Anda sudah amat lelah. Marilah kita beristirahat.

A Southern: Di mana? Kalau ada, di tempat yang teduh ya. Di bawah pohon lebih baik supaya kita dapat terlindung dari panas matahari dan mendapat hawa yang segar.

Winoto: Tadi saya sudah memesan nasi dan ayam panggang. Rumah makan yang ada di sudut jalan itu terkenal dengan ayam panggangnya.

A Southern: Sambil menunggu makanan, silakan bercerita tentang Loro Jonggrang.

Winoto: Pada zaman dahulu, di Prambanan, ada seorang raja yang bernama Raja Baka. Dia mempunyai seorang putri yang cantik sekali, namanya Loro Jonggrang.

A Southern: Artinya si Gadis Langsing atau si Gadis manis. Tetapi, bagaimana cerita selanjutnya?

Winoto: Ada seorang pemuda sakti bernama Raden Bandung. Dia ingin mengawini Loro Jonggrang. Raja Baka tidak suka putrinya kawin dengan pemuda ini. Terjadilah perang antara Raja Baka dan Raden Bandung.

A Southern: Siapa yang menang?

Winoto: Raja Baka dapat dibunuh oleh Raden Bandung. Loro Jonggrang tidak mau kawin dengan orang yang membunuh ayahnya. Dia mau kawin dengan syarat …

A Southern: Saya tahu cerita semacam ini.

Winoto: Syarat yang diajukan oleh Loro Jonggrang adalah dalam satu malam, Raden Bandung harus dapat membuat seribu candi.

A Southern: Seribu candi dalam satu malam? Bagaimana mungkin?

Winoto: Hampir saja Raden Bandung berhasil membuat seribu candi, karena dibantu oleh jin- jin. Tetapi Loro Jonggrang mendapat akal. Dia menyuruh gadis-gadis di desa menumbuk padi dan membuat api di sebelah timur.

A Southern: Untuk apa?

Winoto: Karena mendengar suara orang menumbuk padi dan melihat cahaya merah di sebelah timur, jin-jin mengira bahwa hari sudah siang. Mereka lalu berhenti bekerja dan pergi. Raden Bandung gagal membuat seribu candi, hanya kurang satu saja.

A Southern: Ah, sayang ya … hanya kurang satu.

Winoto: Karena marahnya, Raden Bandung mengutuk Loro Jonggrang menjadi batu. Kerena seolah-olah arca Loro Jonggrang tersenyum mengejek, maka hidungnya dipotong oleh Raden Bandung.

A Southern: Bagaimana akhir ceritanya?

Winoto: Masih ada lagi kutukan Raden Bandung. Karena gadis-gadis membantu Loro Jonggrang, mereka dikutuk tidak akan kawin sebelum mereka menjadi perawan tua.

A Southern: Oh, kasihan gadis-gadis itu. Cerita itu hampir sama dengan cerita Sangkuriang.

Winoto: Benar. Masih ada cerita-cerita lain yang semacam ini. Di Jawa Timur misalnya, cerita asal-usul Gungung Batok.

Jawablah!

Apakah yang Anda ketahui tentang:

  1. Raja Baka?
  2. Seorang pemuda sakti?
  3. Orang yang membunuh ayahnya?
  4. Seribu candi?
  5. Menumbuk padi dan membuat api?
  6. Berhenti bekerja dan pergi?
  7. Hidungnya dipotong oleh Raden Bandung?
  8. Sebelum mereka menjadi perawan tua?

(Kutipan langsung dengan beberapa perubahan dari buku ‘Dari Barat sampai ke Timur’ oleh Soewito Santoso dan Soemarjono)

Kosa Kata:

Kelihatannya = It seems

lelah = tired

teduh = shaded

terlindung = protected

panas matahari = sun heat

hawa = air

segar = fresh

memesan = to order

ayam panggang = roasted chicken

terkenal = famous

sambil = while

menunggu = to wait

raja = king

cantik = pretty

langsing = slim

manis = sweet

mengawini = to marry

pemuda = young man

perang = war

menang = win

membunuh = to kill

tahu = to know

seribu = one thousand

candi = temple

mungkin = possible

berhasil = successful

menumbuk = to pound

padi = rice

api =fire

timur = east

mendengar = to listen

suara = voice/sound

melihat = to see

mengira = to think

mengutuk = to curse

tersenyum = smile

mengejek = to tease

perawan = girl

semacam = alike

A Southern: Sekarang, bagaimana cerita tentang asal-usul Gunung Tangkuban Perahu? Maaf saya menyuruh Anda bercerita terus-menerus.

