Bercakap-cakap tentang Perjalanan (Talking about Travel)

A: Saya merasa senang sekali berada di sini. A: I have a great time to be here.
B: Apakah kamu sudah pernah bepergian ke Amerika Serikat? B: Have you ever traveled to the United States?
A: Belum. Apakah kamu sudah pernah? A: No, I haven’t. Have you?
B: Ya. Saya pergi ke sana tahun yang lalu. B: Yes. I went there last year.
A: Apakah kamu menyukainya? A: How did you like it?
B: Saya merasa senang sekali, tetapi saya di sana hanya selama dua minggu. B: I had a great time, but I was only there for two weeks.
A: Kamu pergi ke mana? A: Where did you go?
B. Saya pergi ke rumah adik saya yang laki-laki dan menginap di rumahnya. Dia tinggal di Los Angeles. B. I went to my younger brother’s house and stayed with him. He lives in Los Angeles.
A. Apakah dia bekerja di sana? A. Does he work there?
B: Tidak. Dia seorang mahasiswa. B: No. He is a university student.
B: Dia berkuliah musik di sebuah universitas dalam jurusan musik.
Dia sudah tiga tahun berada di sana.
B: He is studying music in a university at the faculty of music.

He has been there for three years.

A: Apakah kamu pergi ke Kanada juga? A: Did you go to Canada as well?
B: Tidak. Sayang sekali saya tidak mempunyai waktu. B: No. Unfortunately, I didn’t have time.
B: Tetapi tahun depan saya akan ke Kanada.

Paman saya tinggal di Vancouver.

B: But I’m going to Canada next year.

My uncle lives in Vancouver.

A: Kamu beruntung. Kamu sering sekali bepergian.

Saya ingin bisa bepergian seperti kamu.

A: You’re lucky. You travel a lot.

I wish to be able to travel like you.

Bercakap-Cakap Tentang Perbedaan & Persamaan Antara Dua Negara
(Talking about Differences and Similarities Between Two Countries)

A: Negeri ini berbeda sekali dengan negeriku. A: This country is very different than my country.
B: Apakah kamu banyak melihat perbedaannya? B: Do you see a lot of differences?
A: Iya. A: Indeed.
A: Jelaslah bahwa penduduknya lebih sedikit.

Banyak tanah yang kosong.

A: It is obvious that the population is less.

There are plenty of empty land.

A: Penduduk di sini berpakaian berbeda sekali karena udara lebih dingin di sini. A: People here dress quite differently because the weather is colder here.
A: Kami mengenakan pakaian yang lebih tipis dan berwarna-warni. A: We wear clothes that are thin and colourful.
A: Di sini, penduduk lebih menuruti mode. Setiap orang kelihatan berpakaian bagus sekali. A: Here people dress more fashionably. Everyone looks very well dressed.
B. Apakah pakaian mahal harganya di negerimu? B. Is clothing expensive in your country?
A. Tidak, pakaian lebih murah daripada di sini. A. No, it’s cheaper than here.
B: Apakah mudah bagimu berbicara dengan orang? Dapatkah kamu membuat teman dengan mudah? B: Do you find it easy to talk to people? Can you make friends easily?
A: Nah, itu sebuah pertanyaan yang sulit. A: Well, that’s a difficult question.
A: Aku pikir sedikit sulit untuk berkenalan dengan orang di sini. A: I think it is a bit difficult to meet people here.
A: Orang di negeriku ramah-ramah. A: People in my country are friendly.
B: Kalau ada, persamaannya apa? B: If there is, what are the similarities?
A: Orang sama saja di manapun dia berada.

Mereka khawatir akan hal-hal yang sama.

A: People are the same everywhere.

They worry about the same things.

A. Mereka khawatir tentang biaya hidup dan pendidikan anak-anak mereka. A: They worry about the cost of living and about their children’s education.

Bercakap-cakap tentang Hari Besar dan Kebiasaan (Talking about Holidays and Traditions)

A: Besok hari libur di negara saya. Hari libur Tahun Baru Cina. A: It’s a holiday tomorrow in my country. It’s the Chinese New Year.
B: Apakah semua penduduk merayakannya? B: Do all the people celebrate it?
A: Tidak, hanya orang Cina saja. A: No, only the Chinese people.
A: Ada pawai besar dan pada malam hari ada kembang api. A: There’s a big procession, and at night there’s a firework display.
B: Apakah banyak perayaan di sana? Seperti Mother’s Day? B: Are there many festivals in there? Like Mother’s Day?
A: Ya, salah satunya adalah Hari Ibu. Kami merayakannya setiap tahun. A: Yes, one of them is Mother’s Day. We celebrate it every year.
A: Berbeda dengan Hari Ibu di sini, pada hari itu, kami merayakan peranan para ibu yang terlibat dalam keorganisasian wanita untuk memajukan kaumnya. Bukan untuk memanjakan para ibu. A: Different than Mother’s Day in here, on that day, we celebrate the role of mothers who involved in women clubs to empower women. Not to pamper mothers.
A: Hari Kemerdekaan adalah hari besar umum. Semua toko dan sekolah tutup. A: The Independence Day is a public holiday. All the shops and schools are closed.
A: Para prajurit dan para pelajar berbaris sepanjang jalan, dan kami mendengarkan banyak pidato. A: The soldiers and students march through the streets and we have a lot of speeches.
B: Apakah banyak hari libur agama di sana? B: Are there many religious holidays in there?
A: Ya, hari-hari libur agama Islam, Kristen, Budha dan Hindu. A: Yes, Muslim, Christian, Buddhist and Hindus holidays.
A: Minggu depan ada hari libur agama Budha, dan minggu yang lalu ada hari libur Islam. A: Next week we have a Buddhist holiday, and last week there was a Muslim holiday.
B: Apakah kamu berlibur pada hari Natal? B: Do you have a holiday at Christmas?
A: Ya, keluarga saya biasanya berlibur. A: Yes, my family usually do.
B: Apakah kalian memberi hadiah-hadiah kepada teman-teman? B: Do you give friends Christmas presents?
A: Tidak, hal itu bukan kebiasaan di negara saya. A: No, it’s not the tradition in my country.

Bercakap-cakap tentang Olahraga (Talking about Sport)

A: Kamu main olahraga? A: Do you play sport?
B: Ya, saya banyak berolahraga. B: Yes, I play a lot of sport.
A: Olahraga apa yang kamu paling sukai? A: What sport do you like best?
B: Saya paling suka tenis. B: I like tennis best.
B: Saya juga suka olahraga renang. Saya suka pergi berenang di pantai. B: I also like swimming. I like going swimming at the beach.
A: Kamu bisa berski? A: Do you know how to ski?
B: Ya, saya sering berski pada musim dingin. B: Yes, I often go skiing in the winter.
A: Di mana kamu berski? A: Where do you go skiing?
B: Ada sebuah gunung yang tinggi dekat sini. B: There is a big mountain near here.
B: Pada musim dingin, saljunya sangat tebal. Banyak orang main ski di sana. B: In the winter, the snow’s very thick. Lot’s of people go skiing there.
B: Olahraga-olahraga apa yang populer di negerimu? B: What sports are popular in your country?
A: Bulu-tangkis sangat populer. A: Badminton is very popular.
A: Dan anak-anak sekolah suka sepakbola. Semua pelajar berolahraga di sekolah. A: And school-children like football. All students play sports at school.
B: Di negeri ini, kami sering main kriket. Apakah kamu sudah pernah lihat permainan kriket? B: In this country we play a lot of cricket. Have you ever seen a game of cricket?
A: Belum pernah, kami tidak main kriket sama sekali di sana. Tetapi tenis lumayan populer. A: Not yet, we don’t play cricket in there at all. But tennis is quite popular.

main (inf) = bermain

lihat (inf) = melihat

lumayan (inf)quite

Bercakap-cakap tentang Kegemaran (Talking about Hobby)