Amir: Tida apa-apa. Saya suka bercerita. Silakan, kopinya diminum lagi.

A Southern: Terima kasih. Saya sudah minum lebih dari dua cangkir.

Amir: Ada seorang putri yang amat cantik. Namanya Dayang Sumbi. Dia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat nakal.

A Southern: Mungkin ayahnya juga nakal ketika masih anak-anak. Maaf, saya menyela cerita Anda, teruskan.

Amir: Pada suatu hari, karena nakalnya, anak itu dipukul oleh ibunya dengan sebuah sendok nasi sehingga kepalanya luka dan berdarah. Anak itu lalu pergi dari rumahnya, entah ke mana …

A Southern: Kasihan!

Amir: Sebenarnya anak itu pergi bertapa. Bertahun-tahun lamanya dia bertapa, sehingga dia menjadi seorang yang sangat sakti. Kemudian dia berganti nama menjadi Sangkuriang.

A Southern: Apakah nama itu ada artinya?

Amir: Sebentar. Saya selesaikan dulu ceritanya ya.

A Southern: Oh, maaf.

Amir: Pada suatu hari, dia kembali ke kampungnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya, bahkan ibunya sendiri juga tidak mengenalnya. Pada waktu itu, Dayang Sumbi sudah menjadi seorang janda tetapi wajahnya masih tetap cantik. Sangkuriang ingin mengawininya.

A Southern: Oh, menarik sekali. Bagaimana cerita seterusnya?

Amir: Sebelum perkawinan mereka, pada suatu hari Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang. Dilihatnya luka pada kepala Sangkuriang, dan tahulah Dayang Sumbi bahwa sebenarnya Sangkuriang adalah anaknya sendiri.

A Southern: Aduh, sangat mengharukan.

Amir: Untuk membatalkan perkawinan itu, Dayang Sumbi mengajukan sebuah syarat. Syarat itu adalah, dalam satu malam Sangkuriang harus membuat sebuah telaga. Kalau dia tidak dapat membuatnya, perkawinan itu akan dibatalkan.

A Southern: Dapatkah Sangkuriang membuat telaga dalam satu malam?

Amir: Karena Sangkuriang sangat sakti, dan dia dibantu oleh jin, telaga itu hampir saja selesai.

A Southern: Jadi, mereka akan kawin?

Amir: Hampir saja. Ketika Dayang Sumbi tahu bahwa telaga itu hampir jadi, dia minta pertolongan kepada dewa-dewa.

Waktu matahari hampir terbit, Sangkuriang ada di dalam perahunya untuk menjemput Dayang Sumbi. Tiba-tiba, dewa-dewa menghancurkan telaga itu. Perahu Sangkuriang terbalik, lalu menjadi sebuah gunung.

A Southern: Bagaimana dengan Dayang Sumbi?

Amir: Dia juga terjun ke dalam air, lalu tenggelam.

A Southern: Mengharukan sekali akhir ceritanya.

Amir: Menurut cerita, perahu Sangkuriang menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Jawablah!

  1. Siapa nama putri yang cantik itu?
  2. Apa yang Anda ketahui tentang anaknya?
  3. Mengapa anak itu meninggalkan rumah ibunya?
  4. Kapan anak itu kembali ke kampungnya?
  5. Bagaimana Dayang Sumbi tahu bahwa sebenarnya Sangkuriang adalah anaknya sendiri?
  6. Apa akal Dayang Sumbi untuk membatalkan perkawinan itu?
  7. Bagaimana Sangkuriang dapat membuat telaga dalam satu malam?
  8. Siapa yang menolong Dayang Sumbi?
  9. Bagaimana akhir cerita itu?

(Kutipan langsung dengan beberapa perubahan dari buku ‘Dari Barat sampai ke Timur’ oleh Soewito Santoso dan Soemarjono)

Kosa Kata:

asal-usul = origin

menyuruh = to order/to instruct

cangkir = cup

menyela = to interrupt

sendok nasi = rice ladle

bertapa = to meditate become a hermit

sakti = supernatural power

mengenal = to know

janda = widow

wajah = face

menarik = interesting

menyisir = to comb

sebenarnya = actually

mengharukan = touching

membatalkan = to cancel

mengajukan = to propose

syarat = condition

telaga = lake

jin = evil spirit

hampir = almost

pertolongan = help

dewa = god

matahari = sun

terbit = to rise

perahu = boat

menjemput = to pick up/to fetch

tiba-tiba = suddenly

menghancurkan = to destroy

terbalik = capsize

gunung = mountain

terjun = to dive/to plunge

tenggelam = sink/drown

akal = idea

 