A: Kamu punya kegemaran? A: Do you have any hobbies?
B: Ya, aku ngumpulin perangko. B: Yes, I collect stamps.
A: Koleksi perangkomu banyak? A: Do you have a big stamp collection?
B: Ya, lumayan banyak. B: Yes, it’s quite big.
B: Aku juga senang dengerin musik. Aku tertarik akan musik jazz. B: I also like to listen to music. I’m interested in jazz.
B: Gimana dengan kamu? Apa kegemaranmu? B: What about you? What are your hobbies?
A: Aku tertarik akan fotografi. A: I am interested in photography.
A: Tapi, aku cuma seorang pemula. Aku belum begitu pandai dalam hal itu. A: But, I’m only a beginner. I’m not very good at it yet.
B: Kamu buat foto-foto berwarna? B: Do you take colour photographs?
A: Belum. Cuma hitam dan putih. A: Not yet. Just black and white.
A: Minggu lalu aku beli sebuah alat pencuci. Aku ingin cuci sendiri foto-fotoku. A: Last week I bought a developer. I want to develop my photos myself.
B: Apakah fotografi sebuah kegemaran yang mahal? B: Is photography an expensive hobby?
A: Tidak, kegemaran ini tidak terlalu mahal. A: No, it’s not very expensive.
A: Tentu saja kita harus beli sebuah kamera terlebih dahulu, dan beberapa kamera mahal harganya. A: Of course you must buy a camera first, and some cameras are expensive.
A: Tapi kita bisa juga dapat kamera yang murah. Beberapa di antaranya amat bagus. A: But you can also get quite cheap ones. Some of them are very good.

ngumpulin (inf) = mengumpulkan – to collect

lumayan banyak (inf)quite a lot

dengerin (inf) = mendengarkan – to listen to

gimana (inf) = bagaimana – how

cuma (inf)only

buat (inf) = membuat

beli (inf) = membeli

cuci (inf) = mencuci

dapat (inf) = mendapatkan

Bercakap-cakap tentang Sekolah (Talking about School)


A: Apakah Anda sudah tamat sekolah? A: Have you finished school?
B: Belum, saya masih bersekolah. B: No, I am still going to school.
A: Anda duduk di kelas berapa di sekolah? A: What year are you sit in at school?
B: Saya duduk di kelas terakhir di sekolah menengah. B: I am in my last year at high school.
B: Tahun depan saya ingin masuk universitas. Saya ingin berkuliah ilmu teknik. B: Next year I want to go to university. I want to study engineering.
B: Negeri ini membutuhkan insinyur-insinyur, dan para insinyur mendapat gaji yang baik. B: This country needs engineers, and engineers get a good salary.
A: Jam berapa sekolah mulai? A: What time does school start?
B: Pelajaran mulai pada jam sembilan pagi. B: Classes begin at nine in the morning.
A: Jam berapa sekolah selesai? A: What time does school finish?
B: Sekolah selesai pada jam setengah empat. B: The school finishes at half past three.
A: Jenis sekolah apa yang Anda masuki? A: What sort of school do you go to?
B: Saya bersekolah di sekolah menengah kejuruan. Saya belajar di sekolah teknik menengah. B: I go to a special high school. I study at a technical high school.
A: Apakah sekolah itu sekolah swasta? A: Is it a private school?
B: Bukan, sekolah itu sekolah negeri. B: No, it is a public school.
A: Mata pelajaran apa yang paling Anda sukai? A: What subject do you like the best?
B: Matematika dan Fisika yang paling saya sukai. B: I like Math and Physics the best.
A: Apakah bahasa asing dipelajari di sekolah Anda? A: Are foreign language taught at your school?
B: Ya. Saya belajar bahasa Indonesia. B: Yes. I am studying Indonesian language.
A: Berapa kali seminggu Anda belajar bahasa Indonesia? A: How many times a week do you study Indonesian?
B: Ada tiga kali kelas bahasa Indonesia setiap minggu dan sekali seminggu ada kelas percakapan. B: There are three times Indonesian class in a week and there is a conversation class once a week.
A: Semoga Anda berhasil ya. A: I hope you succeed.
B: Terima kasih. B: Thank you.

Bercerita tentang Keluarga (Talking about Family)

A: Apakah Anda ingin tahu tentang keluarga saya? A: Do you want to know about my family?
B: Ya, saya ingin tahu. Ceritakanlah! B: Yes, I like to know. Please tell me!
A: Di rumah saya ada ibu dan ayah saya.

Kami tinggal di Noble Park. Rumahnya baru. Ada empat kamar tidur. Dan tamannya cantik juga.

A: In my house, there are my mother and father.

We live in Noble Park. The house is new. It has four bedrooms. And the garden is beautiful too.

B: Apakah kamu mempunyai saudara-saudara? B: Do you have siblings?
A: Ya. Saya mempunyai seorang kakak perempuan. Namanya Marta. Dia sudah pindah. A: Yes. I have an older sister. Her name is Marta. She has moved out.
B: Apakah dia sudah menikah? B: Is she married?
A: Ya, suaminya adalah seorang apoteker. A: Yes, her husband is a chemist.
B: Apakah kakakmu bekerja? B: Does your sister work?
A: Tidak, dia adalah seorang ibu rumah tangga. A: No, she is a housewife.
A: Mereka mempunyai dua anak laki-laki yang bernama Rudy dan Indra. Rudy berumur enam tahun dan Indra berumur empat tahun.

Mereka membeli rumah pada tahun yang lalu.

A: They have to sons named Rudy and Indra. Rudy is six years old and Indra is four years old.

 

They bought a house last year.

B: Wah, hebat sekali. B: Wow, that’s great.
A. Ya, memang. A: Yes, indeed.
B: Apakah kedua orangtuamu bekerja? B: Are both of your parents working?
A. Ya, kedua orangtua saya adalah dokter. Mereka mempunyai klinik sendiri. Akan tetapi mereka hanya bekerja paruh waktu. Mereka senang bepergian ke luar negeri. Pada tahun yang lalu, kami berlibur di Bali. A: Yes, both of my parents are doctors. They have their own clinic. However, they only work part time. They like traveling to overseas. Last year, we had a holiday in Bali.
B: Wah, beruntung sekali! B: Wow, how lucky!
A. Ya, kami menginap di hotel di Kuta. Hotel yang kami inapi sangat bagus. Kami sangat menyukainya. A: Yes, we stayed in a hotel in Kuta. The hotel where we stayed in was very nice. We enjoyed it very much.

Like the wording of the proclamation of the Indonesian independence, every school student in Indonesia learn to recite both the Pancasila and the 1945 Constitution’s preamble.

The wordings of the 1945 Constitution’s preamble in Indonesian language:

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

The English translation of the 1945 Constitution’s preamble:

Whereas independence is a genuine right of all nations and any form of colonialisation should thus be erased from the earth as not in conformity with humanity and justice,

Whereas the struggle of the Indonesian independence movement has reached the blissful point of leading the Indonesian people safely and well before the monumental gate of an independent Indonesian State which shall be free, united, sovereign, just and prosperous,

By the grace of God Almighty and urged by the lofty aspiration to exist as a free nation, now therefore, the people of Indonesia declare herewith their independence,

Pursuant to which, in order to form a government of the State of Indonesia that shall protect the whole people of Indonesia and the entire homeland of Indonesia, and in order to advance general prosperity, to develop the nation’s intellectual life, and to participate in the implementation of a world order based on freedom, lasting peace and social justice, Indonesia’s national independence shall be laid down in a Constitution of the State of Indonesia, which is to be established as the State of the Republic of Indonesia with sovereignty of the people and based on the belief in the Almighty God, on just and civilized humanity, on the unity of Indonesia and on democratic process that is guided by the inspirational wisdom in consultation and representation, so as to realize social justice for all Indonesians.