“Kenapa kamu pincang?” tanya si Kancil kepada si Kambing.
“Dilempar Pak Boim dengan kayu karena aku masuk ke ladangnya,” jawab si Kambing.
“Jangan sedih!” kata si Kancil. “Aku punya akal agar kamu tidak diganggu pada waktu mencari makanan di sana.”
“Betul, Cil? Ah, kamu memang sahabatku yang baik. Bagaimana caranya?”
“Pakailah pakaian kulit harimau!” Karena kamu disangka harimau, Pak Boim akan lari pontang-panting.”
“Wah, sulit! Bagaimana aku dapat mencari kulit harimau?”
“Mari, ikut aku!” ajak si Kancil.
Pak Kadir kemarin menembak harimau. Kulitnya dijemur di belakang rumah. Dengan segera diambilnya kulit harimau yang dijemur itu.
“Nah, sekarang aku mau pulang,” kata si Kancil.
“Nanti malam kamu boleh ke ladang Pak Boim. Makanlah sepuas-puasnya!”
Malam itu Pak Boim pergi ke ladangnya. Hari terang bulan.
“Ha, apa itu?” pikir Pak Boim. Seekor harimau masuk ke ladang dengan perlahan-lahan. Pak Boim sangat takut, dia hendak berlari. Tetapi, ditetapkannya hatinya. Dia memperhatikan harimau itu.
“Heran,” pikir Pak Boim, “seekor harimau makan tanaman muda? Astaga, harimau bertanduk? Berjanggut pula?”
Sekujur badan Pak Boim gemetar. Dia sangat ketakutan.
Tiba-tiba, harimau itu menoleh ke arah Pak Boim.
Apa yang terjadi?
Harimau itu berpaling, lalu lari pontang-panting.
Melihat itu Pak Boim tidak ketakutan lagi.
Dikejarnya harimau itu, lalu dilemparkan tombaknya ke arah harimau palsu.
Harimau palsu jatuh tersungkur, kemudian berlari tunggang-langgang.

Jawablah!
1. Ceritakan sifat-sifat tokoh cerita binatang di atas!
2. Baikkah perbuatan si Kancil? Jelaskan!

Pada suatu hari, seekor kancil sedang mencari makan di hutan.
Tiba-tiba, muncullah seekor harimau. Harimau itu hendak menerkam si Kancil.
Si Kancil mengetahui kedatangan harimau itu. Si Kancil pun berlari sekencang-kencangnya seperti panah lepas dari busurnya.
Si Kancil berbelok ke kiri, namun sungai besar menghadang di depannya.
Si Kancil melangkah ke tepi sungai. Tiba-tiba, seekor buaya menerkam kakinya.
Si Kancil berkata: “Hei Buaya, panggil dulu teman-temanmu!”
“Hm … baiklah,” jawab buaya.
Si Buaya memanggil teman-temannya. Dia mengira kancil mau menjadi mangsanya. “Hai teman-teman, mari kumpul, ada rezeki!”
Dengan cepat seluruh buaya telah berkumpul dan berbaris lurus sampai ke tepi sungai yang di seberang.

Lalu kata si Kancil: ‘Tunggu, kuhitung dulu.’

Si Kancil melompat ke punggung buaya sambil menghitung satu, dua, tiga dan seterusnya.
Si Kancil sampai pada lompatan terakhir. Dia lalu melompat ke darat. Katanya: “Terima kasih ya, kalian telah menyebrangkanku.”
Harimau tiba di tepi sungai. Dia ingin menyebrang sungai tetapi kakinya diterkam buaya yang lapar. Terjadilah perkelahian yang amat seru antara harimau dan buaya.
Sementara itu, si Kancil menonton harimau dan buaya dari seberang sungai. Pikirnya: “Ha ha ha, rasakan kalian!”
[Kutipan dengan beberapa perubahan dari Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Kelas 1 SD Tahun Pertama, Yudhistira, Jakarta, 2001]

Jawablah:
1. Apa judul cerita binatang yang telah kamu baca itu?
2. Siapa yang sedang mencari makan di hutan?
3. Apa yang dilakukan si Kancil saat melihat harimau?
4. Apa yang dikatakan kancil kepada buaya yang menerkamnya?
5. Apa yang dilakukan kancil setelah buaya berbaris?
6. Apa maksud kancil menyuruh buaya berbaris?
7. Mengapa harimau dan buaya berkelahi?