What is Pancasila?

Pancasila [pronounced pan-cha-see-laa] is the Indonesian state’s philosophy. It is from two old classical words [Sanskrit]: ‘panca’, which is the word for number five and ‘sila’, which means principle.

At the end of World War II, the Indonesian independence movement’s leaders faced with problem of a heterogen population. Not only has different religions, but also different races and ethnicities. They hoped to unite all of these and thousands of scattered islands into a new nation. Sukarno and Hatta who got their educations abroad were familiar with some terms of international politics like nationalism, socialism, monotheism.

However, Sukarno in particular was digging very hard into the many aspects of the Indonesian society and looked for the common grounds from their histories and traditions to find one important thing which can unify the population and become the national principles on which the Indonesian nation would be built.

In June 1945, Sukarno in his speech entitled ‘The Birth of Pancasila’ stated his five principles: nationalism, human rights, concensus, socialism and monotheism. This version was later on refined by a special committee and through a long debating process, the leaders came out with a new version:

  1. A belief in an almighty God (Ketuhanan yang maha esa);
  2. A just and civilised humanity (Kemanusiaan yang adil dan beradab);
  3. The unity of Indonesia (Persatuan Indonesia);
  4. A democratic process guided by inspirational wisdom in consultation and representation (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan); and
  5. Social justice for all Indonesians (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

The Pancasila is symbolically represented in the coat of arms of Indonesia [Garuda=the big Eagle] as seen in official Indonesian documents and government properties. Inside a shield on the eagle’s breast, God is represented by a star, humanity by a circular chain, nationalsm by a bull’s head, democracy through concensus and represtation by a many-trunked banyan tree, and social justice by springs of cotton and wheat.

In term of law, the Pancasila is not only seen as the state’s philosophy but also as the legal source [grund norms]. In the Constitution, although the collective name Pancasila is not mentioned but each principle is written in it’s preamble. It means that Pancasila is the root or basic of every article in the Constitution. As a result, amending the Constitution will be a very difficult exercise because a new article must not conflict with the Pancasila, which since the independence has been seen as something that has an almost supernatural and glorified meaning for the nation.

Once, Batara Guru, the Lord of Gods, was building himself a new palace in heaven. He sent word to all the gods in heaven that each must bring a big stone for the foundation of the palace. Everyone agreed to obey the command except the Snake God.

 

 

 

 

When the Messenger God came to him, the Snake God was sitting sadly and said: “As you can see, I have neither arms nor legs. How could I carry a stone?” As he spoke, three large teardrops rolled down of his cheeks. When the teardrops feel to the ground, they turned into three white eggs. “Take those eggs to the Lord of Gods and tell him exactly what happened,” the Messenger God told the Snake God.

 

 

 

 

So, the Snake God set off for the royal palace holding the three eggs carefully in his mouth. On his way, he met the Great Eagle. “Where are you going, Snake God?” asked the Great Eagle. However the Snake God’s mouth was so full of eggs that he could not answer. The Great Eagle repeated his question twice more and, getting no answer, became very angry. He started pecking the Snake God on the head. This hurt so much that the Snake God gave two loud cries, and each time he opened his mouth one of the eggs fell out.

 

 

As the eggs hit the ground, they broke open and from one egg came a piglet and from another one came a rat. The two are bad because they damage rice in the rice field and hillside terraces.

 

 

The Snake God was sorry he had lost the two eggs, but by good luck one still remained safe in his mouth. He brought this last egg to the Lord of Gods. As he arrived at the palace, he told everything and kneeled: “Forgive me Lord of Gods, I only can give you this egg.” The Lord of Gods ordered him to keep the egg until it hatched and then to bring him whatever came out of it.

 

 

 

 

From day to day, the egg was taken care by the Snake God. Finally, one day, the egg broke open and out of it came a beautiful baby girl. The Snake God hurried to take the baby to the Lords of Gods, who adopted the baby as his own daughter and named her Dewi Sri. She was brought up as a princess in the royal palace with all of the loving care that a daughter of Lord of Gods should have.

 

 

As the years passed, Dewi Sri grew up to be a lovely young lady. She was gentle and kindhearted as she was beautiful, and everyone who knew her loved her. The Lord of Gods himself showed her so much affection that the other gods began to fear he might want to marry her. The law said that no father could marry his daughter, not even if he was a god and she was only his adopted daughter. The gods feared that if this law was broken, the whole kingdom would be ruined. So they met secretly and decided that Dewi Sri must be killed. This decision filled them with sadness, but they thought this was the only way to save the kingdom.

 

 

 

 

Thus, one day, the gods put poison in a piece of Dewi Sri’s favorite fruit and gave it to her. Straight away after she eated the fruit she fell sick. Day by day she grew weaker and weaker, and finally she died. It was just as though the slender stalk of a young flower had gradually wilted and falled to the ground. Dewi Sri’s body was burried with royal ceremony, just beside a beautiful triple-roofed pagoda, and a royal servant was left to guard the grave and to water it daily so that flowers would grow around it.

 

 

 

Later on, from the grave there appeared a strange kind of plant that no one had ever seen before. This was the heavenly plant now called rice. When the Lord of Gods saw this miracle, he told the royal servant to take the rice seeds down to earth and give them to the king of the land called Pajajaran. “Tell the king,” he said, “that the seeds are a gift from me. Let his people plant them and take good care of them including saving them from the piglets and rats, so that no one need ever go hungry again, for rice is the daily staple.”

 

 

The king of Pajajaran was very happy to receive the Batara Guru’s special gift. His people received seeds and planted them both in paddy fields and on hillside terraces. They learned how to harvest the plants and how to ground them. Then a goddess from heaven came down to earth and taught all the young girls how to cook the rice and serve it in many delicious ways. The people of Pajajaran lived in peace and happiness, never lacked of foods.

Konon kabarnya, Batara Guru, raja dari segala dewa, sedang membangun sebuah istana baru di khayangan. Dia mengirim kabar kepada semua dewa di seluruh khayangan bahwa setiap dewa harus membawa sebuah batu besar untuk dasar istana tersebut. Setiap dewa setuju untuk menuruti perintah tersebut kecuali Dewa Ular atau Dewa Anta.

 

 

Ketika Batara Narada menghampirnya, Dewa Anta sedang duduk bersedih hati dan berkata: “Seperti yang terlihat, hamba tidak mempunyai baik tangan maupun kaki. Bagaimana hamba bisa membawa sebuah batu?” Ketika dia berkata itu, tiga butir air matanya menjatuhi pipi-pipinya. Ketika air mata itu jatuh ke bawah, tiba-tiba butir-butir air mata tersebut berubah menjadi tiga butir telur putih. “Bawalah ketiga butir telur itu ke hadapan Batara Guru dan ceritakanlah kepadanya apa yang sebenarnya terjadi.” perintah Batara Narada kepada Dewa Anta.

 

Jadi, Dewa Anta berangkatlah ke istana khayangan dengan mengulum ketiga butir telur dengan sangat hati-hati di dalam mulutnya. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan sang Burung Garuda Agung. “Anda mau pergi ke mana. Dewa Anta?” tanya sang Burung Garuda Agung. Akan tetapi mulut Dewa Anta penuh dengan telur sehingga dia tidak bisa menjawab. Sang Burung Garuda Agung yang mengulang pertanyaannya sampai dua kali lagi tanpa mendapat jawaban menjadi sangat marah. Dia mulai mematuki kepala Dewa Anta. Hal itu sungguh menyakitkan bagi Dewa Anta sehingga dia berteriak menangis dua kali, dan setiap kali dia membuka mulutnya sebutir telur terjatuh.

 

Ketika kedua butir itu jatuh ke bawah, telur-telur itu pecah dan berubah menjadi babi hutan dan tikus sawah. Keduanya adalah perusak karena merusak padi di sawah dan di ladang.

 

Dewa Anta merasa sangat sedih karena dia telah kehilangan dua butir telur, tetapi dia beruntung karena satu masih aman di dalam mulutnya. Dia membawa telur terakhir ke Batara Guru. Sesampainya di istana khayangan, dia menceritakan semua yang terjadi dan bersujud: “Ampun Batara Guru, hamba hanya dapat mempersembahkan satu butir telur ini.” Batara Guru memerintahkan supaya Dewa Anta memelihara telur itu, sampai menetas nanti dan membawa apa yang keluar nantinya kepada Batara Guru!” Dewa Anta membawa kembali telur yang sebutir itu.

 

 

Dari hari ke hari telur itu dipelihara oleh Dewa Anta. Akhirnya, pada suatu hari, telur itupun menetaslah dan di dalam telur itu terbaring seorang bayi perempuan. Dengan segera, Dewa Anta membawa bayi itu ke Batara Guru yang mengambilnya sebagai putrinya dan diberi nama Dewi Sri. Dia dibesarkan seperti seorang putri di istana dengan kasih sayang layaknya Batara Guru berikan kepada putri kandungnya sendiri.

 

Sesudah beberapa tahun lamanya, Dewi Sri tumbuh menjadi seorang wanita muda yang cantik. Dia sangat lembut dan baik hati sehingga dia sangat anggun dan siapa saja yang mengenalnya pasti mencintainya. Batara Guru sendiri menunjukkan kasih sayang yang dalam terhadapnya sehingga para dewa takut kalau dia akan menikahinya. Hukum berkata bahwa dilarang seorang ayah menikahi putrinya sendiri, walaupun dia adalah seorang dewa dan putri itu adalah anak angkatnya. Para dewa takut bahwa hukum tersebut akan dilanggar dan sebagai akibatnya, kerajaan akan hancur. Jadi mereka secara diam-diam bertemu dan memutuskan bahwa Dewi Sri harus dibunuh. Putusan ini membuat mereka semua sedih tetapi mereka berpikir bahwa hanya inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan.

 

Oleh karena itulah, pada suatu hari, para dewa membubuhi racun ke sepotong buah kesayangan Dewi Sri dan memberikan buatt itu kepadanya. Segera setelah dia memakan buah itu, dia jatuh sakit. Makin hari dia makin lemah dan akhirnya meninggal. Hidupnya seperti setangkai bunga indah yang menjadi layu dan akhirnya gugur. Mayat Dewi Sri dikubur dengan upacara kerajaan di samping sebuah pagoda beratapkan tiga lapis dan seorang pembantu kerajaan menjaga kuburannya dan menyiraminya sehingga bunga-bunga kan tumbuh di sekeliling kuburan.

 

Kemudian, dari kuburan tersebut tumbuh sebuah tanaman yang aneh yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tumbuhan khayangan ini sekarang disebut tanaman padi. Melihat peristiwa yang ajaib itu, Batara Guru memerintahkan pembantu kerajaan untuk membawa biji padi turun ke bumi dan memberikannya kepada raja di bumi yang bernama Pajajaran. “Katakan kepada raja,’ katanya, “bahwa biji-biji itu adalah hadiah dari saya. Supaya rakyatnya menanamnya dan memeliharanya termasuk dari serangan babi hutan dan tikus sawah sehingga tak seorang pun yang akan kelaparan lagi, sebab beras adalah makanan sehari-hari.”

 

Sang Raja Pajajaran sangat bahagia menerima hadiah istimewa the God of gods. Rakyatnya menerima biji-biji padi dan menanam biji-biji tersebut baik di sawah maupun di ladang. Mereka belajar bagaimana memanen padi dan menggilingnya. Kemudian seorang dewi turun dari khayangan ke bumi untuk mengajarkan semua gadis muda bagaimana caranya memasak beras dan menghidangkannya dengan banyak cara yang sedap. Penduduk Pajajaran hidup dengan damai dan bahagia, tidak pernah kekurangan makanan.

[Adapted from many versions available on Internet]